Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 15 ~ Makan Aja Dibikin Ribet, Dysa


__ADS_3

Aku dibuat celingukan diam di tempat, ucapan Papa Bella seakan menohok ulu hatiku dan terdengar seperti sebuah kalimat ancaman bagiku. Tanpa sadar, tanganku bergetar di bawah meja.


“Haii! Maaf ya menungguku lama.” Dena Datang.


“Mas, sekarang giliranmu untuk diukur.” Tambah Dena, pria yang kukenal sebagai seorang ayah dari Bella itu lantas beranjak pergi mendekati meja ukur.


“Dys, tampan kan calonku?”


“Hemm, kamu benar nggak salah pilih kan Na?” tanyaku.


“Insya allah, nggak. Kok kamu bertanya begitu? Apa tampangnya terlihat seperti seorang penjahat di matamu?” selidik Dena padaku.


“Mungkin,”


****((((*****(((((*****(((((*****(((((******


Setelah kejadian hari itu, aku menjadi bimbang. Bagaimana jika terjadi sesuatu dengan Dena setelah dia menikah? Bukan karena aku meragukan niat baik mereka atas berlangsungnya pernikahan, tapi biasanya hubungan yang diawali dengan ketidakjujuran akan berakibat kehancuran. Aku takut jika sahabatku itu tidak bahagia nantinya.


“Halo, ada apa Dys? Tumben telepon di jam kerja?”


“Dena, bisa kita bertemu di jam makan siang, nanti?”


“Hem, sekarang bisa kok. Lagi free nih di kantor atau aku ke rumah sakit saja ya?” Ujar Dena.


“Eh, jangan! Aku masih ada pasien, nanti saja kita bertemu di kafe perempatan jalan itu saja.”


“Oke!”


Bagaimanapun juga aku harus memastikan bahwa pilihan hidup Dena adalah benar dan baik untuknya,


Tokk... Tokk...


“Dokter Dysa? Sibuk?” Seorang pria berjasa putih dengan rambut yang disisir super rapi serta penampilannya yang serba pas dan pantas membuatnya layak dicap sebagai pria idaman para kaum hawa yang melihatnya, ia berdiri memegangi gagang pintu ruanganku, siapa lagi jika bukan dokter Andre.


“Eh, bang Andre. Masuk saja kali, Bang. Lagi ngecek data anak-anak, kan sebentar lagi jadwalku memeriksa anak-anak di ruang melati.” Jelasku.

__ADS_1


“Oh, berati lagi sibuk dong? Ya sudah nanti saja.” Ujar dokter ngambekan itu. Sebelum pintu ruanganku ditutup kembali olehnya, aku segera bangkit dan menyusul si ngambekan itu.


“Bang, aku lagi nggak sibuk. Masuk aja ayo, lagi free kok.” Aku menarik lengan jasnya.


“Oke, kamu yang memaksa.” Ujarnya.


Mendudukan diri pada sofa depan kursi kerjaku, sudah beberapa hari ini dokter Andre mengurungkan masuk ke ruanganku saat aku terlihat sibuk.


“Ada apa dokter?” Tanyaku dengan mengedipkan kedua mataku.


“Hem, aku mau mengajakmu makan siang.” Jawabnya.


“Tapi aku sudah ada janji dengan orang lain untuk makan siang bersama.” Tuturku dengan nada kecewa. Mungkin beberapa hari ini dia hany ingin mengatakan ini namun lagi-lagi di waktu yang tidak tepat.


“Cewek atau cowok?” Tanyanya.


“Hem? Kenapa memangnya?” Tanyaku menyelidik.


“Aku hanya tanya, cewek atau cowok?”


“Kenapa kalau cewek? Dan kenapa kalau dia cowok? Apa bedanya?” Aku menuntut jawaban atas pertanyaan tidak jelas darinya.


“Boleh kan? Aku tidak akan mengganggu, hanya makan dan mendengarkan saja.” Lanjutnya.


“Hem, oke. Tapi jangan ngambek kalau nanti dikacangin, lho.” Celetukku.


“Ya allah, memangnya aku ini ngambekan?” Ujarnya membesengut.


“Oh, tidak-tidak. Maksudku, jangan merasa bosan nanti. Ya sudah, kembalilah ke pekerjaan Anda, bang dokter. Aku harus ke ruang melati sekarang.” Aku mengangkat tangan kanannya untuk berdiri dari duduknya dan mendorong tubuhnya untuk keluar dari ruanganku.


“Ngusir aku, kamu ya?”


“Iya, sudah sana pergi. Sampai bertemu makan siang nanti, kalau terlambat aku tinggal. Tidak ada toleransi waktu!”


Pukul satu siang kulihat pada arloji di pergelangan tanganku, di depan ruanganku sudah berdiri seorang pria yang sedang menyandarkan diri pada tiang bangunan.

__ADS_1


“Bang dokter?” Sapaku, dia menoleh dengan tatapan tajamnya khas seperti bocah yang sedang merajuk minta sesuatu.


“Kenapa, bang?”


“Katanya jam makan siang? Ini mah udah kelewat satu jam.” Ujarnya.


“Hehe, maaf. Tadi aku solat dulu, lah abang nggak salat dulu aja?”


“Sudah, kamu nggak lihat rambutku basah? Dan solat pun tidak selama dirimu.” Sindirnya.


“Ya, apalah dayaku sebagai seorang perempuan. Setelah solat harus di touch up lagi kan ni wajah? Pakai lipstick lagi, blash on, as shadow. Memangnya abang, setelah salam langsung ngibrit lari dan nggak sisiran pula?”


“Sok tahu, kamu.” Balasnya.


“Kenyataannya begitu, sering aku lihat kaum adam begitu setelah salat. Memangnya Abang juga pake lipstick sama blash on? Nggak kan? Berarti ucapan aku benar.” Ucapku mantap.


“Ya nggak, setelah salat itu harusnya langsung berdoa bukan touch up wajah.” Ujarnya.


Wah? Salah bicara aku? Benar juga apa kata dia.


“Diam lah bang. Bang dokter Andre yang bayarin makanku ya?”


“Kok diam aja, Bang?”


“Terserah,” jawabnya.


“Diih kaya betina aja jawabnya, di balik kata terserah ada arti yang mendalam rupanya.”


“Jadi apa nih, bang? Iya atau tidak?” Aku menyenggol lengannya, sekali pun dia itu ngambekan aku tidak akan pernah berhenti menggodanya. Lucu saja rasanya, semakin aku beraksi semakin dia menjadi.


“Iya, Dysa.” Akhirnya….


“Hahahaha, oke! Thanks.”


Menggunakan mobil dokter Andre karena tidak ada alasan lain, ojek merepotkan dan taksi kemahalan. Sedang aku tidak lagi membawa mobilku di hari biasa karena setiap harinya aku diantar jemput oleh Edwin atas perintah mama. Dokter Andre menuruti perkataanku yang menunjukkan jalan layaknya asisten google memberitahu.

__ADS_1


“Ya allah, ketimbang makan siang aja kenapa sampai jauh kemari sih? Di kantin rumah sakit aja ‘kan enak, makan aja dibikin ribet. Dysa.... Dysa...” dumal bang dokter Andre.


“Bang, no…! Kamu bilang cuma mau makan dan mendengarkan saja. Jangan berkata apapun di depan temanku,” Bang Andre diam.


__ADS_2