
Sebelum mentari menyapa keluar dari tempatnya, aku sudah bersiap. Menyiapkan segenap jiwa dan raga untuk menguasai diri mengisi materi di sekolah yayasan milik Papa. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku kembali mencuat di atas panggung untuk bercuap-cuap membagikan sedikit ilmuku. Bangga rasanya, setiap helaan napasku menjadi semangat bagi orang-orang di sekitarku. Tentunya Papa Mama, keluarga, dan teman-teman yang mengenalku. Mungkin salah satu temanku ada yang sudah menjadi wali murid di sana.
Duh, gugupnya aku….
Yah, akhirnya aku datang juga ke acara perayaan hari gizi nasional di sekolah milik Papa. Tidak sepenuhnya aku izin bekerja hari ini, selepas zuhur nanti aku harus kembali ke rumah sakit. Aku masih profesional untuk bisa membagi waktu keduanya.
Datang bersama keluargaku, menjadi tamu kehormatan di sini. Banyak anak-anak yang menyambut kami, berbanjar rapi hanya untuk mencium tangan, mungkin anak-anak sudah dibrieffing terlebih dulu oleh pihak sekolah. Di sebelah tanganku memegang puluhan balon untuk diberikan pada anak-anak itu. Tawa riang gembira keluar dari semua mulut kecil, makhluk tak berdosa ini.
“Bunda dokter!” Salah satu anak memanggilku demikian. Papa, mama, dan kakak-kakakku terkejut atas pekikan itu.
Celingukan mencari sumber suara, tidak ada yang lain yang memanggilku bunda dokter kecuali Bella seorang.
“Bunda dokter?” Sekali lagi suara anak itu memanggilku. Berdiri tepat di hadapanku seorang anak perempuan berkuncir dua.
“Hah? Bella?” Terkejut bukan main, lantas berjongkok di hadapannya.
“Bella rindu,” lirih sendu suara Bella yang dilanjut dengan memeluk tubuhku erat.
“Hai, teman-teman! Inilah bunda dokter yang aku ceritakan. Bunda dokter Dysa namanya.” Bella berteriak mendominasi teman-temannya.
“Selamat datang bunda dokter…” Teman-teman sebayanya lantas memelukku secara bergantian. Bagaimana hatiku tidak mengharu biru dengan ini?
“Terima kasih anak-anak.”
Hatiku berdenyut, tersanjung atas penyambutan tidak terduga ini. Tidak duduk di tempat kebesaran bersama keluargaku. Aku memilih duduk di tengah-tengah sekumpulan anak-anak seusia Bella di sini. Bercerita, tertawa, bergurau dengan anak-anak yang ceria seakan tidak ada beban di hidupnya. Dengan gemas, Bella menceritakan bahwa dirinya bisa menggunakan stetoskop karena aku yang mengajarkannya. Anak-anak itu semakin dekat denganku, bergelayut, memeluk, dan mencium pipiku.
Bahagia bukan, jadi diriku?
Sampai pada akhirnya aku naik ke podium utama untuk mengisi materi tentang pilihan nutrisi seimbang dan hal-hal yang berhubungan dengan gizi untuk tumbuh kembang anak, sasaranku tepat pada orang tua wali murid yang hadir di sana. Pada sesi pertanyaan, aku menjawab semua pertanyaan dari para wali siswa.
“Bunda dokter, bagaimana menghilangkan kebiasaan anak yang suka jajan makanan ringan?”
“Bunda dokter, apa yang perlu dilakukan orang tua jika si anak masih mengompol?”
“Bunda dokter, apa saja yang perlu kita lakukan jika si anak tidak suka sayuran dan buah?”
“Bagaimana solusi supaya si anak tidak terlalu banyak memimum susu formula?”
Aku menjawabnya satu per satu. Dengan tenang dan mengarahkan para ayah dan bunda solusi dan tips untuk menghadapi kesulitan putra-putrinya.
“Bunda dokter! I love you.”
“Cinta bunda dokter, so much.” Begitulah teriakan anak-anak saat aku turun dari podium.
