
Gemuruh hatiku, rasanya ingin menjelaskan pada mas Dika saat itu juga. Aku salah, harusnya tidak kutinggalakan mereka begitu saja, harusnya aku ada di sana, harusnya aku tidak mandi terlalu lama, harusnya, harusnya, harusnya, dan seharusnya ini tidak terjadi jika Mas Dika menurut dan tidak mengantarkanku masuk ke rumah.
Lebih dari sepuluh panggilan, namun tidak ada satu pun jawaban. Mungkin, masih di jalan.
“Bismillah, ini yang ke sebelas.” Aku mendial nomornya.
Gusrak, gusrak… terangkat juga.
“Halo, assalamualaikum, Mas.”
“Waalaikumussalam.”
“Mas Dika, Hemm” Aduh, aku harus mengatakan apa ya?
Menggigiti kuku-kuku jari kananku.
Sumpah, harus mulai dari mana?
Apa aku pura-pura tidak tahu saja ya?
Bingung, ya allah….
“Mas Dika?”
“Iya, kenapa Dysa?”
Ada yang berjedag-jedug di rongga dadaku, seakan suara denyut jantungku terdengar sampai ketelingaku.
Yang di seberang sana pun sama diamnya denganku, aku tahu rasa hatimu, Mas.
“Mas Dika? Hem.. Sudah sampai rumah kah?”
“Hem, iya sudah.” Duh, pendek banget jawabannya.
“Langsung basuh pakai air hangat ya Mas. Jangan sampai kena flu. Hem…(memikirkan kalimat apa lagi yang harus aku katakan selanjutnya).”
“(diam)”
“Mas? Kamu masih dengar?”
“Iya bu dokter.” Jawabnya yang kutahu ada semburat senyum di sana.
“Hem, ya sudah ya. Dysa tutup dulu teleponnya, selamat beristirahat. Wassalamualaikum.”
“Ya, waalaikumussalam.”
Dari nada bicaranya, dia tidak terlihat marah, artinya dia tidak memedulikan ucapan Mama. Bagaimanapun juga kita tidak boleh menyakiti hati siapapun kan?
Libur akhir pekanku tersisa satu hari, ingin menanyakan kabar Dena yang telah lama tidak bertukar suara. Ya, bisa apa selain menelpon nomornya.
“Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar…”
“Nggak aktif sih?”
Panggilan kedua,
Panggilan ketiga,
Panggilan ketiga,
Panggilan kesepuluh, sama saja.
Hanya operator dengan nada bicaranya yang sudah mendarah daging di indera pendengaranku.
Teringat pada satu nomor telepon yang aku miliki, Papa Bella. Berpikir sejuta kali untuk mendial nomornya, aku ragu sang pemilik akan mengangkat panggilanku.
Satu kali klik, bunyi sambungan telah terdengar.
“Halo?” Suara berat seorang pria.
“Ha.. halo…” Kok aku gugup dan ragu dengan suaraku sendiri.
__ADS_1
“Iya, dokter Dysa. Ada apa?”
Waduh, dia sudah tahu yang menelpon aku. Padahal aku ingin mengatakan salah sambung tadi. Huhu :(
“Halo, pak Denis. Iya, saya ingin berbicara pada Dena. Mohon maaf menganggu, tapi nomor Dena tidak aktif saat saya hubungi.” Jelas, dan lugas aku memberitahu tanpa diminta. Aku tahu dengan siapa aku bicara saat ini, seseorang yang sangat sibuk.
“Maaf pak, saya tidak tahu jika bapak sudah datang terlebih dulu.”
“Iya, iya, silakan duduk.”
“Maaf, pak. Anda sudah di sini?”
“Tidak apa-apa, silakan.”
“Maaf pak, kami terlambat.”
Banyak suara yang terdengar keluar dari ponselku, aku rasa dia sedang sibuk. Tahulah, tak tahu diri aku ini. Di tengah kesibukannya meski di akhir pekan seperti ini, dia bahkan tidak sadar ponselnya masih terhubung denganku.
Oke, aku memutus panggilan tanpa berujar pamit.
“Sibuk sekali dia ini, aku jadi iri.”
“Coba lagi deh, telepon Dena.”
Dan tidak tersambung pula, masih sama diluar jangkauan. Mengecek media sosialnya, dari si biru aplikasi chating kuno, sampai si hijau terobosan terpopulernya, dan hijau-hijau lainnya. Dari semuanya, tidak ada satu pun tanda-tanda bahwa pesanku terkirim dan pasti akan terbaca.
“Dena belum mati kan?” Cetusku saat itu juga.
“Sudahlah, mungkin sekarang dia tengah menikmati kehidupan barunya sebagai seorang wanita sosialita. Dan aku yakin, dia pasti sudah tahu tentang Bella.” Simpulan dari mulutku.
Membiarkan tubuh terbaring setengah melentai pada ranjangku, mataku lama-kelamaan mengantuk juga. Belum sepenuhnya lelap, kembali harus terjaga saat ponselku berdering dengan kerasnya.
“Papa Bella?” Terkejut, dan bangkit dari rasa kantukku.
“Halo… Assalamualaikum.” Eh?
“Waalaikumussalam, maaf dok. Tadi saya sedang meeting, apa ada sesuatu yang penting?”
“Oh,” yakan aku yang merasa tidak enak, setidak penting inikah aku membuang waktunya.
“Dok?” Iya, aku tahu Anda tidak punya banyak waktu.
“Saya hanya hendak bertanya kabar Dena, tapi ponselnya sedang tidak aktif sekarang. Saya pikir bisa menghubungi Pak Denis, maaf mengganggu waktu Anda.”
