
"Dulu kita sering bersama dan rasanya biasa saja. Tapi, kenapa aku merasa berbeda sekarang?" Aku mengambil ranting kayu yang jatuh dari pohon dekat pantai. Menuliskan namanya di atas pasir. Hanya menulis namany saja membuat hatiku deg-degan di luar batas wajar.
"Karena cinta itu datang di waktu yang tepat, kamu percaya?" Ujar dokter Andre padaku yang sedang menggambar bentuk cinta yang besar memutari namaku dan namanya yang kubuat di atas pasir pantai.
Menikmati suasana sore di pantai memang membawa kesan tersendiri. Deburan suara ombak dan sapuan air laut yang menyentuh kakiku membawa kedamaian dalam jiwa.
Dokter Andre membawaku ke pantai sore ini, kapan lagi kita bisa bersama jika besok dia sudah harua bekerja.
"Tempat apa yang paling sukai?"
Aku berpikir sejenak, "Cafe?" Dia menerka.
"Hem, tidak selalu." Jawabku.
"Hotel?"
"Hem, bisa jadi." Jawabku.
"Tapi kan kita baru keluar dari hotel, yang lain?" Katanya.
"Apa ya?"
"Mall? Kebun binatang? Pemandangan?" Ia memberi banyak pilihan sekaligus.
"Pemandangan, aku suka pantai." Ujarku.
"Okey, ayo kita ke pantai."
Dan akhirnya kita berada di sini. Memainkan kerang-kerang yang terkubur pasir di pantai. Aku juga membeli topi pantai berwarna pink di pedagang asongan yang berkeliling pantai ini.
"Wah, ada penyu kecil!" Hebohku saat melihat penyu kecil berlari dengan langkah kecilnua.
Aku mengangkat hewan kecil itu dan meletakkanya di telapak tangannku, dia masih sangat kecil dan rapuh.
"Sepertinya kamu baru menetas ya?" Kuusap-ucap kepalanya yang bergerak memendek dan memanjang.
"Sudah lima jam kita di sini, apa belum bosan?" Suara dokter Andre berada di belakangku. Benar, dia yang sedang berdiri tidak jauh di belakangku. Dia setia menemaniku sejak siang tadi tanpa alas kaki dan menggunakan kaos oblong yang di beli di pinggi jalan demi menikmati keindahan pantai ini.
Aku menggeleng, "belum. Tunggulah sampai sunset ya?" Pintaku yang dijawab dengan gelengan pelan penuh keheranan.
Kini ia mendekat, berjongkok bersamaku.
"Mataharinya masih di atas, butuh waktu 2 sampai 3 jam lagi untuk menunggu sunset datang."
"Ya tunggu waktu itu tibalah." Jawabku.
"Kakimu bahkan sudah pucat karena air laut." Aku melihat ke bawah, kakiku yang tanpa alas kaki kubiarkan terkena sapuan ombak berulang kali.
"Nggak papa, aman."
"Tapi kamu belum makan." Ujarnya cepat.
"Aku tidak lapar." jawabku singkat.
"Huft. Maksudku, aku yang lapar." Dia mendengus.
"Ya sudah mas beli makan dulu saja, aku nanti." Aku meresponsnya dengan gampang. Laper ya makan ta? Kenapa mesti nunggu aku?
Namun, dia tak berkutik. Menatapku dengan tatapan yang aneh.
Tatapannya menelisik, lalu bertanya. "Apa tadi kamu bilang?"
"Apa? Kalau lapar ya makan aja sana."
Kini dia menaikkan alisnya, "Mas?"
Hah? Maksudnya? "Mas? Emas apa?"
"Tadi kamu mengatakan, 'Ya sudah mas beli makan dulu saja, aku nanti.' Mas?"
Oh Tuhanku, aku terlupa. Biasanya aku ke pantai dengan Mas Dika. Dia yang sering mengajakku ke pantai ini.
__ADS_1
"Oh, ya maaf. Aku terlupa."
"Tapi aku suka panggilan itu? Seperti sepasang suami istri." Tanggapannya.
"Itu panggilanku ke mantanku, dok." Terangku padanya. Dia berubah ekspresi, dalam sekejap senyuman itu bisa musnah dan berganti wajah murungnya.
Dokter Andre mengelus kepala anak penyu di tanganku, lalu dia beranjak dan berlalu meninggalkanku. "Apa dia marah? Ada-ada saja, lagi pula mas dika kan udah berkeluarga. Apa dia cemburu?" Aneh, gumamku dalam hati.
"Mas! Eh, dok! Tunggu." Kenapa sih ni mulut mas mas mulu, sebel deh!
