Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 26 ~Sesosok Pria Berkharisma Kuat


__ADS_3

Langkahku sedikit tidak yakin melangkah ke dalam rumah, dalam benakku masih terselip pertanyaan,


Mama masih marah tidak ya?


“Assalamualaikum…” Salam terucap dari mulutku.


“Tante Dysssaaa! Tante, aku rindu!” Pekikan bocah menyambutku, dia berlari ke arahku.


“Adelia? Hei, keponakan Tante!” Aku menangkap tubuhnya, memutarkannya di udara. Usianya yang menginjak tujuh tahun membuatnya sungguh berat untuk kugendong.


“Adelia datang kapan?” Menciumi pipinya,


“Tadi jam tiga, Tante.” Walau kuyakin, dia belum paham betul membaca petunjuk waktu.


“Kok belum tidur sih?” Mencubit pipi padat nan kenyalnya.


“Adel menunggu Tante pulang, Adel sangat merindukan Tante.” Jawabnya. Adelia adalah keponakanku yang tertua, anak dari Kak Galih-Kakak pertamaku.


“Ayah dan Bunda mana?”


“Di kamar, Tante. Biar Adel panggilkan ya?” Dia merosot dari gendonganku. Menolak tawarannya pun tidak bisa, dia sudah terlanjur lari ke kemar ayah dan bundanya.


“Ayah, Bunda, Tante Dysa sudah pulang! Ayah! Bunda!” Berteriak sambil menaiki anak tangga. Jelas jika penghuni rumah sudah terlelap di dalam tidurnya, ini sudah pukul sembilan malam waktunya untuk tubuh beristirahat.


“Adel, Adel, biarkan saja. Jangan bangunkan ayah dan bunda, mereka sedang istirahat. Susst… Yuk, Adel ke kamar Tante saja, kita tidur bersama ya? Sudah malam nih.” Ucapku menyusul langkahnya.


“Tapi tadi bunda sama ayah tanya Tante terus.” Adel merengut sedih.


Salahku yang menunda pulang padahal niat mereka ingin membuat kejutan untukku.


Menggandeng anak setinggi dadaku ini, membawanya ke kamarku.


“Adel main di sini saja ya? Jangan keluar dari kamar ini, Tante mau mandi dulu, okey?” Mengacungkan jari kelingkungku, membuat janji padanya. Takut saja bila anak ini kembali berulah membuat kegaduhan dan membangunkan seisi rumah.


“Okey. Tante.” Menautkan kelingkingnya dengan kelingkingku.


Setengah jam aku berjibaku di dalam kamar mandi, mandi air hangat sungguh mendamaikan badan dan pikiran, relaks. Memastikan Adel masih di tempatnya di atas tempat tidurku, ternyata di balik selimut si kodok keropi dia sudah terlelap dalam tidurnya. Aneh saja dengan anak ini, sudah jelas-jelas dirinya pasti lelah karena perjalanan jauhnya, malah masih keluyuran hanya untuk menunggu kepulanganku.


Anak bandel! Mengecup pelipisnya yang sudah dipenuhi keringat.


...***...


Pipiku terasa ditusuk-tusuk.


“Auh, geli..” Sekarang perutku yang seakan ada yang menggelitikinya.


“Tante, bangun. Tante Dysa, bangun. Muah.. muah-muah!”


“Hemmm huah… (Menggerakkan tubuhku) Ah, Adel sudah bangun?” Baru sadar jika aku tidur bersamanya semalam.


“Bangun, Tante.”


“Iya, iya.” Padahal masih pukul lima pagi, okelah dia kuanggap sebagai alarm salat subuhku. Adel ikut salat bersamaku, menggunakan mukena milikku walau kebesaran tidak masalah baginya, terlihat sangat lucu dengan gerakan tambahan di tengah salatnya untuk membenarkan mukena itu.


Berpamit untuk membersihkan diri, sedangkan Adelia bermain ala kadarnya, dia senang menggambar, jadi aku memberikan fasilitas buku gambar dan pena untuk menuangkan kegemarannya. Saat aku kembali, hasil karyanya telas jadi. Gambar cantik, potret pemandangan pedesaan berhasil dilukisnya, sebuah pemandangan alam dengan dua buah gunung dan sederet sawah, sungguh klasik konsep gambar tersebut. Pastilah sang ayah yang mengajarkannya. Bahkan gambar burung yang simple sungguh sama seperti yang Kak Galih ajarkan kepadaku dulu.


