Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 12 ~Malam Kelam


__ADS_3

Pagi ini sorot mentari sudah menyapa, mengajakku untuk bangkit dari pembaringan. Namun, bertolak belakang dengan keinginan hatiku yang mengatakan bahwa aku harus tetap di sini, di kamar ini, dan tidak ingin berangkat kerja hari ini.


Karena kejadian semalam, rasanya aku ingin mati saja atau menenggalamkan wajahku ke rawa-rawa yang dalam.


*Flashback*


"Terima kasih kami ucapkan kepada seluruh hadirin, tamu undangan yang kami hormati karena sudah menyempatkan waktu untuk datang memerihkan pesta pernikahan ini. Saya selaku pembawa acara, akan membawakan malam puncak pesta dengan gaya yang berbeda dan tentunya Me... Ri... Ahhhh!!"


"Huwaa!!! Hore! Prok prok prok!" Sautan meriah dari para hadirin di sana.


"Di malam yang penuh kebahagiaan ini, menuju puncak malam, maka kita akan mengadakan double dance. Yaaa! Sebuah permainan yang diperuntukkan kepada tamu undangan untuk berdansa di atas panggung ini dengan pasangan masing -masing. Wuhhhh!!!" Ucap sang pembawa acara pesta.


"Huiiihhh seru sekali!!! (prok prokk prokk)"Ucap para hadirin dengar gemuruh tepuk tangan seisi ruangan, kecuali aku.


"Ingat, yang tidak datang bersama pasangan berarti no join. Hahaha." Ucap si pembawa acara itu setengah berbisik lewat mikroponnya.


"Mau berdansa?" Ajak Bang Andre tiba-tiba.


"Tidak, Bang. Aku tidak bisa."Jawabku.


Tiba-tiba datang segerombolan teman bang Andre, mereka mengelilingiku dan Bang Andre.


"Dre, sana gih ajak cewek loe dansa. Loe kan jagonya dansa." Celetuk salah seorang teman wanitanya.


"Iya, biasanya juga semangat kalau ada dansa macam ini." Ujar teman pria bang Andre.


"Dysa nggak mau." Jawab Bang Andre. Seakan mereka sudah tahu bahwa gadis yang disebutkan bang Andre adalah aku, maka mereka semua langsung menatapku.


"Lah, kenapa sih Dys?" Tanya teman bang Andre lainnya.


"Nggak bisa dansa, Kak." Jawabku seadanya, aku tahu pasti teman-temannya itu seusia dengan bang Andre jadi aku menghormatinya dengan memanggilnya 'Kakak'.


"Ahhh, kelamaan. Aku daftarin deh." Seorang pria dari sampingku tiba-tiba berlari ke arah podium.


"Dah kelar, tunggu nama kalian dipanggil saja. Aku yakin pasti bagus kok. Tenang Dys, Andre jagonya dalam masalah ini." Ucap pria yang telah mendaftarkan aku dan Bang Andre.


Banyak pasangan yang sudah tampil di atas podium, musik pengiring dansa dipilih secara acak oleh tim belakang panggung. Mereka tampak jago menari dan lincah dalam setiap gerakan dansa, meskipun dengan para lelakinya sekali pun. Sangat estetik dipandang mata.


Sampai pada akhirnya sang pranatacara kembali bergelagat dalam ucapannya,

__ADS_1


"Oke, penampilan selanjutnya adalah penampilan dari pasangan.... Siapa?! Jeng-jeng-jeng..... Teng tereng, tereng, tereng.... Pasangan Nona Dysa dan Tuan Andre! Jeng jeng jeng!"


"Swiiit swittt"


"Priwittt..."


"Huahhhhh!!!"


Prok prok prokk!!!


Gemuruh riuh terdengar dari para hadirin pesta tersebut.


Ya, kami menaiki podium utama. Bahkan lampu panggung sudah diatur sedemikian rupa. Hanya satu cahaya lampu menyorot ke arah kami yang berdiri di tengahnya, dan ruangan itu menjadi gelap tanpa cahaya sedikit pun.


