Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 3 ~One Day With Dena


__ADS_3

Tiba juga di akhir pekan, waktu yang tepat untukku beristirahat. Sejak subuh aku sudah mandi, karena tidak ada kegiatan apapun yang menyibukkanku maka aku putuskan untuk merebahkan diri di atas pembaringan yang dingin ini.


Mengelus sprei dan selimut lembutku,


"Uhh, selesenyeee."


Sambala sambala bala sambalado, mulut bergetar lidah bergoyang. Sambala sambala bala sambalado... (dering panggilan telepon masuk)


"Akhh, siapa yang menelpon pagi-pagi seperti ini." Mendumal, tidak bisakah sehari saja bebas tanpa kegiatan?


"Halo..."


"Halo!! Akhh lama amat ngangkat telponnya ?"


"Ehh? Siapa nih, Dena ya loe?" Aku menebak si pemanggil karena tidak kubaca sebelumnya nama pemanggil di layar ponselku.


"Iya ini gue, kenapa? Kaget?!" Ucap Dena dengan nada bicara yang selalu mengajak baku hantam denganku.


"Masih hidup lo, Den?" Kikikku bergurau.


"Berisik Loe, Dys. Aku tunggu di kafe 'broken heart' jam sembilan." Ucapnya tanpa kompromi.


"Lah, ini juga udah jam sembilan kurang sepuluh menit. Gila loe ya?" Aku memekik. Sudah menjadi aturan, saat di antara kita ada yang datang terlambat pasti akan ada hukuman.


Tutt..tut..tut... (sambungan diputus sepihak oleh si tengil Dena).


"Parah, Dena. Untung aku sudah mandi." Segera aku mengganti baju rumahan dengan dress selutut berwarna mocca dan juga meraih sling bag, dengan cepat aku menguncir kuda rambutku.


Berlari menuruni anak tangga, di lantai bawah sepi tidak bepenghuni. Tanpa berpamitan, segera aku mengeluarkan motor matic-ku dari dalam garasi.


"Mau kemana?" Mama tiba-tiba datang dari balik gerbang.


"Ketemu Dena, Ma. Dysa pergi dulu ya!" Izinku, Mama mengangguk.


Jarak tempuh untuk sampai ke kafe itu tidak jauh, kuparkirkan motorku di teras kafe. Melihat jam digital di ponselku, aku sudah terlambat lima menit.


"Ahhh, telat." Memukul stang motorku.


Penglihatanku menyusur sampai ke sudut ruang, tidak kutemui sosok menyebalkan, si Dena. Aku mendial nomor ponselnya.


Tersambung, terdengar suara gusrak-gusruk...


"Dimana, Loe Den?" Tanyaku, perasaanku mulai tidak enak.


"Sorry, Dys. Kejebak macet di tambun, nih." Terdengar suara klakson bersaut-sautan.


Bikin mati kaku nih orang. Aku dibela-belain lari ngiprit, dia malah kejebak macet. Tahu rasa loe sama hukumannya, hihihi... Hatiku berbisik.


"Cepet, aku tunggu 5 menit. Lebih dari itu berati denda go ban permenitnya." Tukasku.


"Lah, Dys---"


Tut..tut..tut.. (aku memutus sambungan teleponnya)


"Gantian, hahaha." Kesenangan batin kurasakan.


Sudah tujuh menit berlalu, artinya Dena sudah terlambat dua menit.


KRIETT... JEBRETTT (pintu kafe terbuka kasar)

__ADS_1


Dena berlari ke arahku yang melambaikan tangan padanya.


"Hoshh hossh hoshh.." Napasnya terengah-engah.


"Habis marathon, Bu?" Tanyaku menahan tawa.


"Berapa duit?" Tanyanya.


"Hem, gue laper. Bayarin makan aja deh."


"Oke." Dena setuju,


"Hahaha, dia belum tahu kalau aku belum sarapan. Senjata makan tuan kan, lo." Puas rasanya hatiku ini.