“Bagus tidak, Tante?” Dia menjajak pendapatku.


“Hem, bagus. Ini burungnya sangat khas ya?” Menunjuk jenis aves yang sedang mengepakan sayapnya, unik.


“Iya, ayah yang mengajarkan. Ini sawahnya, kata ayah ini pohon cemara namanya. Tante punya crayon?” Anak ini semakin keasyikan yah?


“Ada, tante ambilkan ya.” Bukan crayon yang aku punya, tapi brushpen. Bukan untuk mewarnai sebenarnya, tapi untuk lettering. Entahlah, aku hanya mengoleksinya saja, menggunakannya pun tak begitu lihai.


“Tante, langitnya warna apa?” Kembali ia menoleh padaku.


“Langit? Hem, warna jingga?” Memberi pendapat, sok-sok an memang. Aku saja sangat tidak menyukai pelajaran seni. Aku bisa menggambar, tapi saat gambarku kucoretkan warna maka hasilnya akan berubah. Sungguh, di luar ekspetasilu.


Aku benci pelajaran seni!


“Jingga? Kenapa bukan biru saja?” Sanggah anak itu, sembari aku menyisir rambutnya untuk dikuncir kuda menggunakan karet rambutku.


“Ya sudah, terserah Adel saja ya?”


“Tapi Adel sedang bertanya sama Tante.”


Ya allah, sudah kujawab bukan? Oh my god, apa sih maunya si Adel ini?


“Tante, mau dikasih warna apa langitya?” Lipatan karet dirambutnya sudah mengikat rapi.


“Hem, tante pilih warna biru saja. Biru muda.” Jawabku, padahal Adel kan yang menginginkan warna itu?


“Ohhh, iya! Warna yang bagus, Tante. Adel setuju!”


Nah kan, memang Adel sebenarnya tidak membutuhkan pendapat tantemu ini kan? Dasar bocah! Mengacak poni rambutnya.


Matahari semakin naik, berkas cahayanya menyinari sebagian lukisan Adelia. Aku sadar bahwa mentari pagi telah cerlang dengan cahyanya yang mulai naik dari arah timur sana. Sudah saatnya sarapan, aku mengajak Adel turun.


“Sekarang waktunya sarapan. Yuk turun.”


Sedangkan dibawah sana sudah terlihat kepulan asap dan aroma masakan tercium kuat. Mama dan kakak iparku sedang menyiapkan makan pagi untuk dinikmati keluarga.


“Bunda…”

__ADS_1


“Adel, mandi dulu nak di kamar sana sama ayah.” Ucap sang bundanya, mbak Ella, itulah panggilanku.


Entah apa saja yang menyibukkan kakak iparku itu, celemek putih sudah berwarna pelangi menempel ditubuhnya. Rambutnya yang digelung ke atas, berjalan ke sana-kemari tanpa alas kaki, aku yakin dia belum sempat mandi, ya orang cantik mah nggak perlu mandi sudah tetap cantik ya ‘kan?


Melirik ke arahku di tengah kesibukkannya.


“Dysa! Masya Allah, adik mbak cantik banget! Masya allah, cantiknya! Cetar membahana, sayang. Sini peluk mbak dulu.” Ia melepaskan celemek dari tubuhnya, mencuci tangan, dan menghambur memelukku. Kakak iparku ini memang sangat sayang kepadaku.


Mbak Ella, Dysa rindu banget lho! Semalam, maaf ya Dysa kemalaman pulangnya.” Ucapku di tengah pelukan kami.


“Iya, semalam mbak juga ketiduran. Hari ini libur nggak? Mau jalan-jalan.”


“Nggak libur mbak, Dysa pulangnya sore juga. Dysa nggak bisa ikut jalan-jalannya.” Jawabku.


“Sayang banget, ah. Izin ya? Sehari ini saja, ya?” Aku hanya menggeleng pelan.


“Tidak bisa kalau izinnya mendadak, kan kita bisa jalan-jalan di akhir pekan ini.” Ulasku.


“Nggak bisa, sayang. Kami di sini cuma sebentar, lusa sudah harus kembali.” Sumpah, aku kecewa mendengarnya. Kenapa musti secepat itu sih? Jangan pada merantau deh kalau begitu, please.


