Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 38. Kehidupan yang Berantakan


__ADS_3

Dua tahun berlalu, tanpa terasa hidupku berjalan begitu-begitu saja. Semua yang kujalani murni karena urusan duaniawi. Aku merasa sangat jauh dari tuhanku, orangtuaku, dan orang-orang yang dulunya menyayangiku, kini entah kemana perginya semua itu. Belakangan ini, hubunganku dengan orangtua menjadi sangat renggang.


Aku tidak lagi pulang ke rumah melainkan menyewa apartmen yang mesti kubayar untuk setiap tahun tinggal. Sejak lamaran terakhir yang kutolak yakni dari Baihaqi, mama tidak mau lagi berbicara kepadaku. Maksudku, mama tidak lagi sering mengomeliku. Mama juga tidak lagi memintaku menerima lamaran dari pria yang mama datangkan ke rumah, mama lebih banyak mendiamkanku.


"mama kenapa sekarang nggak pernah ngomelin Dysa lagi?" Tanyaku saat kami berada di dapur pagi hari.


"Capek mama ngomelin kamu yang gak pernah ada hasilnya." Mama membereskan peralatan memasaknya. Hidangan sudah tersaji di meja makan, hanya tersisa perkakas memasak dengan sisa-sisa lemak dan kotorannya.


"Mama sudah nggak peduli dengan kehidupanmu, Dysa. Carilah dan kejarlah duniamu seperti yang kamu mau. Bahkan kalau kamu menganggap mama mati pun tidak apa, memang peran mama di kehidupanmu sudah tidak kamu butuhkan lagi. Pergilah, mama ingin lihat bagaimana kamu berjalam tanpa mama." Ucap mama yang begitu menyakitkan bagiku.


Kukira mama mengatakan hal itu karena mama hanya marah saat itu, tapi ternyata tidak. Mama sepertinya benar-benar lelah, semakin hari mama semakin diam dan tidak ada lagi kehangatan yang aku rasakan seperti dulu.


Mama membiarkanku, bahkan aku tidak pernah ditanya oleh mama kenapa pulang larut, kala hari aku tidak pulang pun mama tidak bertanya atau mengomeliku lagi. Alhasil, untuk itulah alasanku menyewa apartmen ini. Terhitung sudah setahun lebih aku bertempat tinggal terpisah dengan orangtuaku.


Komunikasi kami semakin jarang. Mungkin kalau papa tidak menelponku, aku tidak akan mengetahui bagaimana keadaan rumah. Aku sungkan karena orang rumah dan kakak-kakakku sepertinya tidak mau berbicara kepadaku lagi. Bahkan mama tidak pernah mau mendengar suaraku kala papa menelponku.


Namun, kalau saja papa tidak menelponku. Mungkin aku tidak akan tahu bagaimana kabar terbaru soal mama yang tak lagi cerewet, papa yang mengatakan sangat merindukan aku untuk kembali ke rumah.


Papa mengatakan jika dirinya sedang kesulitan berjalan karena baru saja terjatuh dari tangga rumahnya, papa juga mengatakan kalau yayasan An-Nur sepertinya nyaris tutup, dan mungkin aku tidak akan tahu jika Kak Galih yang masuk berita karena dikabarkan korupsi uang perusahaan dan telah bercerai dengan istrinya. Kabar lain tentang kak Bisma yang menjadi bandar obat-obatan terlarang dan melarikan diri ke luar negeri dan juga sedang menjadi buronan polisi. Namun, telepon terakhir yang kuterima dari papa kira-kira setengah tahun yang lalu saat tersampaikannya berita itu.


Aku rasa kehidupan keluargaku sedang berantakan, untuk itulah mereka tidak lagi mengurusi hidupku. Aku bagaikan hidup sebatang kara sekarang. Tidak ada yang perhatian padaku, tidak ada yang mendukungku. Aku merasa saat ini berada di titik hampa, hatiku kosong tak bernyawa.