"Napa loe senyam-senyum?" Dena menyadari mimik wajahku yang menyimpan kepuasan batin.


"Gak."


"Stress!" -Dumal Dena yang tidak kuperhatikan ocehan selanjutnya.


"Napa lo, ajakin gue kemari?" Aku bertanya seraya menikmati pasta dari piringku.


"Dys, gue mau nikah."


"Uhuk uhuk uhuk... Gak salah dengar, gue?" Aku tersedak, Dena mengangguk mengiyakan pertanyaanku.


"Kesambet apa loe, tiba-tiba kasih kabar ini. Siapa calonnya? Loe nikah bukan karena kecelakaan 'kan Na?"


"Mau mati, loe? Loe kira gue ini jablay? Aku nikah karena memang ini sudah saatnya!" Jawab Dena berapi-api.


"Napa loe geleng-geleng gitu? Gue serius!" Dena berucap lagi.


"Demi apa, Dys? Gue mau nikah sama duda!"


Pletakkk


Sendokku seketik melayang ke udara,


"UHHUKK UHUKK UHUKKK! UHUUUKK!! Dena, gue gak salah denger? Seriusan, Loe?!" Sumpah demi apa, ini benar-benar di luar nalar.


"Duorius! Please, Jangan caci gue! Nih, gue bawa formulir data calon mempelai dari KUA" Dena benar-benar serius dalam ucapannya. Dia menunjukkan secarik kertas bertuliskan nama terangnya di kertas tersebut.


"Dena, aku nggak habis pikir deh. Kok loe tiba-tiba nikah gitu aja? Jelas ada yang salah nih, iya kan?" Aku menerka-nerka, menuding-tudingnya.


"Loe ketahuan lagi mesum ya?"


"Atau jangan-jangan, dia sebenarnya belum duda dan loe pelakornya?" Berbagai praduga aku lontarkan pada Dena. Dia layaknya aku, sahabatku satu-satunya yang belum menikah di usia seperempat abad ini. Dia juga yang menentang keras tentang pernikahan di usia kita yang tergolong muda.


"Loe napa nikah sih, Na?" Aku masih mencecarnya.


"Iya karena ini memang sudah waktunya. Ahh, loe jangan bikin gue ragu dong, Dys. Gue butuh pemantapan hati nih, loe malah bikin gue bimbang." Ucap Dena yang malah terlihat gundah.


"Oke-oke, sorry. Ya udah anggap aja aku percaya sama loe. Terus kapan pernikahan loe diadain dan siapa pria yang mau menikah sama loe. Hem, maksudku siapa calon suamimu?" Aku bertanya, kali ini dengan nada penuh kelembutan.


Sebenarnya di dalam lubuk hatiku masih ada keraguan pada Dena yang tiba-tiba membawa kabar pernikahan, tapi dia juga membawa bukti formulir data diri mempelai. Berati dia akan menikah secara sah, bukan main-main.


Duh, benar nggak sih? Menggaruk rambutku yang tiba-tiba terasa gatal di sana-sini.


"Jadi, awalnya tuh mama gue bilang ke gue katanya mau ngenalin cowok. Awalnya aku nolak tuh, loe kan tahu kalau gue nggak mau nikah cepet Dys." Cerita Dena.

__ADS_1


"Ya aku tahu, terus-terus?" Tuntutku tidak sabar mendengar duduk perkara kabar pernikahan Dena.


"Ya terus dua minggu yang lalu aku bilang 'Ya' ke mamaku karena mama juga maksa-maksa terus. Padahal kan aku udah bilang 'nggak', Dys."


"Oh, jadi loe dijodohin?" Aku menarik kesimpulan.


"Heum.. Dengerin dulu, napa?!" Dena berdecak kesal.


"Ohhh ... oke oke, lanjut!" Aku menyangga daguku bersiap mendengarkan kelanjutan kisah Dena.