“Lah? Kok cepat banget. Nggak bisa! Dysa nggak kasih izin!” Seraya menjejalkan roti isi ke dalam mulutku.


“Ya sudah, makannya kita habiskan waktu bersama hari ini ya?”


“Nggak bisa, mbak. Itu terlalu mendadak. Dysa nanti bisa kena peringatan dari pihak rumah sakit. Nggak bisa ah!” Kukuh aku mengelak untuk cuti barang sehari, tapi aku juga ingin lebih lama mereka di sini. Egois sekali aku ini.


“Dysa mah mana bisa dibujuk, Lla. Dia keras kepala, begitu tabiatnya.” Mama tiba-tiba menimbrung pembicaraan kami.


“Eh Mama, sugeng enjing, Ma.” Mbak Ella menyambut pagi Mama dengan bahasa jawanya. Sama-sama orang Jawa yang fasih berbahasa jawa tidak peduli Jawa timur kah? Jawa Tengah kah? Mereka bisa ngobrol santai dengan bahasanya.


Aku ra peduli!


“Iyo.. Adikmu iki susah tur mbetiter kalau dibilangi. Ra ana sing mempan kalau dikasih wejangan.” Ucap Mama, seakan ada teman yang bisa diajak berbahasa jawa, Mama dengan sedapnya menggunakan bahasa itu.


“Mbetiter apa sih Ma?” Bertanya sungguh-sungguh apa arti dari kata ‘mbetiter’


“Bandel, angel koyo dekmu kuwi Dysa. Bocah sing wis pinter yo mokal, angel dituturi. Mokal sak kabehane pituturing saka wongtuwa. Wis pinter njur gumedhe. Yo koyo Dysa kuwi.” Ucap Mama.


Sumpah, aku mendengarkan kalimat Mama bukan seperti orangtua yang sedang marah pada anaknya tapi seperti seorang sinden di dalam pertunjukkan wayang kulit yang pernah aku tonton saat kecil dulu.


“Dikandani yo crengas-crenges. Pancene tan unggah-ungguhe ki bocah siji.” Ucap Mama lagi, semakin tergelak isi perutku mendengar mama yang fasih bicara dalam bahasa jawa. Sungguh, berbeda dengan nada bicara mama di hari-hari biasanya.


Au ah, penjelasan Mama malah tambah bikin mubeng otakku. Inginnya aku berujar demikan tapi tidak sopan. Ya sudahlah diam dan dengarkan saja. Bertingkahlah seperti puteri keraton yang penurut dan bersembah sujud dengan tuturkata orangtuanya.


“Njih, Ma. Dysa masih muda. Masih labil, tapi kalau sudah dewasa sedikit lagi lagi Dysa pasti akan mengerti kok, Ma.” Mbak Ella.


“ Mama hanya takut dia menyesal nantinya.” Ujar Mama.


“Kemarin saja dia bertindak semaunya, memutuskaan hubungan tanpa memberi tahukan dulu pada mama dan papa. Apa itu bukan kurang ajar namanya?” Mama kembali tersulut emosi.


“Sudahlah jangan ingatkan mama. Lupakan saja Dysa.”


Iya, itulah yang Dysa harapkan dari Mama. Sudah ya ma, lupakan.


Papa datang dan turut serta memakan menu sarapan. Menuangkan susu ke gelasnya seraya bertanya,


“Ada apa ini? Pagi-pagi sudah ribut.”


“Tidak ada apa-apa, Pa. silakan Papa, makan sarapannya dulu.” Mbak Ella, Papa hanya tersenyum pada menantunya itu.


“Dysa, lusa ada perayaan hari gizi. Kamu mau ya mengisi acara itu?” Papa berkata demikian.


“Hah? Dysa jadi pengisi materi tentang gizi, begitu? Tapi, siapa saja audiensnya, Pa?” Kemudian jejal-jejal sandwich ke dalam mulutku.


“Ya, anak-anak dan pihak sekolah. Ada beberapa wali siswa juga.” Jawab Papa.


“Dysa mau, tapi Dysa tidak janji ya? Soalnya--”


“Dysa nggak bisa izin mendadak,” Mama melanjutkan ucapanku.