Sampai acara penutupan yakni memimun susu bersama, dan berakhirlah perayaan hari gizi di sekolah. Sedangkan Bella dan kawan-kawannya masih berada di sekelilingku.
“Bunda dokter, Rafa pulang dulu ya.” Ucap anak bernama Rafa.
“Terima kasih bunda dokter Dysa.” Mamanya menambahkan.
“Bunda dokter Dian pulang dulu ya.” Begitu izinnya anak-anak menggemaskan ini. Hanya tinggal beberapa anak yang masih berada di sekitarku.
“Dysa, ayo pulang.” Ajak Mama.
__ADS_1
“Hem, sebentar lagi Ma.” Jawabku,
“Ayolah, Nak...”
“Papa dan kak Galih mana Ma? Mbak?”
“Itu di sana.” Mama menujuk salah satu tempat. Kak Galih dan Papa sedang berdiri berbincang dengan para wali murid, termasuk kulihat ada Papa Bella di sana.
Sudah selesai, mereka mendekat.
“Bella, ayo pulang.” Ajak ayahanda Bella.
“Bunda dokter, Bella pulang duluan ya? Muah.” Bella, anak ini mengecup dahiku untuk yang sekian kalinya.
“Iya, hati-hati ya sayang.”
“Mari bu Dysa.”
“Iya, pak Denis. Silakan…” Memersilakan ayah dan anak itu pergi.
Di dalam mobil, Kak Galih sebagai pengemudinya.
“Dysa, tadi itu lho yang Kakak ceritakan padamu.”
“Siapa, Kak?”
“Ayah Bella.” Mendelik tidak percaya, kakakku ternyata kenal dengan keluarga Bella.
“Tampan kan? Dia itu CEO Mirabella Industrict, lho.” Ungkapnya memerjelas. Semua orang tahu apa itu Mirabbella industrict. Perusahaan yang bergerak di hampir segala bidang, kosmestik, statiun pertelevisian, parfume, mall, perhotelan, dan lain-lain.
Gila ya Dena, dapat suami tajir melintir. Benar katamu, Dena. Aku iri denganmu. Aku pasti bagaikan sebutir debu di hidupmu sekarang, huhu 🤧
“Kok mangap terus? Mingkem napa!” Mama mencomot mulutku.
“Ah, Mama..”
“Kenapa kakak nggak bilang langsung sih, kak? Langsung bawa ke rumah saja kan bisa. Kamu kan temen sekolahnya.” Mama menepuk lengan tangan sang pengemudi.
“Galih juga pikir-pikir lagi, Ma. Sebab dia juga sudah duda, beranak satu lagi. Nanti kalau Dysa nolak malah Galih juga kan yang malu.” Terungkap juga argumennya.
“Duda ya nggak papa, berita menyebutkan bahwa dia itu duda karena istrinya meninggal kan? Bukan karena perselingkuhan.” Ujar Mama.
“Hah? Kok mama tahu beritanya? Tahu dari mana?” Kini aku yang berujar, lagi-lagi aku dibuat terkejut. Mama sudah tahu hal seprivat itu yang selama ini aku tutup-tutupi, bahkan aku merasa unggul karena mendengar berita ini langsung dari sumbernya (Bella).
Jadi, selama ini aku berinteraksi langsung dengan orang ‘gedean’. Harusnya aku bisa meminta swafoto bersama CEO itu ya? Hah? Bahkan aku pernah menasihatinya secara cuma-cuma di ruanganku.
“Kamu terlalu sibuk dengan para pasienmu, tahu apa kamu dengan dunia selebriti.” Sombongnya Mama, beliau pemilik grup chat khusus membahas dunia pergossipan. Tidak mungkin sang ratu kompleks ini tertinggal berita terkini, real news and hot news seakan ada dalam genggaman Mama. Dari berita tukang besi sampai pejabat tinggi, tidak ada yang Mama lewatkan.
“Duda atau bujang sama aja. Apalagi punya anak, bukti bahwa dia laki-laki sehat bukan?” Tiada malunya mama membicarakan hal seperti itu.
