Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 29 ~Bunga Mawar Lagi


__ADS_3

Di meja makan,


“Papa, kemarin Dysa mendapat jabatan baru sebagai kepala staf bagian.”


Semoga saja Papa turut bahagia, ya?


“Wah, keren! Lanjutkan, Nak.” Papa mengelus kepalaku. Yes, respons Papa sesuai prakiraanku.


Berbeda dengan Mama, Mama malah membahas hal lain di tengah topik pembicaraan kami.


“Dys, Nak. Lihatlah.. Kemari.”


“Ada apa, Ma?”


“Cepat kemarilah!” Perintah Mama yang tengah duduk di sofa tidak jauh dari ruang makan.


“Nih, lihat. Tampan tidak?” Menyodorkan foto dari layar ponsel pintarnya, sesosok pria sebagai objek fotonya. Ia berseragam putih, entah dia seorang pilot atau satpam siapa yang peduli.


Lagi-lagi Mama memerlihatkan anak dari teman-temannya itu. Untuk apa, kalian tahu? Hahaha… Retoris sekali.


“Tampan tidak?”


Aku mengendikkan bahu, mencibir malu.


“Lumayan…”


“Ya, nanti Mama datangkan kemari ya?”


Jleb! Mulai deh. Mama selalu memutuskan kehendaknya sesuka hati.


“Untuk apa, Ma? Jangan langsung melamar lah Ma? Dysa nggak mau langsungan gitu.” Pelan dan lemah, harap-harap Mama mengerti kesedihanku saat beliau menjodohkanku seperti ini.


“Iya-iya, tenang saja. Sudah, sana berangkat!”


...****...


Berjalan memasukki gedung, tempat ratusan tubuh mengistirahatkan diri, salah satu tempat para medis mendedikasi dan mengabdikan diri. Menempelkan salah satu jari tangan kanan pada finger print untuk mengisi presensi kehadiran. Menggunakan lift menuju lantai dua, tempatku bersemayam diri.


Di depan pintu ruanganku, ruangan itu di desain khusus dengan kunci pintu canggih, Mifare. Belum sepenuhnya kartu itu menempel pada sensornya, mataku sudah berpaling pada bungkusan kecil yang terletak di bangku tunggu depan ruanganku. Paper bag berwarna pink.


“Punya siapa ini?” Tidak menyentuhnya, hanya bertanya saja. Mungkin tas kecil ini milik anak kecil yang tertinggal. Tidak memedulikan itu, aku lantas masuk saja ke dalam ruanganku.


“Bu dokter Dysa? Maaf mengganggu.” Datang seorang laki-laki melongok dari pintu yang tidak kututup rapat.


“Oh, ya Mas. Kenapa?”


“Bu dokter diminta menemui Pak Danu di ruangannya.” Ucap mas kebon yang kutahu kami memanggilnya Mas Akhmad.


“Oh ya, nanti saya kesana. Terima kasih informasinya.”


Tidak berselang lama aku keluar untuk menemui dokter Danu, dokter senior sekaligus wakil direktur rumah sakit ini. Inilah yang membuatku gemetar, sebagai pemegang jabatan kepala bagian maka aku akan dihadapkan dengan para pimpinan setingkat beliau.


Mengetuk pintu ruangannya. Bahkan, untuk pertama kalianya aku dipersilakan masuk ke ruangannya ini. Megah, mewah, harum, dan rapi. Sungguh berbeda jauh dibandingkan ruanganku yang seperti sarang lebah.


“Silakan duduk, dokter Dysa.” Aku duduk di sofa empuk di ruangan itu.


“Terimakasih, ada yang bisa saya bantu Pak?”


“Hem, begini. Saya meminta ketersedian Anda untuk turut serta mengisi seminar yang diadakan oleh pihak rumah sakit.”


Seminar?


“Maaf, jika boleh tahu seminar apa dan dalam acara apa ya, Pak?”


“Seminar kesehatan, ya sebagai salah satu acara dalam peresmian cabang rumah sakit Miranila ini. Nanti saya sharelock.” Mengangguk mau.