“Hehehe… Tapi Dysa usahakan datang kok, Pa.” Ya, sekadar membuat binar hati papa. Setidaknya aku punya harapan untuk bisa mengambil cuti sehari itu saja.


Di tengah perbincangan, kulihat dari anak tangga rumah sesosok orang yang tidak asing di mataku. Berjalan seorang pria tampan nan rupawan. Sepagi ini sudah terlihat segar dipandang mata, menggunakan stelan kemeja warna mocca dan celana hitam, rambut yang disisir rapi. Dan bahkan sepagi ini dia sudah menggunakan sepatu hitam yang mengkilap. Digandengnya seorang anak kecil setinggi perutnya, berjalan pelan dan mendekat. Sangat berkharisma sosok ayah muda itu, dialah kakak pertamaku.


Kak Galih datang bersama dengan Adel yang berlari ke meja makan.


“Halo, nenek! Kakek! Bunda! Tante! Muah.. muah.. muah…muah.” Satu persatu anggota keluarga disapanya dan mendapat satu kecupan pada pipinya.


“Selamat pagi Adel.” Sapa semua anggota keluarga.


“Kak?” Aku bangkit dan menghampiri kakak pertamaku. Mencium tangannya kemudian memeluknya. Tergambar jelas potret keluargaku yang harmonis dan rukun sejahtera.


Nikmat Tuhan mana yang kau dustakan, Dysa?


“Semakin berisi saja ya?” Tanggapannya saat memelukku.


“Ah, kak Galih.” Memukul punggungnya.


“Hahaha, iya iya. Adik bungsuku yang manja. Kakak rindu sama kamu, lho.” Mengecup puncak kepalaku.


“Dysa juga sama. Kakak pikir Dysa nggak rindu apa? Lama banget pulangnya!” Mendusal ke bagian ternyaman pada pelukan kakak yang lama aku nantikan kedatangannya.


Menikmati kebersamaan di meja makan, rindu dengan suasana seperti ini. Mengingat dulu-dulu saat masih lengkap bersama dan akulah si bungsu yang manja dan cengeng pada kakak-kakaknya.

__ADS_1


“Kak Bisma kapan pulang?” Tanyaku.


“Entah, kakak ajak pulang bareng kemarin katanya belum bisa. Masih sibuk dengan proyek kerjanya.” Jawab Kak Galih. Sedangkan kak Bisma adalah nama kakak keduaku.


“Ayah, Adel mau main di taman bermain itu.” Ucap Adel setelah meneguk tetesan terakhir susunya.


“Dimana?” Papa bertanya.


“Di sana Kakek. Yang kata ayah lampunya akan menyala warna-warni kalau malam.” Entahlah, bocah itu menunjuk ke sembarang arah.


“Itu Pa, di taman kota. Kemarin kami lihat sepertinya ada festival pasar malam atau apa ya? Cuma kan waktu kami lewat belum buka soalnya sore-sore, tapi sudah ramai penjual sih.” Kak Galih menjelaskan.


“Ouhh.. Ya mungkin pasar malam. Kalau gitu berarti malam dong adanya.” Ucap Mama.


“Adel mau kesana.” Bocah itu merajuk tuntut. Tidak ada habisnya jika anak kecil sudah merengek minta.


“Hem, Ma, Pa, Kak. Dysa harus berangkat sekarang ya.”


“Yuk, kakak kantar. Adel ikut?” Kak Galih sudah beranjak dari kursinya, alih-alih mengajak putri semata wayangnya supaya tidak terlalu rewel dan si kecil itu mengangguk mau.


“Oke deh, yuk.” Meraih tangan si kecil Adel.


Kebetulan juga mobilku belum diservis ‘kan?


Mencium tangan Mama dan Papa,


“Mbak, Dysa berangkat dulu ya diantar suami mbak.” Teriakku pada mbak Ella yang masih sibuk di dapur.


“Iya, hati-hati ya..” Sautnya.


Adel duduk di pangkuanku pada jok depan. Anak itu kegirangan melihat jalannan kota yang tampak asing di matanya, ada kemacetan dimana-mana. Gerah, suntuk, bosan, menggugurkan semangat pagi bagi orang yang tidak terbiasa dengan suasana jalanan kota super padat ini.


“Yah, Adel tertidur.” Ku usap kepalanya.


