
Sampai di halaman rumah sakit tempat aku bekerja. Begitu mobil Edwin terparkir sempurna, aku segera menjejakkan kakiku keluar dari kendaraan itu tanpa berpamitan dengan si empunya, aku yakin bahwa Edwin pasti sudah memahami situasiku. Setengah berlari aku menuju ruanganku, penasaran dengan si kecil yang menangis karena menunggu kedatanganku.
“Dokter Andre? Mana anak kecil yang menangis itu?” Aku bertemu dengan si pemberi kabar.
“Dia berada di ruanganmu dengan Tati,” jawabnya. Tati yang dulu asistenku, kini sudah menjadi perawat di rumah sakit ini dan dia masih sering membantuku.
“Baik, mau kemana Bang? Buru-buru sekali?” Tanyaku pada bang dokter Andre yang terlihat lebih serius dari pada biasanya.
“Sorry, Dys. Aku lagi ada pasien darurat. Aku duluan ya, bye.” Ujarnya lantas langsung pergi meninggalkanku.
Sampai juga di ruanganku, kulihat Tati sedang duduk di sofa sembari membolak-balikkan lembaran data para pasien tanggung jawabnya.
“Ti, dimana anak itu?”
“Oh, dokter Dysa.” Dia terkejut melihat kedatanganku yang tiba-tiba berada di sampingnya.
“Dia tidur, dok. Di sana, sepertinya dia kelelahan karena menangis lama tadi.” Ujar Tati menujuk pada brankar di balik tirai.
Aku lega, setidaknya tidak terjadi apa-apa pada anak itu. Sembari meletakkan tas pada tempat tersedia, aku kembali bertanya padanya 'siapa anak itu?'
“Dia Bella, dok. Pasien Anda waktu itu.” Jawab Tati,
“Apa? Bella?! Dia kemari dengan ayahnya?” Tanyaku sembari membuka tirai, dan benar saja Bella terbaring tidur di atas brankar.
“Tidak tahu, tapi saat saya datang Bella sudah menagis berjongkok di depan pintu ruangan Anda. Beberapa dokter dan perawat mencoba menenangkannya, tapi dia tidak mau dan semakin menangis keras.”
“Apa sudah dihubungi pihak orang tuanya?” Tanyaku lagi.
“Tadi sudah ada yang mencari data keluarganya, tapi saya kurang tahu apakah sudah dihubungi atau belum.” Ujar Tati. Tidak lama, ia lantas berpamit pergi karena harus menyerahkan data para pasien ke administrator.
Apa benar ya dia kemari sendiri?
Membiarkan anak itu tertidur nyaman, sedang aku memilah-milah file pada layar komputerku, jadwalku memeriksa para pasien hanya menunggu pergantian shift sekitar satu jam-an lagi. Tiba-tiba terdengar rengekan dari balik tirai di belakangku, aku mendekat rupanya Bella sudah turun dari brankar.
“Bella?” Sapaku, gadis kecil itu menoleh dan,
“Bunda dokter…… ahhh!” Ia langsung berlari mendekapku dengan eratnya.
“Hei.. Kenapa, sayang? Ada apa denganmu?” Namun, Bella bungkam tak merespons pertanyaan.
“Bella kemari dengan siapa, Nak?” Lanjutku bertanya, sedang anak itu hanya menangis tanpa berkata.
Aku membopongnya dan membawanya duduk di pangkuanku, membiarkan dia meluapkan tangisannya. Memeluk erat leherku dan membenamkan kepalanya pada bahuku.
“Ada apa? Beri tahu pada bunda dokter apa yang telah terjadi, hem?” Tangisannya tidak lagi terdengar dan mulai tenang.
“Bella.. Bell.. Bella pergi. Huks huks huks, Bella pergi dari rumah, bunda dokter.” Ucapnya tersengal-sengal sisa sesegukkan.
Sebisa mungkin aku tetap tenang menyembunyikan keterkejutanku,
“Kenapa bisa begitu? Papa Bella pasti sangat khawatir dan mencari Bella saat ini.”