Pulang kerja, aku merasa bosan jika langsung pulang ke apartemenku. Kuputuskan untuk mampir ke rumah orangtuaku yang sudah sangat lama tidak kusambangi tempat masa kecilku itu.


"Ya Tuhan, kenapa jadi seperti ini penampakannya?" Aku terkejut saat melihat pemandangan halaman rumah yang seperti hutan belantara ini.


Rumput-rumput meninggi di bagian tertentu bahkan tumbuh ilalang yang sangat tinggi, lantai ditumbuhi semak belukar. Sungguh, rumah ini tidak lagi terawat. Dari pemandangan depan, rumah sebesar ini terlihat kosong, seram, dan nyaris tidak bernyawa.


Ku ketuk pintu rumah ini.


"Mah? Pa?" Mama dan papa tidak menjawab.


"Mama, Papa?"


Kudorong perlahan pintu ini, pintunya tidak dikunci. Terbuka dan menampakan pemandangan yang luar biasa. Ruangan yang besar tanpa perabotan, kosong, dan sangat gelap.


"Mama?"


"Ma? Pah?" Aku memanggil-manggil mereka.


"Masih ingat pulang, Dysa?" Kudengar suara seorang wanita yang sangat jelas dan aku mengenal suara itu. Suara mama.


"Ma?" Memutarkan badanku, menghadap tangga dan mama turun dari lantai dua.


"Ma?" Aku sangat terkejut dengan menampilan mama. Di tengah kegelapan, siluet mama memggunakan daster dengan rambut yang berantakan. Benarkah itu mama?


Semakin dekat ke arahku. Benar, mama menggunakan baju yang sangat lusuh. Daster yang biasa mama pakai saat pagi hari, ketika menyiapkan sarapan untuk keluarga kami.


"Mama?" Lirihku memanggil mama.


Mama juga berpenampilan dekil dengan rambut yang berantakan dan sebagian besar berwarna putih.


"Baru ingat rumah, Dysa?" Tanya mama. Aku yakin ada yang tidak beres di rumah ini. Berapa lama aku pergi, sampai semuanya menjadi kacau seperti ini?

__ADS_1


Mama mendekat kepadaku, berdiri di depanku seorang wanita yang dulu sangat aku sayangi. Mamaku yang dulu sangat cerewet dan seorang ibu yang mampu menghidupkan suasana rumah. Namun yang kini berada di hadapanku seperti orang asing yang tidak pernah aku jumpai sebelumnya.


"Ma, papa mana?" tanyaku.


Mama tersenyum lebar dan terkesan sangat menyeramkan di dalam ruangan yang gelap ini.


"Mama, ada apa Ma?" Tanyaku saat mama terus melangkah mendekat kepadaku, sedangkan jarak kami hanya tersisa setengah meter saja.


"Mama, jangan membuatku takut. Dimana papa?"


"Papa?! Pa?" Aku berteriak seraya terus memundurkan langkah.


"Papamu sudah mati." Ujar Mama yang membuatku tercengang.


"Apa, Ma?"


"Papamu sudah mati, dengar?!"


"Kaulah penyebabnya, anak kurang ajar!" Mama berteriak dan tanpa kuketahui ditangan mama memegang pisau dapur yang sering mma gunakan untuk memasak dulu.


"Ma, apa ini ma? Turunkan pisau itu, Ma." Pintaku saat mama menodongkan pisau tepat di depan wajahku.


Mama bahkan memegangi lenganku yang membuatku kesulitan untuk bergerak. "Ma mama jangan seperti ini Ma. Aku Dysa, anak mama. Sadar, Ma." Ucapku seraya memundurkan langkahku.


"Hiyak!" Mama menebaskan pisau itu ke tubuhku dan aku berhasil menangkisnya. setidaknya tidak mengenai wajahku, tapi lengan kiriku terluka.


"Auhh! Mama! Jangan, Ma! Tolong-tolong!" Aku berteriak kencang meminta pertolongan.


"Kau bukan anakku, aku tidak punya anak. Suamiku mati, kamu tahu? Hah?!! Kamu tahu hidupku jadi berantakan, hah?"


