
Ia masih tersenyum aneh kepadaku, tidak semanis biasanya saat kulihat garis matanya ikut tertarik ke atas.
"Menyakitkan bagaimana?" Tanyaku sambil senyam-senyum mengikutinya. Tidak ada jawaban, tautan kesepuluh jarinya semakin erat. Dan kulihat terdapat sebuah benda berwarna perak melingkar di jari manisnya.
"Mas?" Tidak yakin dengan prasangkaku. Sekelibat teringat kembali dengan ucapan Bang Andre "Kau tidak tahu jika dia sedang membohongimu?"
Berbohong apa maksud Bang Andre?
Inikah maksudnya?
"Mas Dika, cincin apa yang melingkar di jarimu itu?"
"Ini yang hendak kita bicarakan." Jawabnya.
"Dibicarakan apa? Kamu mengkhinatiku, begitu?" Tudingku.
"Kau sudah bertunangan? Kau sudah bertunangan tapi tidak memberitahuku? Apa kau malah sudah menikah, hah?" Sebagian prasangkaku meluap.
"Kau mengkhianatiku, benar?" Tanyaku pada orang yang sedang duduk mengalihkan pandangannya.
Tidak percaya, dalam tunduknya ia malah mengangguk.
"Kapan?"
__ADS_1
"Dua bulan yang lalu."
"Dengan siapa?"
"Tidak bisakah kau menungguku sebentar lagi? Menungguku memberitahukan hubungan kita kepada keluargaku." Air mataku berderai bersama itu. Tidak, jangan! Jangan keluar, air mata sialan.
"Kamu bahkan sudah punya calon pasangan, Dysa."
"Tidak, aku tidak mau. Aku ingin memberitahukan hubungan kita secara resmi saat keluargaku lengkap. Bukan seperti ini yang aku harapkan." Ucapku dengan disusul deraian air mataku yang terjun tanpa kendali.
"Hubungan kita sudah berakhir, Dys."
Bagus! Ini pertama kalinya aku diputuskan oleh pacar.
"Delapan tahun, ternyata kamu menyerah juga. Aku kira kamu akan mengerti aku, aku kira kamu akan menungguku, Mas. Ternyata tidak, aku sudah tahu bahwa ada orang lain yang berhasil mengisi hatimu selain aku. Kalau begitu, aku terima keputusanmu. Pergilah, tinggalkan aku untuk selamanya." Tukasku.
Kutepiskan genggaman tangannya pada jemariku, aku menggeleng.
"Tidak ada yang bisa dibicarakan lagi, kamu sudah memilih. Semuanya tidak ada yang bisa diperbaiki, pergilah."
"Dys, kumohon kamu jangan bersedih sepeninggal Mas. Kita pasti akan mendapat balasannya masing-masing. Menjalankankan kehidupan kita ke depan dengan gemilang."
"Pergilah, Mas."
__ADS_1
"Dys, dengarkan Mas dulu." Pintanya menarik tanganku saat aku hendak berdiri dari temoat dudukku.
"Pergi, aku mohon." Ia masih mencekal pergelangan tanganku.
"Ingat pesan ini, cepatlah membuka hati dan menerima seseorang yang mencintaimu meskipun kamu belum mencintai pria itu atau pria manapun. Jangan egois dan dibutakan oleh ambisimu, Dysa...."
"Stop! Aku bilang PERGI! Kamu tidak dengar? Pergi! Tidak perlu sok menasihati!!!" Melengking seperti petir. Tidak peduli, nyatanya aku yang pergi terlebih dahulu setelah berteriak begitu kencangnya.
Mengendarai mobil, suara tangisku memecah keheningan di dalam mobil. Aku merasa hatiku terenyut, ada gejolak nyeri. Rasanya seperti ditekan oleh sesuatu barang, apakah begini rasanya diputuskan? Rasanya kehilangan? Atau harapan yang belum tercapai?
Seseegukkan berhasil keluar dari mulutku begitu aja, tidak mau berlarut dalam kesedihan.
Biarkan dia pergi, Dysa.
Lupakan semua kenangan tentangnya.
Tetap melangkah ke depan, jangan ingat dan menengok ke belakang.
Jalanmu masih panjang, masih banyak tipe pria ideal yang kamu harapkan. Dan kamu akan mendapatkannya kelak, bukan dia. Bukan Dika orangnya*.
Stigma itu berhasil menghentikan air mataku, hatiku terhibur. Benar, aku masih muda, pintar, berkarir, dan aku pantas mendapatkan pasangan yang lebih baik dari dia. Pasti akan ada penggantinya, bukan hanya dia seorang.
Tapi, delapan tahun ini?
__ADS_1
Semua sia-sia dan aku baru menyadarinya.
Bodohnya aku melakukan satu hal yang paling menyia-siakan sebagian waktu dan jalan hidupku. Maafkan aku, diriku dan hidupku. Dengan senyum bahagia aku berhasil menghibur diri seperti baisanya, positive thinking adalah rahasianya.