Bella menggeleng,
“Papa tidak ada, Papa tidak ada di rumah sejak kemarin. Bella… huks huks, Bella sendiri. Bella dimarahi Oma, Oma memukul Bella, in… ini, lihatlah bunda dokter.” Bella menunjukkan luka lebam pada lengan atas tangan kanannya. Tercetak jelas gambar jari membekas di sana.
“Oma jahat, Bella tidak suka. Be.. Bella lalu pergi dari rumah.” Lanjutnya memberitahuku.
“Lalu, Bella kemari diantar siapa?” Aku yang masih belum puas bertanya,
“Diantar orang. Saat bella lari di jalan, ada orang membawantu Bella untuk sampai di sini.” Ujar Bella. Diam-diam satu tanganku mengetikkan sesuatu pada ponselku, mengirimkan pesan singkat kepada ayahnya untuk memberitahukan keberadaan anaknya saat ini. Bagaimanapun kejadian ini tidak benar dan Bella butuh pengawasan ekstra dari orang tuanya.
“Bella tidak boleh seperti ini ya? Ini berbahaya, sayang. Jangan diulangi lagi ya?” Ujarku kemudian. Lantas ponselku berdering, menunjukkan nama Papa Bella di sana.
“Papa bella menelpon.” Lirihku memberitahu Bella.
“Hallo, selamat siang.” Ujarku membuka percakapan.
__ADS_1
“Iya, siang. Dimana anak saya? Mohon berikan ponselnya pada Bella, dokter.” Ujar papa Bella tergesa-gesa.
“Bella, ini Papa ingin bicara dengan Bella.” Aku menekan ikon loud speaker,
“Ha… hallo, Pa?” Sapa Bella.
“Sayang, tunggu papa datang. Okey? Jangan kemana-mana, please.” Suaranya menggambarkan seorang ayah yang sedang begitu cemas.
“Ya, papa.” Lirih Bella.
“Baiklah, papa langsung ke sana sekarang. Papa matikan dulu teleponnya.” Sambungan telepon terputus.
“Bella tidak mau pulang, Bella mau di sini saja.” Ujar Bella padaku.
“No, Bella masih punya Papa. Papa bella sangat sayang sama Bella.”
Anak itu terus saja menggeleng, aku mengalah bukan saat untuk membujuknya.
“Baiklah, kita beli makanan dulu ya? Bella pasti belum makan.” Aku membawa Bella ke kantin rumah sakit, memesankan seporsi mie goreng dan es jus apel untuknya.
Drttt…Sambala…
“Papa Bella menelpon lagi, sayang. Ayo bicara,”
“Hallo, Pa.”
“Bella sekarang dimana?”
“Bella sedang makan di…” Bella mengendikkan alisnya padaku,
“Kantin rumah sakit.” Mulutku mengeja tanpa suara.
“Kantin rumah sakit,” Lanjut Bella pada ayahnya.
Tidak menjawab malah langsung diputuskan sambungannya.
Prang……
Aku dan Bella terjingkat kaget.
Piring berisi mie goreng milik Bella terbang dan terbalik seketika,
“Papa Bella apa yang Anda lakukan? Bella, dia…”
“Tidak, dokter! Ini urusan saya dan Bella.” Seperti singa yang mengintai mangsanya, tatapannya begitu angas padaku dan Bella, anaknya.
“Papa kecewa dengan Bella, tidak berpikirkah kamu sebelum pergi dari rumah? Hah?!” Bentaknya menggema.
Bella tertunduk diam, bahunya naik turun tanda dia sedang menangis,
“Jawab Papa, Bella!” Suara bentakkan memenuhi kantin rumah sakit tersebut, menjadi sorotan pengunjngan kantin, kemudian datanglah ibu kantin.
“Kenapa kamu bisa pergi sejauh ini?! Jawab Papa!” Ujarnya lagi, dada pria itu naik turun, ucapannya dipenuhi amarah.
Hening…
“Maaf… Ada apa, Pak? Bu dokter?” Tanya pemilik kedai di kantin itu.
