Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 14 ~ The Duda is Papa Bella?


__ADS_3

Dena menepati ucapannya, pukul delapan pagi dia sudah datang ke rumahku. Hari ini akhir pekan, mama dan papa termasuk aku sedang berada di rumah untuk menghabiskan akhir pekan bersama.


“Ma, Dysa pamit dulu ya. Temani Dena pilih baju pengantin.” Pamitku pada mama dan papa yang sedang duduk di sofa ruang tamu.


“Oh, iya-iya. Nah Dys, Dena saja sudah mau nikah, kamu kapan?” Mama mulai kambuh dengan pertanyaannya, aku merasa sudah menyerahkan diri masuk ke dalam lubang buaya.


“Tahun depan, Ma.” Jawabku asal.


“Alah, jangan banyak alasan kamu ya. Edwin kasian lho sudah mau menunggu kamu.” Ujar mama.


“Mau sampai kapan kamu melajang, tidak usah banyak beralasan ingin membahagiakan mama dan papa. Kamu menikah saja Dys, itu sudah membahagiakan orangtua. Mama dan Papa pasti bahagia kok karena kamu tidak lajang sampai umur tua.” Lanjut Mama.


“Maksud Mama, Mama khawatir Dysa jadi perawan tua?” Tanyaku mendebat,


“Ya begitu,”


“Ma, apa masih zaman ya sebutan perawan tua? Memangnya apa sih tujuan dari pernikahan? Kalau Dysa belum siap, apa harus dipaksakan? Yang ada bukan berkah karena niat ibadah tapi menderita karena paksaaan dan bukan karena keikhlasan.” Aku mencoba menjelaskan isi kepalaku, tidak zamannya lagi untuk takut pada jodoh yang memang menurutku belum datang dan belum saatnya.


“Alah, kamu merasa pintar karena lulusan kedokteran jadi selalu saja ingin mendebat Mama,” ketus Mama.


“Ma…” Papa melerai dengan lembut.


Yes, untung ada Papa. Batinku berbangga.


“Pa, Ma, sudah ya Dysa dan Dena pergi dulu.”


“Mari Tante, Om.” Giliran Dena, mungkin Dena hanya bisa menggeleng melihat percikan aksi aku dan Mama, tapi bagiku ini sudah biasa dan makananku di setiap harinya.


Setelah itu, kami menuju halaman rumah dan melanjutkan perjalanan menggunakan mobil Dena, sedang aku yang mengemudikannya.


“Mau kemana, Na?”


“Butik Permata, aku nggak tahu tempatnya sih tapi aku dikasih alamatnya. Nih lihat GPS.” Dena menyodorkan smartphonenya.


“Ih, ini mah keluar kota. Gila loe ya?” Ceplosku,


“Dys, nurut aja gimana sih? Kamu banyak protesnya.”


“Repot amat sampai keluar kota segala?” Celetukku.


“Nah ini esensinya buat para pengantin, semakin dibuat capek semakin berasa jadi pengantin tau nggak!?” Dena dengan mode mendebatnya.


“Memangnya beda ya? Jadi, kalau pengantinnya cuma akad saja tanpa resepsi berarti itu nggak ada esensinya? Rasanya apa dong? Kan sama-sama dirias juga,” kilahku.


“Ya, itu sih sama aja kaya pager ayu. Nggak berasa, harusnya dibikin capek dulu baru nanti ngrasain yang nikmat-nikmat.” Jawab Dena khas pemikiran orang dewasa.


“Liar pemikiran lo!” Ketusku.


Tiga setengah jam perjalanan namun tidak kunjung sampai, entah petunjuk arahnya yang salah atau aku yang salah mengerti jalan.

__ADS_1


“Dimana sih? Ini sudah sampai di daerah ini.” Memutar-mutar setir, puluhan liter bensin terkuras habis dan puluhan pom bensin sudah aku datangi namun belum sampai juga di tempat tujuan.


“Bentar Dys, aku tanya sama ayang beb aku dulu.” Jawab Dena.


“Gila, belum juga apa-apa udah ayang beb-an aja.” Dumalku.


Dena memberitahuku detail lokasi tersebut, sampai pada akhirnya kami sampai juga di depan gedung yang menampilkan nama butik ‘PERMATA’ pada dinding bangunan berlantai dua itu. Dari balik dinding kaca terdapat deretan kebaya yang terpajang pada manikin yang berjejer di sana.


“Sampai, Na.”


Memarkirkan mobil pada lahan luas di depan gedung bersusun tersebut. Belum usai melepas sabuk pengamanku, tiba-tiba seorang pria yang tidak asing mendekat ke arah kami. Dena dengan riang turun dari mobilnya dan berjalan mendekati pria tersebut.


Bibirku lirih berucap,


“Papa Bella?”


“Dys, kemarilah!” Dena berteriak, senyum simpul terpasang pada bibirku. Aku tidak tahu bahwa Dena ternyata sudah mengenal Papa Bella, apakah mereka bersaudara? Apa Papa Bella pemilik butik ini? Atau jangan katakan jika dia adalah calon suami Dena? Tapi tunggu, apakah benar dia itu Papa Bella?


Aku berdiri di dekat mereka, lantas salah satu perkiraanku benar adanya saat Dena secara terang berkata,


“Dys, ini Mas Denis, calon suamiku.”


“Tampan ‘kan?” Lirih Dena dekat telingaku.


Aku melongo, hampir saja tadi aku menyapa pria tersebut dengan sapaaan ‘Papa Bella’ namun kuurungkan, tidak ingin merusak semuanya dan menunggu kebenaran atas apa hubungan Dena dengan pria ini, mengingat Dena pernah mengatakan bahwa calon suaminya belum memiliki anak. Lantas siapakah Bella? Apa pria bernama Denis itu menyembunyikan kebenaran tentang Bella pada Dena? Atau memang Bella bukan anaknya? Lalu siapakah ibunda Bella yang


“Dys? Kok melamun?”