Aku berlari mengejarnya, meski langkahnya tidak cepat tepi jarak langkanya lebar.
"Dokter, tunggu!" Barulah dia menoleh,
Dengan terpogoh-pogoh aku berlari seraya menangkupkan kedua telapak tanganku yang berisi anak penyu ini.
Dia mengangkat dagunya, bertanya ada apa?
"boleh nggak aku bawa penyunya pulang?" Kubuka tangkupan tanganku dan memperlihatkan anak penyu yang lucu dengan kepala yang muncul dan tenggelam itu.
"Jangan, tidak boleh asal membawa apapun. Pamali." Ujarnya.
"Oh, ya sudah." Aku membawa lari lagi penyu itu ke tepian pantai. Membiarkan anak penyu itu terbawa arus ombak. Dan dalam hitungan detik, penyu itu lenyak dibawa ombak.
Aku berjalan ke arah dokter Andre yang ternyata masih berada di tempat itu, berdiri menungguku. Ku raih lengannya untukku rangkul.
"Yuk, katanya mau makan?" Aku mengajaknya. Menyandarkan kepalaku pas lengan kanannya.
Dia menoleh ke samping dan menunduk menatapku, ia bertanya. "Kita mau makan apa?"
"Ikan bakar mau?" Aku memberikan solusi.
"Hm, boleh."
"OK, aku tahu dimana tempatnya. Dijamin enak buangeeeeet deh." Kutarik lengannya supaya berlari bersamaku menuju ke satu tempat makan ikan bakar langganannku dulu.
"Nasi merah bumbu rempah, ikan gurame bakar, tuna goreng, aneka seefood asam manis. Oh ya, cah kangkung sama es kelapa mudanya belum." Aku mengabsen satu persatu pesanan kami.
Sudah lengkap, kami duduk melantai di tepian pantai yang hanya beralaskan tikar.
Nasiku telah habis, kini kusesap air kelapa muda langsung dari buahnya. "Enak kan?" Tanyaku.
Daripada aku yang notabene seorang perempuan yang sarat akan kelemah lembutan, ternyata caraku makan lebih cepat timbang orang di depanku ini. Entah aku yang kelaparan atau dia yang terlalu santai menikmati makanannya? Nasinya pun masih setengah, mungkin jiwa kami terbalik.
Untuk menjawab saja harus menunggu makanan di mulutnya masuk ke dalam lambungnya, "Enak." Ia berucap seraya manggut-manggut.
"Kamu sering ke sini ya?"
"Aku? Nggak juga sih, dulu aku dan pacarku LDR ya bisa dibilang begitu. Ia kerap mengajakku ke pantai kalau ketemu dan makan di resto ini." Jawabku.
"Kamu pernah punya pacar kok aku gak pernah tahu?"
"Ya allah, jangan kan kamu dok, orangtuaku aja nggak tahu kalau aku pacaran dengannya selama 8 tahun."
"Uhuk uhuk uhuk." Dia tersedak.
"Hush, huhs, pelan-pelan dong. Bahaya tahu." Aku menepuk-nepuk tengkuknya, memberikan minum.
"Delapan tahun?" Kurasa dia pun terkejut.
"Iya, karena itulah saat aku ditanya banyak orang tentang 'kapan nikah?' 'jomlo aja, Dys?' inilah itulah, aku gak khawatir karena aku sudah punya calon yang buaaaaik banget, setia, dan dia pacarku sejak masa kuliah." Jelasku.
"Lalu bagaimana kisahnya sekarang? Masih berlanjut?" Dokter Andre masih bertanya lebih.
"Iya, bisa saja berlanjut. Tapi, di sini peranku jadi orang ketiga karena dia sudah menikah."
"Uhuk uhuk uhuk!" Kembali dia tersedak.
"Mas bisa nggak sih pelan-pelan makannya? Diceritain gitu aja sampe kesedak 2 kali." Aku menyodorkan air es kelapa muda kepadanya.
"Udah nikah?" Masih dia bertanya.
__ADS_1
"iya, aku gak tahu kapan nikahnya. Pokoknya pas isterinya hamil, aku masih berhubungan dengannya." Jelasku sekali lagi.
"Kamu masih mencintainya?" Ia bertanya meski dengan nada yang rendah dan hampir tidak kudengar.
"Kapan? Waktu itu? Ya masihlah, dia yang udah nemenin aku berjuang selama 8 tahun. Gimana aku gak sayang, bahkan sampai sekarang pun masih terbayang-bayang. Bagaimana cara dia memperlakukanku, kesabarannya, gurauannya, dia bahkan tahu apa yang kusuka dan tidak kusukai."