Bang Andre berdiri sangat dekat di depanku, bahkan napasnya terasa menyisir wajahku. Dia menggengam kedua tanganku, sedangkan aku tengah menunduk menjaga jantungku agar tidak melompat keluar dari tempatnya.


"Bang, Dysa nggak bisa dansa." Ucapku berbisik dalam posisi yang sama.


"Ikuti gerakanku saja." Ujar bang Andre.


Ya, instrumen dari lagu Desspacito mengalun.


Tanpa kuduga, bang Andre mendorong tubuhku menjauh darinya disusul menarik satu tanganku dengan cepat, dia memutarkan tubuhku dan di luar perkiraanku kakiku sudah bergerak maju mundur, maju mundur, dan memutar. Ya, aku melakukan gerakan salsa.


"Bang sudah, Dysa nggak bisa lagi. Cukup Bang." Tutur bibirku.


"Tunggu musiknya habis." Bang Andre.


Saat musik mengalun dengan irama lebih cepat, bang Andre menyeimbangkan gerakan dengan alunan musik tersebut. Cepat dan semakin cepat mengulang gerakan salsa yang sama.


"Bang, cukup." Ucapku, walau kaki, tangan, dan badan nyatanya tidak berhenti dari gerakan yang dipandu bang Andre.


Debrukkkk


Tiba-tiba tubuhku terduduk di lantai.


Ruangan yang gelap menjadi terang dalam sekejap. Penonton yang semula berteriak riang kini hening dalam secepat kilat.


"Bang...." Lirihku yang masih terduduk di lantai panggung, bang Andre yang masih tegak berdiri malah tersenyum padaku. Semua orang di ruangan itu tertawa menatapku.

__ADS_1


*Flashback off*


"Sialan bang Andre! Aku malu banget sumpah!!"


"Dysa buka pintunya, ayo bangun. Anak gadis tidak tidak boleh bangun kesiangan!" Mama kembali berteriak tanpa bisa masuk ke kamarku, sengaja aku menguci pintunya.


"Iya, Ma." Sahutku.


...----------------...


"Hahaha, masih marah Dys?" Dengan mudahnya dia bertanya seakan tidak mempunyai dosa.


"Au ahh!" Aku memalingkan wajah dari pria yang sedang duduk di depanku.


"Maaf, Dys. Maaf ya." Bang Andre memohon, walau aku yakini dia tidak tulus mengatakan itu.


"Minta maaf kok sambil cengengesan!" Ketusku, Bang Andre mendekat.


"Ehem!" Berhemeh,


"Iya, baiklah aku minta maaf ya Dysaku yang malang. Semalam benar-benar bukan niatku." Ujar Bang Andre.


"Tapi, semalam itu sungguh memalukan Bang. Coba aja kamu yang jatuh saat itu, dan kamu rasain malunya seperti apa?"


"Rasanya seperti seluruh urat nadiku putus semua! Mana dilihat ratusan orang lagi, kamu memang menyebalkan!" Lanjutku tanpa jeda.


"Iya, iya, maaf ya? Please, maafkan aku." Terdengar sedikit tulus.


"Sudahlah, aku tidak mau diajak ke pesta manapun lagi." Balasku masih sewot.


Bang Andre diam, dari sudut mataku kulihat pria itu masih cengengesan menatap ke arahku.


"Kenapa sih Bang, ketawa mulu. Senang ya bikin aku malu?!" Aku berkata ketus padanya.


"Maafkan aku, dokter Dysa. Tapi memang kamu lucu semalam, kenapa saat kau jatuh malah memanggilku? Kenapa tidak langsung bangkit saja?" Ujar Bang Andre.


"Mana mikir buat berdiri, cuma buat gerak aja rasanya tuh malu tahu Bang. Aku mau jadi patung aja saat itu juga! Sialan, Bang Andre! Mau disembunyikan kemana ni muka? Ganti rugi! Aku nggak mau tahu, ganti rugi!" Ucapku asal karena di dalam otakku masih dipenuhi amarah padanya.


"Ganti rugi? Ganti ruginya apa? " Tawarnya tanpa keberatan, dia sudah tahu jika aku tidak akan meminta hal muluk darinya.

__ADS_1


"Nanti aku pikirkan!" Jawabku kemudian.


__ADS_2