“Dys?” Pertanyaan di benakku terhenti saat Dena menyenggol lenganku dengan sikunya.


“Ohh, ya?”


“Kamu kenapa sih? Nih, kenalan dulu sama calon suamiku.” Dena mengulurkan tangan kananku secara paksa pada calon suaminya itu.


“Denis,”


“Dysa,”


Dengan senyum meringis aku menjabat tangan itu, dia yang membuatku semakin ragu dengan perkiraanku saat ia memasang mimik wajah seakan tidak pernah berjumpa denganku, berjuta kali aku berpikir ‘mungkinkah dia ini bukan Papa Bella? Apa dia kembaran dari papa Bella? Apa dia hanya mirip dengan Papa Bella?


Ya, aku menuruti saja. Mungkin jika benar pria yang di hadapanku benar adalah papa Bella berarti dia punya alasan sendiri untuk menyembunyikan ini. Atau besar kemungkinan jika akulah yang salah orang karena aku tidak pernah benar-benar memerhatikan sosok ayah dari pasien kecilku itu.


“Yuk masuk. Dys, bantu aku pilihkan gaun ya? Kamu kan ahlinya memilih gaun yang feminim.” Dena menarik tanganku dan pria itu.


Pilihan gaun terpapar oleh pelayan butik tersebut, semua terlihat cantik dan menawan.


“Dys, yang mana? Aku bingung.”


“Pink atau soft orange?” Tanya Dena.

__ADS_1


“Hem, ada yang warna putih tidak?” Tanyaku, lantas beberapa orang berdatangan setelah pemilik butik memerintahkannya membawakan contoh gaun berwarna putih.


“Menurutku ini saja, Na.” aku menunjuk salah satu gaun berwarna putih yang terlihat lain dari pada yang lain, tampak cantik dan menarik jika dipakai oleh Dena nanti.


“Tapi nanti acaranya Outdoor,” Dena.


“Ya, bagus dong. Gaun putih terkesan sakral dan nyambung di semua tema pernikahan. Benar tidak Bu?” Tanyaku pada ibu-ibu karyawan dan pemilik butik itu.


“Coba tanya saja sama calon suamimu.” Tambahku, dan Dena menurut menanyakan pada calon suaminya itu.


“Iya benar, dan sebenarnya aku juga menyukai warna putih. Bagus dan bersih.” Ucap pria bernama Denis itu.


“Jadi tipe yang ini saja, Mbak? Jika iya mari kita mulai pengukurannya,” ucap pemilik butik itu.


Menunggu Dena yang sedang dalam kegiatan pengukuran, aku dan pria itu duduk berdekatan hanya berjarak satu kursi di antara kami. Sebenarnya aku masih ragu dnegan pria calon suami Dena ini, benarkah dia itu seorang Papa dari anak berusia tujuh tahun itu atau bukan. Sejenak aku memerhatikan dengan jeli wajah dan penampilannya sembari dia sedang sibuk dengan ponselnya.


Entah merasa terusik atau apa, pria itu menggerakan bola matanya menatapku yang tengah menyangga daguku menatapnya.


“Ada apa dokter Dysa?”


“A…Aku..” Mulutku terbuka tebar, mataku membulat tajam, jantungku berdegup kencang saat aku mendengar suara khasnya. Perkiraanku belum sepenuhnya terjawab namun terlanjur kecolongan memandanginya,


“A.. a.. ammp. Bagaimana Anda bisa tahu jika saya seorang dokter?” Tanyaku terbata dan keluar begitu saja,


“Hem, Dena menceritakannya padaku.” Jawabnya. Mulutku yang sempat menganga merapat kemudian.


“Ohh, begitu ya?”


“Mohon maaf Tuan Denis, apa Anda memiliki saudara kembar?” Denis mengernyit, seakan sedang berpikir keras.


“Maaf, maaf. Sepertinya tidak ya? Lupakan saja, maafkan aku bertanya demikian.” Ujarku yang tidak ingin memerpanjang masalah.


“Iya, saya tidak punya saudara kembar. Hanya saja saya punya seorang adik, tapi dia perempuan. Kenapa?” Jawabnya tanpa aku duga.


“Oh, tidak-tidak. Aku… aku hanya… Hem tidak jadi.” Aku menjadi gelagapan.


“Katakan saja dokter Dysa,”


“Aauuh, hem. Aku sepertinya pernah bertemu dengan Anda, maksudku aku mengenal seorang anak kecil dan dia mempunyai ayah yang wajahnya mirip dengan Anda, maaf atas dugaanku.” Ujarku berhati-hati.


“Maksud Anda anak kecil bernama Bella?” Pertanyaaan itu membuat mulutku kembali membuka lebar, selebar-lebarnya.


“I… iii.. iya benar. Apa Anda Papanya Bella?” Lugasku bertanya, gelengan kepalaku tidak henti menyertainya saat pria itu menganggukan kepalanya menjawab pertanyaanku.


“Tapi Dena mengatakan bahwa calon suaminya belum mempunyai…” Ucapanku terputus olehnya.


“Biarkan itu menjadi urusanku, jangan memberitahukan ini kepada siapapun tanpa persetujuanku.” Ujar Denis dengan rona wajah datar.


Bagaikan diskakmat, aku langsung bungkam dengan ucapannya yang terdengar mengacam, air wajahnya sangat berbeda dengan seorang papa Bella yang kujumpai beberapa kali di rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2