"Kamu masih mencintainya, itu berarti kamu masih berharap bersama dengannya." Nada Suara dokter Andre berbeda, dia mulai kesal. Salah siapa bertanya dengan pertanyaan yang memancing api dalam dirinya. Salah sendiri kan?
Aku kerjain aja sekalian.
"Apa, berharap? Iya jelas sih, malah aku masih berharap ada tempat di hatinya untukku. Aku pun mau kalau dijadikan istrik keduanya asalkan sah. Gimana nggak mau coba, beuh dia itu tampan sekali, gagah, pemberani, mapan, sangat perhatian kesetiaannya gak perlu diragukan. Aku yakin, dia pun masih mencintaiku. Pernikahan itu adalah perjodohan yang orang tuanya lakukan." Ujarku seperti menyiram minyak di atas sulutan api.
Kulihat wajahnya memerah, ia membereskan makannya. Tanpa berkata apapun, dia bernanjak dan mencuci tanyannya di tempat cuci tangan terdekat. Kembali dengan wajah yang murung, tatapannya sayu dan di wajahnya tersirat penuh kemarahan. Aku suka melihat dia mencoba menyembunyikan amarahnya.
"Sudah? Ayo pulang." Ajaknya dengan suara yang biasa, tapi tidak ada senyuman.
Aku mengangguk, meraih lengannya untukku rangkul seperti biasa. Dia tidak tahu kalau sebenarnya hatiku sudah beralih padanya, harusnya tidak perlu khawatir karena isi hati dan pikiranku hanya ada dia saat ini.
Di dalam mobil dia bertanya, "memangnya apa yang kamu suka dan tidak kamu sukai?"
"Apa ya?"
"Apa? Biarku ingat-ingat." ujarnya.
"Sebenarnya tidak ada. Aku menyukai apapun yang diberikan padaku dari orang yang kucintai." Jawabku.
"Begitu? Berati kamu menyukai apa yang menjadi kesukaanku?"
Aku mengetuk-ketuk pelipisku, "ya, bisa jadi begitu. Tapi, tunggu dulu. Nggak semuanya aku akan bilang suka ya."
Dokter Andre membawaku ke tempat yang ramai mobil terparkir. Bukan mall, tapi sebuah klub.
"Kamu pasti suka." Ujarnya dengan senyum seringai. Aku memejamkan mataku, suara gemuruh musik dan para manusia di dalamnya terdengar dari luar gedung.
Sebuah gedung mirip restauran, bedanya di dalam sini banyak orang-orang berdiri dan berjoget ria. Eh, tunggu. Ada yang sedang bercinta tidap pads tempatnya.
Aku sedikit takut, kurangkul lengan dokter Andre.
"Ah, ah. Shh, ugh. Darling, come on."
"Uhh ssh."
Terdengar suara ******* di mana-mana, suara musik yang berdentum kuat membuat jantungku berdebar-debar.
"Kita mau apa?" Tanyaku yang terus mengikuti langkahnya.
"Kita bukan di sini, tapi di atas." Jawabnya.
Naik ke lantai dua dan memesan ruangan. Seperti hotel, di sini terdapat resepsionis yang melayani. Setelah mendapat kartu, dokter Andre membawaku ke sebuah ruangan privat.
Ruangan yang cukup luas yang hanya berisikan sofa, meja kaca, televisi, sound, dan beberapa minuman di meja. Cahaya ruangan yang temaram, ini mungkin ruang karaoke versi level up-nya.
"Duduklah, kita mau berdansa atau menyanyi?"Tawarnya.
"Berdansa?" yang kutahu dia pandain berdansa ala salsa-salsa. Aku seketika tertawa teringat satu hal dulu saat dia mengajakku ke pesta pernikahan, sangkin energiknya sampai aku terjungkal dibuatnya.
"Ahahahah, kamu mengingatnya?" Dia menyadari apa yang menjadi alasan tertawaku.
"Sangat ingat karena itu hal yang memalukan."
"Haha, baikla-baiklah. Aku akan mengajarimu dansa yang besar. Ujarnya meraih tanganku.
"Tolonh jangan yang sepeeti dulu itu." Pintaku.
"Eh, sebentar. Mana musiknya." Terlepas, dia memilik sebuah lagu romantis dan berdansa malam ini.
Sudah beberapa lagu berganti, kita tetap berdansa. Kali ini musik yang diputar instrumen dari lagu "Perfect by Ed Sheeran"
"Kamu menyukai tempat ini?" Ia bertanya di tengah alunan musik.
"Tidak."
__ADS_1
"Suatu hari nanti, mau tidak kalau kembali ke tempat ini?"
"Iya, tapi jika denganmu."