Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 32 ~Menuju Akhir


__ADS_3

Mengalah untuk menyempatkan waktu bertemu secara tatap muka dengan doi kesayangan. Si pria super sabar dan tahan menghadapiku, Mas Dika.


Di tempat yang cukup luas, dimana di dalamnya tersebar benda pipih persegi berkaki, kokoh berdiri setinggi pinggang orang dewasa, dengan gubahan benda berbahan kayu berjumlah empat yang saling berhadapan.


Estetik, cahaya alami yang tertembus dari pantulan paparan luas benda bening yang dapat mengekspos view jalanan kota ini. Memandangi sesaknya jalan raya di bawah sana, tidak lelah aku menghadap ke bawah. Tenang, nyaman, sembari menunggu dia datang.


"Ekhem!"


"Ekhem... Ekhem..."


"Ukhukk! Ukhuk... Ukhuk ukhuk ukhuk!!"


Lagi flu kali ya tuh orang? Membatin saja.


"Hei." Aku menoleh.


"Haah! Bang Andre?"


"Kok aku baru sadar kamu di sini." Lanjutku.


"Dari tadi, udah dikode-kodein juga. Tetep aja nggak noleh." Ujarnya sebal.


"Ih, mana kutahu kalau yang batuk kode-kodean itu kamu. Tumben ke sini, Bang?" Bang Andre tetap diam dalam berdirinya.


"Duduk, Bang. Mau sampai kapan berdiri terus?"


"Lah kamu nggak memersilakan aku duduk." Cibirnya begitu.


"Ya sudah. Silakan duduk, Bang. Kamu selalu aja ngajak berantem. Gebuk-gebukkan? Yuk lah, dasar ngambekkan." Desisku.


Malu saja rasanya, masa iya sih dia nggak mikir kalau ini tempat umum. Kanan dan kiri semuanya pengunjung. Bisa-bisanya dia bertingkah sedemikian rupa.


"Duduk!" Dia menurut setelah aku memasang wajah termasam.


Huh, kasian urat wajahku. Bisa-bisa nanti melorot, terbiasa buat senyum ini malah buat cemberut.


"Mau pesan makan apa?" Tanyaku membolak-balikkan buku menu. Masih suasana tegang nan suram.


"Steak."


"Well done." Lanjutnya.


"Minum?" Tanyaku dengan mode cuek plus bebek.


Segera aku menyampaikan pesanan kami sesaat waitress datang. Memandang orang duduk dengan bersedekap dada di depanku ini. Aneh, setiap kali bertemu tatap ia akan menolehkan wajahnya seakan jijik melihatku. Persis seperti anak kecil yang tidak mau disuntik dan benci kepada para dokter.


Kok ada ya, manusia dewasa yang baperan macam dia?


Bila yang kuhadapi seorang anak kecil, mungkin tidak akan jadi masalah. Sebenci apa anak itu denganku, nyatanya mereka terlihat menggemaskan saat bermain mata menunjukkan ekspresi tidak suka.


Tapi,


sosok yang kini sedang merajuk bukanlah si kecil para pasienku. Dia rekan kerjaku, usianya jauh di atasku, tubuhnya kekar, dan menggambarkan tipikal pria dewasa yang perkasa. Tapi, tidak dengan wajahnya. Sungguh, bertolak belakang dengan penampilannya.


Tidak ada malunya untuknya memasang wajah cemberut di hadapan umum. Padahal saat pertama bertemu, dia tidak seperti ini. Ia sosok yang aku kagumi dan andalkan setiap aku memerlukan bantuan.

__ADS_1


Apa iya? Beberapa tahun berlalu, sikapnya jadi berubah seperti itu? Apa dia punya beban mental? Atau seorang bipolar? Hanya bisa menggelengkan kepala atas kelakuannya. Tak habis pikir!


"Silakan dinikmati, Tuan, Nyonya."


"Terima kasih."


Menikmati makanan dengan tenang dan diam, tak terdengar suara apapun sekarang. Keadaan seperti ini membuatku jadi serba tidak enak, untuk menelan air saja sangat berhati-hati. Malu jika terdengar gelakan air mengalir di tenggorokanku.


"Bang dokter, kenapa sih kamu jadi sering ngambek? Aku salah apa sebenarnya? Kalau ada salah, kasih maaf lah Bang. Nggak usah dibuat baper. Tiap kita bertemu, kamu malah kayak ngajak berantem, kan aku yang jadi rugi sendiri kalau pipi ini kendur nanti." Memulai pembicaraan.


"Hem."


Edan! Hem, doang?


"Hem apa sih artinya?"


"Aku jadi nggak enak aja kalau kayak gini, dulu kan Abang yang bisa aku andalin. Cuma kamu yang bisa diajak diskusi sana-sini, sekarang kok malah kayak nggak kenal gini? Aku jadi ngerasa nggak punya teman, deh."


"Hem..." Agak panjang 'hem'nya.


"Hem sekali lagi, gue gergaji nih?" Todongan garpu tepat beberapa senti di depan wajahnya. Kalau aja yang aku pegang ini pisau steak sama sepertinya, aku kuiris nadi di tangannya itu.


Cetar!!!


Alat makan yang sedang ia genggam dihentakan di bagian sisi-sisi piringnya.


"Kenapa?" Mulutku terlampau bertanya tanpa dosa.


"Kamu tahu kan kalau kita sedang makan? Apa pernah aku bicara saat sedang makan?" Mulutnya berucap tapi matanya tidak menatap.


