
Kembali melangkahkan kaki ke dalam ruanganku, merapikan jas putihku lalu menggantungkannya pada tempat yang tersedia. Sengaja tidak kupakai karena sebentar lagi aku akan berinteraksi dengan para pasien kecilku.
"Bu, sudah kembali?" Tanya Tati.
"Eh, iya Ti. Sudah, yuk kita bersiap-siap."
Menuju ruang pemeriksaan, hari ini jadwal memeriksa para pasien kecilku di ruang rawat inap dimulai. Sebelumnya sudah ada dokter yang bertugas sejak pagi hingga siang, dan kini giliranku.
Menjajaki paviliun MERDEKA, tempat khusus penginapan anak-anak dirawat. Baru selangkah memasuki pintu masuk, kakiku sudah bertabrakan dengan tubuh seorang anak perempuan yang sedang menangis histeris.
"Akhh ahahhaah!! Tidak, tidak mau, tidak mau!! Mama! Mamaaaaa akhaaakhh!" Anak itu langsung berdiri kembali dan terus berlarian, sedangkan ada suster di belakangnya yang tengah mengejarnya.
"Sus, berhenti mengejarnya." Perintahku pada suster yang kapayahan mengejar anak perempuan itu.
"Tapi, dok dia akan membuat pasien lain terganggu." Ucap suster itu.
"Husss, semakin kau mengejarnya dia akan semakin takut. Diam, maka dia akan berhenti berlarian." Jelasku. Benar, menit berikutnya anak perempuan itu tersungkur duduk di lantai jauh dari suster yang mengejarnya.
Aku mencari cara supaya dia tidak takut denganku. Ya, satu-satunya yang mereka takutkan adalah para petugas medis dengan peralatan yang menggantung dilehernya atau jarum yang akan menembus kulitnya. Aku menyembunyikan stetoskopku dan memberikannya pada Tati untuk menyimpannya.
Melangkah mendekat pada sosok gadis kecil yang tampak semrawut, kusut, dengan wajahnya yang pucat. Gadis itu hendak berdiri dan berlari saat aku mendekatinya, dengan sigap aku meraih tangan kecilnya lalu mendekapnya.
"Tidak, Tidak mau! Mama! Papa! Tidak mau, akhhhh!!! Tidak mau, lepassss, Mama! Papa!"
Dia meronta,
"Hus, sayang. Sayang.. Tenang dulu, stop berteriak, oke? Stop! Dengarkan bu dokter dulu." Ucapku.
"Bu dokter?(Menatapku penuh ketakutan) Akhhh tidak, tidak mau. Sakit! Papa! Pulang, Bella mau pulangg!" Mendengar kata dokter membuat gadis kecil itu semakin meronta dan berteriak histeris.
Sedang aku yang mendengar nama Bella, terperanjak. Namanya terdengar tidak asing di telingaku.
Bella??
Be...Lla?
Ohh, Bella! Ya, aku mengingatnya.
"Bella dengarkan dokter Dysa, ya. Bella, Bella, tenang. Ini dokter Dysa, Bella ingat?" Ucapku, rerontaan yang semula sangat kuat kini kian melemah. Gadis kecil itu memandang wajahku, lantas berucap.
"Dokter Dysa?" Lirihnya. Ya, dua tahun yang lalu Bella pasienku yang aku janjikan akan kuhadiahkan lolipop jika dia mau menurut dirawat di rumah sakit ini hingga sembuh. Janjiku terbayar tunai saat itu.
"Iya, saya dokter Dysa. Bella ingat, sayang?" Bella yang dulu gembul dan masih sangat cedal dalam berbicara, kini sudah tumbuh tinggi, lebih kurus, dan sudah fasih bicaranya.
"Dokter, Bella takut sama suster itu. Dia suntik-suntik Bella terus, Bella mau pulang, Bella mau pulang." Rengeknya dan mengeratkan pelukan pada leherku.
"Hus, cup cup... Jangan takut, kan ada dokter Dysa di sini. Dokter Dysa kan sahabat Bella, yuk kembali ke kamar." Aku menepuk pelan punggungnya. Layaknya anak kangguru yang menggantung di kantung induknya, Bella mengapit tubuhku dengan lengan dan kakinya.