“Bagaimana pekerjaannya?” Kak Galih bertanya di tengah-tengah kemacetan kota.


“Dysa suka, bahagia juga.” Jawabku secepat petir menyambar.


“Syukurlah, senang jadi bu dokter ya?” Ya, aku sangat senang, Kak. Jangan tanyakan lagi.


“Kakak juga senang kan ya jadi bos pabrik karpet?” Mana ada seorang bos yang tidak senang, hah?


“Hahaha, iya benar juga.” Jawabnya. Tanpa menjawab pun aku sudah tahu kalau Kakakku ini bahagia luar dalam.


“Bagaimana keseharian di sana? Berhadapan dengan para pasien?”


“Hahaha, iya gimana? Dysa sudah bahagia, terlanjur nyaman harus bagaimana lagi? Oh ya, Kak! Ada juga lho yang memanggilku dengan sapaan Bunda dokter lho Kak.” Ya, salah satu alasan yang membuatku bahagia dengan profesiku.


“Hah? Bunda? Kayak bunda Ella aja.” Guraunya kakakku ini.


“Nanti lama-lama ada yang panggil bundadari juga bagaimana?” Lanjutnya.


“Ih, apaan coba. Memangnya Dysa sudah pantas dipanggil bunda-bunda ya?” Secara, mama saja masih mengomentari penampilanku yang masih seperti anak SMA dan aku tidak pernah mengubah tampilanku walau Mama melarangnya.


“Sudah, cepatlah menikah. Nanti bisa dipanggil bunda sama anak sendiri, lho.”


“Lho? Kak Galih mah gitu.” Cemberut.


“Kalau bahas nikah kok malah cemberut sih? Menikah itu bahagia lho.” Tuturnya.


“Dysa masih banyak tanggungan hidup. Sebentar lagi juga Dysa bakalan nikah kok.” Sebentar lagi? Hahaha, ucapan apa itu?


“Memang pasangannya sudah ada?”


Hei, mengejekku kau ya Kak?


“Hemmm, mungkin.”


“Kakak punya kenalan lho Dys. Tapi sekarang dia sudah menikah,” ada gurat penyesalan di wajahnya.


“Siapa?” Kali aja ganteng, ya kan? Batinku meronta.


“Tapi duda, ya kakak pikir-pikir lagi sih. Cuma ya itu, dia seorang bos muda, tampan luar biasa. Ehhh, kemarin ada kabar kalau dia sudah menikah.” Cerita kakakku itu.


“Oh, ya udah. Berarti bukan jodoh Dysa. Setampan apa pun cowonya, Dysa nggak mau jadi pelakor, no way!” Tegasku.


“Hahaha, iya benar.”


Tanpa terasa, sampai juga di depan gerbang tempat kerjaku.


“Eh, sudah kak. Di sini saja, thanks ya. Bagaimana nih Adelnya? Tidurnya pulas banget sih kesayangan tante.” Mencoba memindahkan tubuhnya dari pangkuanku.


“Sudah, tinggalkan saja. Biar kakak yang membenarkan.” Posisi Adel masih miring dikursinya.


Mencium tangan kakak lelakiku itu, lantas berpamit masuk.


Nb.


*Sugeng Enjing \= Selamat pagi


*Adikmu iki susah tur mbetiter kalau dibilangi. Ra ana sing mempan kalau dikasih wejangan.(Adik kamu ini susah sekali kalau diberi masukkan. Tidak ada yang mau dia dengar kalau diberi nasihat)


*Bandel, angel koyo dekmu kuwi Dysa. Bocah sing wis pinter yo mokal, angel dituturi. Mokal sak kabehane pituturing saka wongtuwa. Wis pinter njur gumedhe. Yo koyo Dysa kuwi. (Bandel, susah seperti dirimu itu, Dysa. Anak kalau sudah pintar dia akan membantah kalau dinasihati. Membantah semua nasihat-nasihat dari orangtuanya. Sudah pintar lantas merasa sok pintar. Ya seperti Dysa itu).

__ADS_1


*Dikandani yo crengas-crenges. Pancene tan unggah-ungguhe ki bocah siji. (Dibilangin ya senyam-senyum ’nggak jelas’. Memang sudah tidak punya tatakrama anak yang satu ini)


__ADS_2