“Oh, tidak apa-apa Bu. Mohon maaf,” Jawabku.
“Pak Denis, tidak baik memarahi anak di depan umum. Kita bisa bicarakan ini di ruangan saya saja, saya mohon.” Ucapku yang setelah beranjak dari tempat dudukku.
“Bella, ayo pulang!” Ucap pria itu lantas menarik tangan Bella dari kursinya dengan kasar. Sedang Bella menjerit kesakitan dan terus berteriak memanggilku, meminta pertolongaku atas dirinya yang tengah di paksa berjalan menuruti langkah ayahnya.
“Stop!”Aku meraih sebelah tangan Bella, anak itu kini berada di gandenganku.
“Kita bisa bicarakan baik-baik, Pak Denis. Perbuatan seperti ini akan memengaruhi psikis Bella nantinya,” Dengan suara pelan aku mencoba memberitahunya, tidak peduli tatapan kemarahannya yang sedang memuncak.
__ADS_1
“Ini urusan ayah dengan anakknya, Bella tidak akan menjadi pembangkang jika aku mendidiknya dengan benar.” Ujar pria bernama Denis itu, ia kembali hendak meraih Bella yang tengah bersembunyi di belakangku. Sedang Bella terus saja menghindar dari ayahnya, meremas kemejaku dan kurasakan pegangannya bergetar karena ketakutan.
“Bella, ayo ikut Papa.” Ujarnya lebih tenang. Bella semakin menghilangkan wajahnya di balik kemejaku.
“Bella.” Panggilnya datar.
“Kita ke ruang saya dulu, Pak Denis.” Ajakku, Bella dalam gandenganku. Sesekali aku melihat si anak ini melirik ke arah ayahnya yang berjalan bersebelahan denganku di sisiku yang lain.
Duduk pada sofa, sedang Bella lebih memilih duduk di sebelahku, berseberangan dengan ayahnya.
Aku mengetikkan pesan singkat pada Bang Andre dengan tujuan membawa Bella pergi sebentar sementara aku hendak berbicara dengan ayahnya yang masih di rundung amarah, terlihat dari mimik wajahnya yang begitu tegas dan merah padam menatap anaknya dengan tatapan tajam.
Bang dokter Andre datang,
“Bella, bisa ikut paman dokter itu sebentar ya?” Ujarku, Bella menggeleng setengah tidak yakin pada paman yang aku maksudkan.
“Tenang, paman orang baik kok. Bukan king lion yang suka menerkam dan memangsa, ayo ikut paman. Kita main tutul-tutul.” Ujar bang andre seraya memeragakan stetoskop pada dadanya.
Tutul-tutul apaan?
Kirain main macan tutul.
“Sudahlah, ayo Bella kita pulang saja.” Ucap Denis, pria itu mengulurkan tangannya pada Bella, tidak disangka Bella beranjak mendekat tapi tidak kepada ayahnya, melainkan kepada bang Andre.
“Thanks, dok.” Bibirku bergerak tanpa suara.
Bang Andre dan Bella sudah tidak ada, hanya ada aku dan si papa Bella.
Mengembuskan napas pelan,
“Sebelumnya saya meminta maaf karena Bella lebih memihak saya dalam uapaya menghindar dari masalah keluarganya, tapi Pak Denis, saya memberitahu keberadaan Bella pada Anda bukan untuk membuat Anda memarahinya. Saya tahu anda kesal karena Bella kabur dari rumah, tapi…” ucapku terjeda karena disesalnya.
“Bagaimana saya tidak marah, saya sangat cemas karena dia masih kecil. Bagaimana bisa dia sampai kemari hanya demi menemui Anda?!” Ujar ayah Bella dengan nada tenornya.
“Dengarkan saya dulu, Pak Denis. Ini bukan kemauan saya, Bella datang sebelum saya sampai, dan para dokter lain saksinya. Bella tidak akan kabur jika dia merasa nyaman dan aman di rumahnya.”