"Nah, besoknya nih. Cowoknya datang beserta keluarga besarnya, loe tahu mereka bawa apaan?" Dena melotot, sedangkan aku menggeleng sebagai jawaban atas ketidaktahuanku.


"Mereka seperti warga satu RT datang bawa pernak-pernik macam seserahan. Gilak tahu nggak?! Lo bakal mendelik kalau Lo ada di sana. Gilak!" Dena bercerita dengan meriahnya, aku ikut terbawa suasana. Mengangakan mulutku, lantas bertanya,


"Jadi, loe terpaksa dong sama pernikahan ini?"


"Heum, aku belum selesai cerita. Loe main potong-potong aja sih! Gue sembelih, nih." Ancam Dena.


Hahaha, sembelih kaya kerbau aja, wkwkwk.


"Iya iya, ampun mbak jago! Oke, lanjut!" Ujarku sembari menggebrak meja.


"Pas hari itu, pantesan mamaku nyuruh aku pakai kebaya dan datengin MUA. Gue sempat berpikir kalau aku mau dinikahkan hari itu juga. Gue sempat mau kabur lho Dys lewat jendela," melotot-lotot dia bercerita.


"Hah? Terus?"


"Terus, aku nangis juga dan bilang 'Mama kok tega ya jodohin aku sembarangan. Kalau aku nggak cinta gimana? Apa selamanya aku akan menderita hidup dan tinggal seatap dengan orang yang tidak kucinta?' Mau loncat dari jendela kamar tapi takut mati, tinggi juga kan kamar gue."


"Terus?" Semakin intens aku mendengarkannya.


"Nabrak! Terus-terus mulu sih, Dys?" Dena menggeram kesal.


"Ya, aku mau tahu ceritamu sampai tuntas." Balasku.


"Terus aku pasrah, deh. Mama jemput aku di kamar, tamunya udah kayak antrean sembako sampai ada yang lesehan di lantai ruang tamu karena saking banyaknya orang. Aku perhatikan tuh ya siapa kira-kira calon suamiku itu. Aku menjerit, saat aku lihat pria paling rapi dengan kemeja batik warna senada dengan warna kebayaku waktu itu, warna pink, Dys."


"Terus?" Menggila aku terbayang cerita Dena, mirisnya ulah perjodohan.


"Ya aku menjerit, semua orang menatapku. Untung ada mama, mama bilang tadi ada kecoa melintas di kakiku. Sumpah, Dys aku mau lari saat itu juga. Tapi mama mencengkram lenganku kencang. Aku duduk di antara mama dan papa, sampai pada akhirnya seorang laki-laki memasangkan cincin di jari manisku tanpa aku melihat wajahnya. Rasanya aku sudah ikhlas menerima siapapun itu, dan saat aku mengangkat kepalaku. Kau tahu?"


"Apa?" Aku antusias bertanya.


"Ternyata pria itu tampan banget, Dys. Sumpah! Tampan pakai banget banget bangettttt!" Dena sampai memukul-mukul meja makan di hadapannya.


"Tapi kan duda." Cetusku langsung.


"Ya... Duda nggak papa asal banyak duitnya." Jawab Dena seraya cengengesan.


"Harta, takhta, duda nggak papa asal tampan orangnya. Loe juga pasti ngiri deh kalau lihat orangnya." Dena menambahi.


"Persis sama lirik lagu ya hidup loe, Den. Udah dapat anak belum?" Kembali aku bertanya.


"Belum, Dys. Makanya aku nggak segan buat nerima. Aku bahagia deh, Dys." Dena tersenyum rona. Aku menggangguk, turut serta bahagia.


"Selamat ya, Den. Aku ikut senang, mau lihat dong cowok loe."


"Jangan! Masih rahasia, nanti loe embat lagi cowok gue!" Jawab Dena sinis.


"Sorry, Den. Nggak minat sama yang duda!" Jawabku, melambaikan kelima jari kananku.

__ADS_1


"Elehh, munaloh! Alias munafik loe!" Timpal Dena padaku.


__ADS_2