Srett! Pisau itu kembali bergerak, aku menangkal tangan mama hingga menyebabkan pisau itu terlempar jauh. Di saat itu, aku bergegas mengambil pisau itu dan berebut dengan mama. Aku berusaha lari keluar rumah untuk mencari bantuan.


Mama sudah membabi buta, tanpa sengaja aku mendorong tubuh mama yang berhasil menarik kemejaku, mama tersungkur dan aku berlari sembari berteriak meminta tolong.


"TOLONG! TOLONG! TOLONG SAYA!" Teriakku di halaman rumah, di belakangku mama masih berusaha bangkit dan kembali mengejarku. Mama mengambil sebongkah batu yang dibawanga di atas kepala dan seakan ingin melemparkannya kepadaku.


Aku bergegas masuk ke dalam mobil, mengambil ponselku dan mendial kantor polisi. "Dysa! Dysa, dimana kamu? Dimana kamu!!!"


"Dysa, dimana kamu! Dimana?!" Mama berteriak-teriak di depan gerbang rumah. Warga tidak ada yang berani mendekat, mereka berbisik-bisik dan memutar balikkan langkah mereka.


Mobilku terparkir cukup jauh dari pintu gerbang rumah, sehingga cukup aman. Tapi sepertinya mama masih mengenali mobilku, mama mendekat dengan langkah cepatnya dan mengambil kerikil di jalan yang mama lemparkan ke mobilku.


Kembali aku mendial nomor kantor polisi, "Halo Pak, saya Dysa izin melapor. Tolong saya, Pak....."


Dug dug dug! Bugh bugh gugh.


Mama mengedor-gedor kaca mobilku, "keluar kamu, Dysa!"


"Keluar! Melu, kowe. Metu siki!"


"badung tenan ki. Jancok....."


Mama terus berbicara dengan serampangan dan menggunakan bahasa jawa yang tidak kumengerti, yang jelas nada suaranya seperti mengumpatiku. Meski aku tidak mengerti apa yang mama katakan, tapi jelas, ekspresi mama dipenuhi dengan amarah. Mama sangat marah.

__ADS_1


Dan detik berikutnya mama menghantam kaca mobilku bagian depan dengan sebongkah batu besar dan berhasil memecahkan kaca mobilku. Aku spontan menutup wajahku supaya pecahan kaca itu tidak melukai wajahku.


Wuing wuing wuing. Terdengar sirene mobil berpatroli milik polisi. Syukurlah, dengan sigap para aparat berhasil mengamankan mama sebelum batu besar mendarat di kaca mobilku untuk yang kedua kalinya.


Tidak hanya polisi yang datang. Namun, beberapa waktu kemudian keadaan depan rumah menjadi sangat ramai karena para warga dan dinas sosial yang turut datang. Setelah perbincangan dengan polisi dinas terkait, kami sepakat membawa mama ke rumah sakit jiwa di bawah pengawasan dinas sosial. Meski aku merasa miris dengan keadaan mama, aku tidak tega memasukkan mama ke rumah sakit jiwa. Namun, apa daya? Aku tidak bisa merawat mama, jika mama pun kini tak lagi mengenaliku sebagai anaknya. Lebih aman jika mama di bawah pengawasan para ahlinya. Maafkan Dysa, Ma. Terakhir kali sebelum mama pergi, aku mengecup kepala mama. Sedangkan mama masih terus meronta-ronta ingin dilepaskan.


Setelah mama sudah pergi bersama polisi dan dinas sosial, para tetangga beramai-ramai mendekat kepadaku. "Mbak Dysa nggak papa?" tanya salah seorang warga padaku.


"Nggak papa kok, Bu."


"Ini tangannya terluka parah jangan lupa diobatin ya, ke rumah sakit sekarang ya?" Ujar mereka yang prihatin melihat kondisiku.


"Iya, Bu. Kalau boleh tahu, sejak kapan mama menjadi seperti itu ya Bu?" Tanyaku pada para tetangga itu. Aneh, aku anaknya sendiri mengapa aku yang bertanya kepada orang lain?