“Ma, apaan sih. Pak Denis itu suami Dena, tahu nggak?” Ujarku. Mama terbelalak lebar.
Plak! Plak!
__ADS_1
“Au, kok malah dipukul sih?” Meringi, panas betul bekas tampolan Mama.
“Apa kamu bilang?! Jadi Dena itu Dena sahabatmu? Cantik betul saat Mama lihat ijab kabulnya disiarkan langsung di TV.” Mama merasa pangling dengan sosok Dena yang sering mampir ke rumahnya.
Haha, tuh Mah. Giliran berita ini, Mama nggak tahu kan? Dena lho ini, Dena yang sering nginep di rumah Mama. Tidur sekamar dengan anak Mama ini. Inginku berkata demikian, ya tapi tidak enak saja. Mama merasa tersaingi nanti, wkwk...
“Ya, dia suami Dena. Mama kenal Dena ‘kan? Sahabat aku itu?” Bukan maksud memancing kemarahan Mama, sekadar memberitahukan kebenarannya saja. Tapi, mama malah menoyorku. Mama itu mama kandungku bukan sih? Beginilah aku, menjadi bahan bully-an mamaku sendiri.
“Kenapa pada ketawa sih?” Papa, kakak, kakak ipar, bahkan Adel ikut tertawa melihatku yang terpojokkan karena ulah Mama.
“Sebab, kamu itu stupid Dysa! Entah terbuat apa hati dan pikiranmu itu. Sekolah tinggi-tinggi tapi hati dan otakmu kaya mati.” Ya allah, Ma. Terserah apa katamu saja dah.
Apasih yang harus aku sesalkan? Kenal aja nggak, lagi pula aku kenal dia karena anaknya adalah pasienku. Hubungan kami resmi karena urusan medis belaka. Lagi pula aku tidak pernah berharap menjadi istri dari seorang pria siapa pun dia.
“Kakak sih, kenapa juga sih bahas ini di depan Mama? Kan Dysa yang bonyok sendiri nih.” Mengelus pelipisku yang terasa kebas karena tonyoran mama berulang-ulang.
“Hahaha, peace Dys.”
“Makanya cari pacar. Mama nikahin sama anak teman mama mau?”
“Apa sih Mama? Maksa banget buat Dysa nikah? Ma, dengar sih. Kalau Dysa nikah, secara otomatis Dysa akan jadi ibu rumah tangga. It makes new problem in my life. I think, I will say ‘Nope’! Oke ma? Please, Ma. Bukan sekarang.” Memohon belas kasih Mama, sehari saja ingin rasanya aku tidak mendengar kecaman soal menikah, menikah, dan menikah. Seperti zaman manusia purba saja.
“Ya, setidaknya Mama sudah melihat kamu punya pandangan masa depan. Mama nggak akan selamanya ada buat…” Omel Mama
“Ma… sudah,jangan ribut.” Mama diam saat itu juga. Jika papa dengan lembutnya melerai perdebatan yang ada, Mama luluh juga.
Hening beberapa saat....
“Adel mau makan es krim!”
“Ayah, Adel mau eskrim rasa strawberry. Adel mau makan eskrim, ayah.”
“Iya, nanti dirumah ya?”
“Adel mau makan kentang goreng, bunda.”
“Tidak, itu tidak sehat!” Tegas Mbak Ella berkata.
“Bunda, please… Eskrim sama kentang goreng
saja, please Bun..” Merengek.
“Hei, Adel tidak sadar kalau di sampingmu ini ada dokter? Disuntik mau, hah? Jarum suntik dokter Dysa tajam lho.” Tega atau tidak, mbak Ella menakut-nakuti anaknya sendiri.
“Takut nggak?” Bunda muda itu bertanya kepada anaknya yang tengah merengek manja di pangkuannya.
“Adel tidak takut, tante Dysa tidak akan menyuntik Adel karena tante Dysa lagi ngambek. Wleee…!”
Adel berujar seraya mencubit daguku.
“Hahaha..” Baiklah, anggota keluargaku menertawakanku.
Sial, anak kecil ini tahu caranya mengejek diriku...
__ADS_1