__ADS_1


Selepas pertemuan itu, aku kembali. Masih kujumpai bingkisan di tempat yang sama. Melihat sesuatu yang seharuanya tidak ada di sana, membuat tempat duduk itu tidak enak dipandang mata. Sekadar melirik, mencari tahu apa isi di dalamnya.


“Bunga mawar?”


Hatiku tergerak untuk lebih mengeksplor lebih jauh mengenai isinya.


Sebuah mawar segar;


Sebuah boneka hello kitty;


Jepit rambut warna-warni;


Coklat strawberry.


Aku yakin bahwa pemiliknya pasti bocah seusia Adelia. Meletakkan kembali ke tampat sebelumnya. Namun, secarik kertas tiba-tiba jatuh ke lantai dan tidak senjaga terinjak oleh sepatuku.


Kertas putih kecil terlipat menjadi empat bagian


...'Untuk dokter Dysa, semoga bahagia selalu.'...


Begitu tulisnya, tulisan tangan yang rapi, dan sama seperti tipe tulisan pada kotak coklat yang kemarin. Sayangnya tulisan yang kemarin sudah aku buang di tempat sampah. Mengorek wadah sampah tersebut, nyatanya kertas itu sudah tidak berada di sana.


“Jadi, ini untukku? Tapi, siapa pengirimnya?” bertanya-tanya. Tidak mungkin jika ini hanya sebuah hadiah atas promosi jabatan yang aku dapatkan kemarin. Apa perlu mengirimkan hadiah kepadaku setiap harinya?


Namun hatiku mengelak, mungkin ini dari orang yang berbeda.


Di rumah, suasananya begitu hening padahal ini masih sore. Bi Darti, aku menanyakan keberadaan Mama dan Papa katanya Mama sedang pergi ada urusan di luar. Sedangkan, Papa masih belum pulang dari kunjungan dinasnya semalam. Sungguh, sibuk kedua orangtuaku itu.


Meja ruang tamu, kulihat sebuket mawar merah di sana.


Mawar lagi?


“Bi, ini bunga untuk siapa?”


“Itu, Non. Tadi ada kurir yang mengirimkan bunga itu, katanya buat non Dysa.” Jawab asisten rumah tanggaku.


Tidak ada alamat pengirim di sana, hanya ada sebuah kartu ucapan yang ditulis rapi menggunakan mesin pencetak.


...‘For you, from me’...


Seseorang yang memberikan mawar ini tidak tanggung-tanggung. Ia membungkus satu set tanaman mawar beserta akar-akarnya. Mungkin tujuannya supaya aku menanamnya kembali dan tidak membiarkannya layu begitu saja. Baiklah, aku memerintahkan Bi Darti untuk menanamnya pada pot bunga, mungkin saja ia akan tumbuh meninggi.


“Oh ya Bi, kalau ada yang mengirim sesuatu untuk Dysa, tanyakan siapa pengirimnya ya Bi.”


“Iya, Non. Memangnya kenapa?”


“Tidak sih, cuma jaga-jaga saja. Dysa takut orang itu salah alamat.”


“Baik, Non.” Bibi mengangguk paham.


Di dalam kamar, bunyi ponsel bersamaan dengan getarannya mengalihkan perhatianku. Mama menelpon


“Halo, Ma?”


“Halo, Dysa. Kamu siap-siap ya? Akan ada tamu.”


“Siapa, Ma?”


“Teman-teman Mama, sudah cepat bersiaplah. Bilang pada Bibi untuk siapkan makan dan minuman.”


“Ya, Ma.”


Setengah jam berlalu, pesan Mama sudah aku layangkan kepada Bibi. Sedangkan aku, masih membaringkan tubuh lelahku di ranjang kesayanganku.


“Dysa? Nak? Buka pintunya.” Suara mama dan gedoran pintu membangunkan diriku yang mulai terlelap di alam khayal.

__ADS_1


Melangkan gontai mendekatkan diri pada pintu kamarku, memutar kunci pintu.