“Oh, begitu ya.. Saya sedang di luar kota. Nomornya memang baru, tunggu sebentar, saya akan saya kirimkan nomornya pada Anda.” Berwibawa sekali nada bicaranya, aku seperti klien yang sedang berbincang tender.
“Iya, terima kasih banyak Pak Denis.”
“Yaa, saya tutup dulu teleponnya.”
Belum menjawab, sudah terputus sambungan teleponnya.
Satu pesan masuk dari salah satu aplikasi hijau yang tersambung langsung dengan nomor telepon, nomor kontak bertuliskan nama ‘Dena’ aku turut menyimpannya.
Mendial ponselnya lewat aplikasi chat yang sama, tersambung.
“Halo, maaf dengan siapa?” suara Dena, aku agak takjub dengan suaranya yang terdengar lebih lembut dari biasanya.
“Dena? Aku Dysa.”
Hening..
“Dena?”
“Halo?” Kenapa tidak ada sautan?
“Halo, Dena?” Kulihat sinyal berjalan lancar dan masih terhubung.
“Oh, ya halo. Maaf, tadi dengan siapa?” Ulangnya bertanya.
“Aku Dysa, kamu apa kabar?”
__ADS_1
“Dysa? Dysa siapa, maaf?” Sautnya.
Aku mengeryit, benarkan ini Dena, temanku? Sahabatku?
“Arindya Romansa, kau lupa? Kamu Dena kan?” Tanpa sungkan aku bertanya demikian.
“Oh, iya iya. Halo? Maaf sinyalnya buruk. Dari mana kau dapatkan nomorku?”
“Dari suamimu, ayahnya Bella. Apa pentingnya sih? Kenapa kau tidak pernah menghubungiku?”
Diam...
“Halo?”
“Halo, Den?”
“Dena? Kau masih dengar?”
“Dena!” Pekikku, lantas sambungan berakhir begitu saja.
“Ada apa dengannya? Kenapa dia bertingkah berbeda?” Mencoba menghubunginya lagi, namun tidak dijawab.
“Oh, yasudah. Sedang sibuk ya dia.”
Selanjutnya, berniat membantu Mama.
“Ma?”
“Hei, kemari kamu. Bantu Mama siapkan ini.”
Mama dan Bibi sedang sibuk di dapur, banyak boks-boks dan makanan yang masih berkepul asap di sana.
“Masak apa Maa? Banyak sekali? Buat apa?” Heran, tidak biasanya Mama memasak sebanyak ini selain di waktu penting. Mama yang masih terlihat uprek dengan bolu yang baru keluar dari oven.
“Kamu masukkan makanan itu, Dys. Kita mau ngasih makanan itu ke anka-anak panti kita.” Jawab Mama. Panti asuhan milik yayasan An-nur.
“Oh, kok nggak pesan saja sih, Ma? Kan praktis.”
“Mama juga ingin masak sendiri buat anak-anak, ketimbang praktisnya doang kalah sama buatan Mama yang dibumbui kasih dan sayang.” Kelakar Mama.
“Ya deh, mama the best.”
Puluhan boks makanan sudah tersiap, semua sudah diangkut dalam mobilku. Kali ini aku yang menyetir dan ikut Mama mengunjungi anak-anak panti.
Terlihat ramai, mungkin pengurus panti sudah memberitahukan ini pada anak-anak bahwa pemiliknya akan datang. Segerombolan anak datang menyambutku dan Mama. Hidupku memang penuh dengan anak-anak.
“Selamat siang, semuanya?”
“Siang, Kak Dysa.” Jawab anak-anak dengan bahagia. Kalau begini aku rela menjadi ibu pengganti untuk anak-anak ini.
Pengurus panti yang berjumlah lima orang wanita paruh baya itu menceritakan situasi dan kondisi terkini seputar panti asuhan itu. Anak-anak merasa gembira berada di sana, kebutuhan materi yang tercukupi, kasih sayang pengganti yang mumpuni, pendidikan yang terjamin, makanan, pakaian, tempat tinggal yang nyaman mereka merasa senang di sini- begitulah kata pengurus panti.
Mama bertanya, adakah bangunan yang tidak layak atau barang yang tidak berfungsi baik? Mereka menjawab, di kamar mandi belakang ada lubang di atapnya, sering buat keluar masuk kucing.
Mama menjawab,
“Yaa, nanti saya sampaikan pada suami saya untuk menggantinya.” Hahaha… Jawaban Mama begitu karena ia tidak tahu tukang-tukang yang biasa bertugas memerbaiki bangunan.
Perjalanan pulang,
“Mama sering kemari?”
“Tidak juga, sebulan sekali palingan.”
“Kalau ke sini lagi bilang Dysa ya Ma. Dysa ikut juga.”
Mama menganggguk, aku melihat jok belakang mobilku. Banyak bunga warna warni di sana, setidaknya sepuluh tangkai macam bunga aku terima dari anak-anak panti asuhan itu.
Kehidupan panti, di mana penghuninya tidak mengenal keluarga kandungnya, tidak mendapat kasih sayang dari orang tua aslinya, hanya bisa menerima tanpa menuntut minta, hanya bisa berpasrah dengan jalan hidup yang harus diterima. Bersyukurnya aku yang masih mempunyai keluarga lengkap dan hidup ditengah kehangatan keluarga tercinta.
Titik-titik air mata menetes dari pelupuk mataku, kali ini aku diingatkan lagi akan nikmat dan karunia Tuhan kepadaku.
__ADS_1
*Jangan lupa bersyukur