
Hari-hariku masih sama, dipenuhi warna oleh keceriaan yang aku tanamkan dalam hati dan sanubari. Cuacanya begitu cerah, tidak terlalu panas ataupun mendung. Cahaya ringan yang menyorot dari jendela ruanganku menerpa sisi mejaku. Menemaniku dengan seberkas data pada layar komputerku, terlalu menikmati sampai aku tidak menyadari ponselku telah lama bergetar ternyata sebuah panggilan.
"Ahhh! Akhirnya diangkat juga! Dysa, besok antar gue buat fitting baju ya?!" Dena memekikkan suaranya diseberang panggilan.
"Heh, salam dulu napa sih? Main teriak aja, emang gue maling perlu diteriakin?!" Protesku. Hanya Dena yang mampu mengubah cuaca hatiku yang cerah menjadi penuh kabut amarah.
Mencari tempat lumayan sepi supaya orang-orang tidak ternganggu dengan suara Dena yang sudah cetar tanpa mengaktifkan ikon loud speaker.
"Sorry, loe jawab teleponnya kelamaan sih Beb!" Ujar Dena cengengesan.
"Lah, lu kira kerjaan gue cuma nyapu ngepel lantai doang? Gue ngurusin anak orang, helloo." Benarkan, moodku ancur dalam seketika.
"Iya iya, maaf. Temani aku ya?" Pintanya.
"Nggak bisa!" Jawabku tegas.
"Please, Dys. Temani aku ya? Besok kan kamu libur." Merengek ada maunya, dia.
"Memangnya kemana duda loe?" Tukasku bertanya.
"Ya allah, ya dia sih ikut." Jawabnya.
"Ya udah, ngapain ngajak aku? Sengaja ya mau bikin aku iri? Mau pamer calon bajo ke aku ya?" Cecarku.
"Hahah, peace Dys. Sekalian aku kenalin kalian berdua. Jadi, mau ya?" Bujuknya tidak menyerah
"Jam berapa?" Tanyaku
"Jam sembilan, Beb." Jawabnya.
"Ya, jemput aku ya?" Pintaku, dan Dena mengiyakannya.
Hari ini adalah hari terakhirku bekerja di minggu ini, huftt....
Setelah seminggu lelah bekerja, akhirnya ada juga yang ngajak jalan di akhir pekan.
"Bunda dokter!" Pekikkan cempreng dari arah belakang, aku menoleh.
"Oh, Bella." Bella menubruk tubuhnya yang sudah jongkok dan merentangkan tanganku.
__ADS_1
"Bunda dokter bohong!" Ujar Bella setelah melepas pelukannya.
Aku mengernyit, mengelus pipinya yang mulus dan super pluffy.
"Hemm, bunda dokter bohong soal apa, sayang?" Tanyaku, ayahnya kemudian datang dan berdiri di belakang anak itu.
"Bunda dokter 'kan sudah janji kalau rindu Bella nanti telepon di hape Papa. Tapi setiap kali Bella tanya Papa, katanya dokter tidak pernah telepon Papa? Huhh?!" Gerutu manja anak di depanku ini, dia bahkan bersedekap dada. Sungguh manisnya saat anak kecil merajuk.
"Ohhh, bunda dokter nggak bohong kok. Sebenarnya, bunda dokter memang tidak rindu pada Bella, jadi bunda dokter tidak menelepon hape Papa Bella." Aku mengomporinya.
Hahaha.... Uh enak ya kalau sudah menggoda anak ini.
Bella lantas murung dan menyingkirkan tanganku dari pipinya, dia lantas berbalik arah dan berjalan ke arah sang Papa.
"Papa, kita pulang." Ucapnya sendu.
Hah? Apa Bella marah?
"Ehh? Katanya mau ketemu dokter Dysa?" Tanya sang Papa.
"Tidak jadi, dokter Dysa ternyata tidak merindukan Bella." Omongnya penuh nada kekecewaan.
Huhuhu,lucu sekali anak ini. Aku berjalan ke arahnya dan berhenti di hadapannya. Memegang kedua bahu kecilnya lantas berkata,
"Bunda dokter tidak bohong?" Mata gadis kecil itu menatapku penuh selidik.
"Bunda dokter jujur, sayang. Mana ada bunda dokter melupakan pasien-pasien kecilku?" Ujarku. Bocah itu lantas memeluk leherku,
"Bella rindu, setiap hari Bella bercerita pada teman-teman Bella kalau Bella punya bunda dokter yang cantik dan baik hati," ucapnya. Aduh, aku terharu lho.
"Ya ya ya, bunda dokter juga merindukanmu. Bella sengaja kemari hanya ingin bertemu bunda dokter? Apa Bella tidak sekolah?"
"Bella ikut Papa beli obat di sini. Bella mengatakan pada Papa kalau Bella ingin bertemu bunda." Aku baru sadar bahwa Papa Bella mencangking bingkisan obat berlabel rumah sakit ini.
Mendengar Bella menyebut bunda tanpa tambahan dokter membuat hatiku terperas, terdengar sangat tulus saat memanggilku bunda. Seperti aku meraskan bahwa si kecil ini sedang merindukan sosok ibu dalam hidupnya. Apa ayahnya tidak berniat mencari ibu pengganti untuknya? Huhu, tahu apa aku?
"Ohh, oke. Mau ikut ke ruangan bunda dokter?" Ajakku, Bella terperanjak dan menggangguk antusias.
"Yuk, masuk. Silakan duduk, Bella. Silakan duduk, Papa Bella."
__ADS_1
"Bella mau minum apa, sayang? Susu? Teh? Air putih? Atau milkshake?" Tawarku mendikte.
"Hah? Ada milkshake ya bunda dokter?" Dia memekik keras.
"Ada dong." Jawabku.
"Mana? Bella mau!" Dia berjingkat di atas sofa.
"Tapi bukan di sini. Sementara di sini stok milkshake sedang kosong. Jadi, minta Papa Bella yang membelikannya saja ya di luar? Haha." Aku berkilah mencari alasan.
"Tapi kalau minum yang lainnya ada kok. Bella maunya apa?" Harap-harap anak ini mengatakan ingin teh manis saja yang gampang diseduh.
"Tapi, bukannya cuma ada air putih di dispenser itu?" Bella menunjuk dispenser di sudut ruangan ini. Si cerdas Bella sudah paham bahwa ruangan yang sempit ini sudah memerlihatkan segala isi di dalamnya.
"Hehehe, iya Bella benar." Susahnya membodohi anak yang sudah paham.
Dua jam kami bermain bersama, aku menunjukkan cara kerja stetoskop. Bella tertawa riang saat dapat mendengar detak jantungku, sang Papa, bahkan dirinya sendiri.
"Bunda dokter, Bella pulang dulu ya?"
"Iya sayang, jangan lupa mandi sore ya?"
Aku melambaikan tangan padanya.
"Siapa dia dokter?" Suara itu berbisik sangat dekat di telingaku.
"Ohh ya Allah! Bang Andre." Responsku terjingkat, memukul lengannya.
"Hehe, siapa dia?"
"Dia itu mantan pasien kecilku dan ayahnya."
"Panggilnya bunda dokter?" Baru tahu, dia.
"It's okey. Aku tahu rasa kesedihannya, ibundanya sudah meninggal, dok." Jawabku.
Kulihat dokter Andre mengangguk,
"Tapi, kamu tidak berniat akan menjadi ibu penggantinya 'kan?"
__ADS_1
Aku mengernyit,
"Maksud bang Andre?"