“Kenapa, Ma?” Mengucek mataku yang pasti sudah memerah saking kantuknya.


“Hust! Mama kan katakan untuk bersiap. Kita kedatangan tamu, kamu malah bersiap tidur.”


“Siapa si Ma? Malam-malam begini kok bertamu.” Masih mengantuk.


“Malam, sirahmu gundul? Masih jam tujuh sore kamu bilang malam?” Mama mengumpatiku.


“Cepat pakai baju yang pantas. Sisir rambutmu supaya tidak seperti singa.” Ujar Mama. Mama menggeledah isi lemariku,


“Yang dating temennya Mama kok Dysa yang dibikin repot? Bilang saja kalau aku lagi tidur atau lembur kek.” Masih tidak terima atas tidurku yang terganggu.


Mama menoleh padaku.


“Dysa, cepat bereskan dirimu. Ganti baju atau Mama pukul!” Ancamnya.


“Iya-iya. Pukal-pukul, pukal-pukul. Mama kira Dysa ini samsak?”


Kirain guling apa? Badan bagus-bagus gini cuma buat sasaran pukulan Mama.


“Nih, pakai.” Gaun selutut, berlengan pendek, berwarna hitam polkadot.


Belang-belang macam macan tutul. Serah Mama dah. Memandang malas kain tersebut.


Menurut, rambut yang dibiarkan setengah tergerai dan polesan tipis bedak dan gincu warna menyala milik Mama mewarnai wajahku. Jika menurutku ini terlalu menor bak ondel-ondel Taman Mini, bagi Mama itu riasan wajar dan memukau.


Saat Mama lalai, aku mencuri-curi kesempatan untuk menghapus warna lipstick dan as shadow yang begitu kontras di wajahku. Mama tidak meyadarinya, aku hanya diam dan menutup mata saat mama merias wajahku. Tidak tahu jika di sela genggamanku terdapat tisu sebagai penyelamat wajahku.


“Sudah, yuk turun.”


Di lantai bawah, setumpuk manusia berada di sana. Mengisi penuh seluruh ruang tamu.


“Itu siapa yang menaruh pot bunga di sana?” Mama berbisik saat menuruni anak tangga.


“Tadi Dysa yang nyuruh Bibi buat nanam mawarnya.”


Sumpah, aku tidak tahu jika Bibi meletakan pot mawar itu di tengah-tengah ruang tamu.


Duduk, kuncup, dan menunduk. Seperti si gadi yang akan dimantrai untuk di jadikan sintren, begitu yang aku rasakan.


“Nak, ini putera sahabat Mama. Namanya Baihaqi, coba saling sapa dulu.”


Melengos dan menggaruk rambut belakangku.


Ya kan, mama pasti hendak menjodohkan aku lagi. Au ah, serah dah.


Aku menatap sosok pria di hadapanku ini.


Oh, jadi dia yang ada di foto itu.


“Hai..." Mengangkat ke lima jari kananku. Kaku amat Dysa!


“Hai, aku Baihaqi.” Ujarnya dengan mengulurkan tangan kanan.


“Dysa.”Membalas dengan sama.


“Cocok kan Jeng?”


“Iya, bener bettt dah. Kita bisa besanan, nih.” Mama bertingkah konyol.


“Dysa, Mas Bai ini seorang pilot lho.”


Dysa nggak tanya Ma. Ujarku dalam hati dengan ekspresi biasa saja. Tidak tahu siapa lagi yang sedang mama ajukkan untukku ini. Aku harap, tragedi bersama Edwin tidak terulang kembali.

__ADS_1


“Eh... Ayo Jeng, dimakan cemilannya. Ayo, ayo! Mas Bai, yok mas dimakan. Maaf ini seadanya, ayo ayo dek, Neng.” Hebohnya Mamaku.


Menoleh ke samping kanan, satu tanaman mawar menjulan di sana. Bahkan, siapa yang mengirim bunga itu belum kelar siapa orangnya.


__ADS_2