
Aku mendekat ke salah satu meja dan Dena sudah duduk di sana dengan segelas es jeruk yang sedang diseruputnya,
“Maaf Na, lama.” Ujarku.
Dena mendesis,
“Kalau nggak lama ya bukan Dysa namanya,”
“Kamu ngejek aku ya Na?!”
“Nope! Eh, siapa dia Dys?” Tanya dena.
“Kenalkan, saya Andre, abangnya Dysa.” Ujar Andre mengulurkan tangannya.
“Dena, sahabat Dysa.” Dena membalas uluran tangan itu.
Dena kembali berbisik,
“Dys, dia abang loe beneran?”
“Bukan. Abang jadi-jadian.” Balasku berbisik juga.
Tidak enak dengan bang Andre, aku dan Dena menghentikan tawa cekikikan kami sedangkan bang Andre sudah memasang wajah cemberutnya.
“Yuk duduk, kita pesan makanan. Mbak…..!” Ajakku dan kemudian memanggil waitress untuk memesan makan.
Beberapa menit kemudian pramusaji datang dengan membawa pesanan makan siang kami bertiga,
“Dys, ada apa? Tumben ngajak makan siang bareng?” Tanya Dena.
“Dena, aku mau tanya sesuatu nih. Cuma tidak terlalu penting sih.” Aku menbenarkan posisi dudukku supaya senyaman mungkin.
__ADS_1
“Apa?” Dena menyeruput kuah bakso dari sendoknya.
“Hem, Denis itu beneran pilihan hati loe? Maksudku, hatimu udah mantap?” Tanyaku,
Dena yang menunduk menikmati kuah bakso langsung mendongak menatapku tajam, dia melirikan matanya pada dokter di sebelahku yang sedang asyik menikmati makanannya.
“Tenang, bang Andre aman kok. Dia bukan ancaman, iya kan bang?” aku menyiku lengan bang Andre yang sedang menikmati seporsi mie laksa.
“Uhukk uhukk…hah, apa?” Malah tersedak dia, kasihan...
“Bukti bahwa dia tidak memerhatikan pembicaraan kami hahaha, lanjutkan Na.” Ujarku.
“Kenapa Dysa?” Tanya dokter Andre.
“Tidak, dokter Andre. Maafkan aku, lanjutkan saja makannya.” Aku menepuk-tepuk punggungnya.
“Lanjut, Na.” Pintaku pada Dena.
“Ya aku sih merasa yakin bahwa mas Denis adalah orang baik dan bertanggung jawab, aku melihat dari matanya tidak ada kebohongan di setiap ucapan dan perbuatannya. Dia selalu meminta izin pada orang tuaku saat akan mengajakku pergi, dia tidak pernah berbuat tidak seonoh padaku. Aku merasa dihargai olehnya, aku rasa itu cukup untukku. Seperti paket komplit, aku mendapatkannya dalam diri mas Denis.” Jawab Dena.
"Hem, aku tahu tentang dia dan keluarganya. Dia anak pertama dari dua bersaudara, adiknya perempuan, mas Denis seorang pimpinan di perusahaan besar milik kakeknya, istrinya meninggal dua puluh bulan lalu karena kanker dan komplikasi, ayahnya seorang pensiunan jenderal Angkatan Darat, ibunya juga seorang pensiunan kepala sekolah di SMP negeri, hemm apa lagi ya? Oh ya, adiknya bernama Kiara dia seusia kita dan sedang melanjutkan studi S-2 nya di Jerman. Apa itu masih kurang?" Ucap Dena.
Aku hanya mengangguk mendengar luapan perkataan Dena yang terdengar meyakinkan. Dari sudut pandangnya, aku bisa merasakan bahwa Dena mencintai pria itu dengan tulus terbukti bahwa ia tidak membicarakan keburukan atau kebiasaan calon suaminya yang tidak dia sukai.
Dari mata Dena aku melihat bahwa hatinya sudah mau menerima sepenuhnya calon suaminya itu, terlepas bila nanti ia mengetahui siapa sosok Bella mungkin saja Dena akan mudah menerima kenyataannya.
“Kenapa memangnya Dys?” Tanya Dena padaku yang masih menatap matanya jeli.
“Uhh, hm.. Tidak sih, aku hanya memastikan saja bahwa kamu akan bahagia dengan kehidupan barumu kelak, aku berdoa semoga di lembaran barumu nanti akan ada keberkahan dan sejahhtera untuk selamanya ya Na,” tuturku.
“Yup, amen. Thanks ya.” Dena kembali menyeruput es jus jeruknya.
__ADS_1
Brakkk!
Sisi meja di sebelahku berbunyi keras,
“Mbak! Mbak!”
Aku dan Dena menoleh pada pria yang duduk di sebelahku ini, dia mengangkat tangan kanannya memanggil pramusaji yang sedang berdiri di meja kasir.
“Kenapa Bang?” Aku khawatir, wajah pria di sebelahku ini sudah merah menyala, penuh bulir keringat, dan mengembuskan napas panas tersengal-sengal layaknya menahan rasa pedas di mulutnya,
“Mana sih, mbak-mbaknya?!” Dia malah tidak merewes pertanyaanku.
“Kenapa sih?”Tanyaku lagi karena masih penasaran dengan apa yang terjadi.
“Ih, ini nih. Kok es jerukku dingin sih?” Jawab Bang Andre.
“Memang apa yang salah, bang Andre?” Aku dan Dena bersitatap melihat kelakuan bang Andre kali ini.
“Harusnya nggak dingin, aku penginnya yang hangat. Pedas nih!” Ujar bang Andre.
“What?! Es jeruk hangat?” Pekikku terheran-heran.
“Bukannya tadi kamu bilang es jeruk? Mana ada es jeruk anget, bang?”
Pelayang wanita datang,
“Iya mas-mbak, ada yang bisa saya bantu?”
“Kenapa minumanku dingin?” Tanya Bang Andre langsung.
“Maaf, Mas. Tapi tadi masnya bilang pesan es jeruk hangat. Saya bingung, jadi saya kira es jeruk, bukannya jeruk hangat.” Terang seorang pelayan wanita tersebut.
__ADS_1
“Tuh bang, salah Abang sendiri. Dah, pesan lagi saja dan yang ini buat aku saja, bayarin ya jangan lupa! Pesan es jeruk kok minta yang hangat.” Omelku.
Yap, bang Andre memasang ekspresi cemberutnya lagi. Wajahnya menekuk layaknya jemuran kusut, hahahaha.