Benarkah dia Bang Andre yang aku kenal dulu?


"Huftt."


"Aku minta maaf juga. Sedang tidak ingin bergurau saja." Ujarnya.


"Iya, saya mengerti." Ujarku, ia langsung memanggil pelayan dengan satu tangannya. Pelayan datang membawa serta tagihan yang ia minta.


"Baiklah, aku pergi dulu." Ucapnya setelah meminta bill dan membayarnya.


"Mungkin menjadi jauh seperti ini akan membuatmu lebih nyaman. Jika itu maumu, Pak dokter." Ucapku sebelum ia melangkah pergi. Setelah membuat aku malu setengah mati dan berkali-kali, sekarang mau pergi?


"Aku hanya tidak suka dengan pacarmu itu. Tidak lihatkah dia sedang membohongimu?"


Mataku membelalak,


"Apa? A.. apa... Apa maksudmu? Pacarku yang mana?" Turn on mode elak.


"Bahkan, sekarang dia ada di belakangmu."


Sontak aku menoleh ke belakang, tepat di sana berdiri sesosok pria berkemeja putih dengan jas yang dislempangkan di tangan kirinya. Menatapku dengan tatapan aneh, seolah aku tidak tahu arti tatapannya itu. Datar, hampir tanpa ekspresi.


"Mas Dika?" Mas Dika tersenyum simpul dan mendekat ke arahku.


Berdiri di samping mejaku,

__ADS_1


"Maaf, bukan maksudku."


"Ada yang harus kita bicarakan." Ucap Mas Dika.


Bang Andre tahu arti ucapan Mas Dika, sebuah kalimat pengusir yang halus. Bang Andre berdiri dari duduknya, "Baiklah. Dokter Dysa, saya pergi dulu. Permisi."


"Hem (Aku mengangguk). Terima kasih Bang Andre." Ia hanya mengangguk lalu pergi.


"Mas, maaf tapi tadi itu."


"Lupakan, maaf membuatmu menunggu lama." Sela Mas Dika.


Ya, aku bahkan lupa jika tujuanku datang kemari karena kamu. Aku bahkan sudah menghabiskan seporsi pasta, dan mengobrol lama dengan orang lain. Maaf, aku benar-benar lupa.


"Sudah makan?" Tanya Mas Dika padaku. Bukan firasat lagi, tapi jelas dia melihat piring dan gelas makan kosong teronggok di meja.


"S..sudah."


"Tidak masalah, temani aku makan dulu yuk." Aku mengangguk. Tapi, kenapa dia sendiri tidak duduk? Tangannya malah terulur.


"Kemana?"


"Bukan di sini. Di tempat lain ya? Sekalian kita bicara." Supel dan dewasa, itulah mas Dika.


Aku tahu, mungkin dia tidak mau makan di tempat yang sama setelah melihat aku makan dengan pria lain sebelumnya.


Membawaku ke tempat yang tidak asing, de javu. Aku pernah ke sini, tapi kapan?


"Sepertinya aku pernah ke sini." Ucapku saat melihat bangku panjang berwarna-warni di samping sungai di belakangnya.


"Benarkah? Bersama siapa?"


"Lupa, kapan dan dengan siapa aku pernah ke sini." Tempatnya unik, jembatan warna-warni dan terdapat semacam kafe di seberangnya. Kolam ikan dengan air mancur di tengahnya, hutan jati yang lebat di belakangnya. Banyak kursi-kursi kayu dan taman mainan anak-anak. Bahkan, ada spot-spot cantik yang mungkin diperuntukkan khusus untuk berfoto. Memang ini akhir pekan, namun tempat ini tidak terlalu ramai.


"Yang jelas bukan bersamaku karena ini kali pertama aku mengajakmu kemari." Ujarnya, lalu menarikkan kursi untukku duduk.


"Dan tempat ini baru sebulan yang lalu dibuka." Cuapnya memberi tahu.


"Oh ya? Aku seperti de javu saja. Mungkin pernah, tapi bukan di tempat ini."


Menemaninya memakan jenis kuliner di tempat itu, kuliner yang seratus persen akan disukai oleh kaum remaja yang kasmaran atau ngedate di akhir pekan seperti ini. Namun, di dalam kafe ini cukup sepi, berbeda dengan spot-spo foto di luaran sana. Banyak anak-anak, remaja, hingga orang dewasa berfoto dan swafoto di sana. Dengan berjuta gaya, merek ingin mengabadikan diri mumpung di tempat ini.


"Dysa?"


"Hemm, iya?" Pandangku teralih pada suara yang memanggilku. Kulihat senyuman tulus nan manis dan indah tersimpul di wajahnya, senyumnya membuat lawan bicara akan langsung merespons sama. Kau pernah lihat senyuman yang menyejukkan hati? Atau rembulan yang bulat sempurna di gelapnya langit malam? Atau mega senja di ufuk barat sana? Tentram dan tenang, seperti itulah gambarannya.


"Manis banget senyumnya." Sadar atau tidak aku berucap itu. Namun, setelah itu ia menarik kembali senyumannya.


"Yah, kok ditarik?" Begitu senyuman itu ditarik olehnya, semburat senyumku ikut terenggut bersamanya.


Mas Dika menunduk, mengepalkan jari-jarinya yang berada di meja.


"Kenapa?" Tanyaku


"Dysa, maaf jika ini akan menyakitimu." Ucapnya terdengar penuh keseriusan.

__ADS_1


__ADS_2