"Sudah cukup lama, Ibu seperti itu. Dulu pernaj ada tetangga kami yang digigit ibu tanpa alasan yang jelas, mulai saat itu kami tidak pernah berkontak dengan ibu lagi." Jawab salah seorang dari beberapa rombongan ibu-ibu.


"Memangnya, mba Dysa sendiri kemana? Kenapa tidak tahu kondisi rumah? Bapak sudah meninggal beberapa bulan yang lalu, mbak Dysa tahu?"


Akupun menggeleng pelan, aku bahkan tidak tahu kabar kematian Papa. Aku lupa jika selama ini aku tidak pernah berhubungan baik dengan para tetangga karena dulu aku membenci mereka yang kerap kali bertanya "kapan menikah?" dan pertanyaan lainnya yang menjurus memojokkan diriku.


Salahku yang tidak pernah bersosialisasi dengan tetangga sekitar.


"Saya ada tugas di luar kota, sempat berkontak dengan Papa tapi sudah tidak lagi sejak enam bulan ini." Alibiku mengatakan bekerja ke luar kota. Padahal aku masih berada di kota ini, hanya berbeda tempat tinggal saja.


"Oh, iya Papanya Mbak Dysa stroke karena jatuh berulang kali di rumahnya sendiri. Terakhir kali saya berkunjung, Bapak sudah tidak bisa bergerak dan berbicara. Hingga kurang lebih dua bulan kemudian, Papanya mbak Dysa dikabarkan telah tiada."


Aku menutup mulutku, meremasnya. Bagaimana mungkin aku tidak tahu kabar ini? Anak macam apa aku ini?


Setelah itu, warga menunjukkan tempat peristirahatan terakhir papa. Aku langsung menuju ke sana.


Kududuk bersimpuh di atas tanah kubur yang sudah kering dan gersang. Aku merasa menjadi anak yang durhaka saat ini.


Batu nisan yang tertulis nama papa. Dengan air mata yang mengalir, hanya ada penyesalan yang aku rasakan. "Pa, kenapa papa pergi Pa? Dysa minta maaf, Pa. Dysa minta maaf sama Papa, Dysa salah pergi dari rumah. Dysa berdosa sama papa dan mama."


Aku menangis pilu, tangisanku jelas tidak ada artinya. Semua sudah kacau dan tidak bisa mengembalikan papa kembali ke dunia ini.


"Pa, maafin Dysa ya Pa."


Aku sekarang berpikir, bagaimana sulitnya mama dan papa menjalani hidup di tengah gempuran ujian yang menimpa anak-anaknya.


Kabar tentang Kak Galih, Kak Bisma, dan aku sendiri yang menghilang entah dimana tanpa mereka tahu dimana keberadaanku.


Mamah dan Papa pasti sangat terpukul dan harus melewati masa-masa itu seorang diri, tanpa anak-anaknya, tanpa aku yang berada di sebelah mereka.


Aku menangis tersedu-sedu, meratapi semua yang telah terjadi. Seandainya aku tidak pergi, aku pasti bisa merawat papa sebaik mungkin. Membawa Papa berobat dan kemungkinan sembuh, tapi aku selalu menolak jika papa memintaku pulang atau barang sejenak berkunjung ke rumah.


Aku seakan diingatkan dengan semua perilaku burukku akibat keegoisanku. Aku disadarkan dengan dosa-dosa yang telah aku perbuat kepada orang tuaku. Bahkan keterlaluan kurasakan saat aku tidak berada di samping papa saat papa menghembuskan napas terakhirnya.


"Kenapa, Pa? Kenapa Papa tinggalin aku? Kenapa??!!!" Aku berteriak dan menangis di tengah pemakaman ini.


Aku yang selama ini mengatakan hidup ssbatang kara, kini terjadilah dengan sendirinya. Aku hidup tanpa ada kehadiran orang-orang terdekatku, mereka benar-benar pergi meinggalkanku.


Aku sendiri tanpa ada teman lagi.

__ADS_1


__ADS_2