“Tapi, Bella kabur sejauh ini bukan perkara kecil. Jika bukan Anda yang memengaruhi hidup Bella, dia tidak akan lari dari rumah sejauh ini apapun masalahnya. Anda yang…” Ucap papa Bella menudingku, aku menyergah,
“Karena dia bingung harus kepada siapa dan kemana lagi dia akan berlindung,” jawabku, papa Bella dibuat bungkam.
“Dia mencari sumber perlindungan dan kasih sayang, anak seusainya sangat mudah terguncang. Dampaknya akan berlanjut pada kondisi mental anak Pak Denis sendiri. Pikirkan sekali lagi sebelum bertindak, Pak.” Berhenti sejenak, mengatur tempo bicaraku supaya dapat terserap dalam ingatannya.
“Memori anak seusia Bella masih tajam merekam apa yang ia dengar, rasakan, dan perlakuan dari lingkungannya. Jangan menjadi orang tua yang egois seolah anak sudah dewasa dan mengerti segala permasalahan orangtuanya.” Ujarku memberitahu dari hati ke hati.
“Bella, dia anak yang kuat. Dia pernah memberitahu saya bahwa ibundanya sudah tiada. Dia juga mengatakan bahwa dia tidak perlu sedih karena ibunya sudah bahagia dan menunggunya di surga. Benar 'kan itu ucapan Anda kepadanya?” Pria itu diam dalam tunduknya.
“Bella terlihat bahagia karena Anda-lah satu-satunya alasan untuk dia bertahan, kuat dalam menjalani hari-harinya meski tanpa sosok ibunda, Bella mengenal Anda sebagai seorang ayah yang sangat menyanyanginya, sumber kekuatannya, sumber kasih sayangnya, begitulah yang dirasakan Bella.” Sambungku.
Kulihat ayah Bella mengangguk-anggukan kepalanya,
“Saya tahu, Dok. Begitulah yang saya mau, saya tidak mau dia bergantung pada orang lain selain saya, ayahnya.” Ucap papa Bella.
Aku menyuguhkan secangkir air mineral untuknya,
“Silakan diminum dulu, Pak Denis.”
“Terima kasih.” Dia mengambil cangkir lalu meneguk isinya.
“Anggap saja saya di sini sebagai mediator, saya tidak ada maksud membuat Bella bergantung pada saya. Semua para pasien bahkan para anak kecil, saya perlakukan mereka dengan sama. Saya memberikan ketulusan dan kelembutan pada mereka karena saya yakin apa yang ditanamkan pada diri sang anak, maka itulah dia saat besar kelak. Benar begitu, Pak?” Tanyaku meminta pendapatnya, dia mengangguk.
“Mendidik anak tidak semudah membalikkan telapak tangan, saya tahu rasa hati Pak Denis. Terkadang Anda lelah dan merasa tidak mampu untuk berperan ganda menjadi ayah sekaligus ibunda untuk Bella. Tapi saya paham betul atas semua kejadian yang menimpa Anda, ingatlah bahwa Tuhan selalu bersama kita. Dia tahu kita mampu untuk melewati jalan mana yang harus kita tempuh.” Kembali aku memberikan jeda bicara.
“Kepercayaan dan karakter seorang anak, untuk membentuknya tidak lain hanya diri orangtuanya yang mampu mencontohkan apa yang mereka harapkan pada anaknya kelak. Akankah si buah hati akan tumbuh kuat, pendendam, proaktif, cengeng, dan sebagainya, itu semua tergantung dari perilaku orang tua. Ingatlah pada kalimat yang mengatakan bahwa Your child that you are.” Ujarku.
Kulihat ayah seorang Bella itu menunduk menangkupkan wajahnya, terlihat frustrasi dengan perbuatannya sendiri.
“Kau benar dokter Dysa, kau benar. Aku salah, akulah yang salah. Aku ayah yang egois. Bella, anakku yang malang.” Dia menangis di depanku, aku tahu di balik sikapnya yang garang ternyata ada sisi dirinya yang tertekan.
__ADS_1