__ADS_1
"Dokter Dysa gendong ya, asal Bella mau menurut dengan dokter, oke??" Negoku, Bella mengangguk.
"Ruangannya yang mana, Sus?" Aku bertanya pada suster yang tadi mengejar Bella.
"Ini, Dok." Tunjuk suster itu.
Dari arah yang berlawanan, terlihat seorang pria berjalan mondar-mandir tampak kebingungan mencari sesuatu. Dia menatap telisik kami yang berjalan mendekatinya,
"Bella?" Tanya pria tersebut.
"Papa!" Anak kangguru ini berpindah ke pelukan sang Papa.
"Papa, sakit... Pulang, Bella mau pulang. Bella tidak mau di sini, Bella mau pulang! Huks huks huks.." Bella mengadu.
"Mari, Pak. Bawa Bella ke ruangannya." Ajakku.
Masuk ke dalam biliknya, sepertinya sempat terjadi perang panas antara Bella dan suster tadi. Barang-barang di kamar ini sungguh berantakan dan bantal-bantal berceceran. Jangan tanyakan kondisi sprei brankarnya, sudah jelas meringsuk kusut jatuh ke lantai.
Aku dibantu suster dan Tati membereskan sprei tersebut, mengambil bantal yang berada di samping pintu masuk lalu menata rapi seperti kamar hotel.
"Bella, kemari. Berbaring di sini ya?" Kutepuk pembaringannya, Bella menggeleng.
"Ayo, sayang." Bujuk sang papa. Bella diam, kepalanya yang bersandar di bahu ayahnya tampak enggan melonggarkan pelukannya.
"Tidak mau, Papa. Ada suster itu." Bisiknya, namun aku mendengarnya.
"Sudah tidak ada. Yuk, sekarang Bella sama dokter Dysa ya?" Bella menurut, aku memindahkannya ke kasur yeng tersedia.
"Bella tidak mau di suntik, dokter." Ucap Bella, matanya berkaca-kaca. Uh, polosnya dia.
Menghembuskan napas pelan, aku lantas duduk di sebelahnya.
"Okey, dokter punya pertanyaan nih buat Bella. Jawab ya?" Bella mengangguk, mendekatkan tubuhnya padaku lantas aku meraihnya dan mendudukkannya dalam pangkuanku.
"Bella sekarang kelas berapa?"
"Kelas satu." Jawab bocah lucu itu.
"Hemm, sudah besar ya. Jadi, siapa teman-teman Bella di sekolah?"
"Heumm, ada Rafa, Dian, Adinda, Dinara. Terus yang cowok ada Rafi, Zian, Aldo, Aldi." Jawabnya mendikte satu per satu teman-temannya.
"Banyak ya?"
"Iya, oh ya dokter Dysa. Aldo dan Aldi itu anak kembar lho. Kalau Aldo ada tahi lalatnya di sini (menunjuk pelipisnya), tapi Aldi nggak ada. Dokter Dysa pasti tidak bisa membedakan mereka. Hahahah..." Bella suka bercerita ternyata.
"Teman-teman Bella baik ya? Mereka pasti merindukan Bella, iya kan?" Aku bertanya dengan memasang wajah sedihku.
__ADS_1
Bella mengangguk,
"Iya, Bella juga rindu mereka."
"Nah, dokter Dysa ada pilihan nih. Bella pilih salah satunya ya? Hem, lebih baik dokter Dysa obati supaya Bella cepat sembuh atau Bella mau lebih lama di sini?" Aku memberikannya pilihan.
"Bella ingin bertemu teman-teman Bella di sekolah." Jawab Bella.
"Jadi, mau ya kalau dokter Dysa bantu mengobati Bella?" Mulai ke inti pembicaraan.
Bella mengangguk,
"Tapi tidak mau disuntik." Ucap Bella.
"Disuntiknya sedikit saja, tapikan Bella akan cepat sembuh dan bertemu dengan kawan-kawan Bella lagi." Bujukku.
"Tapi, sakit dokter. Dari kemarin suster itu terus-terusan menyuntik tangan Bella." Bella hendak kembali menangis.
"Tapi, kalau dokter Dysa yang menyuntiknya rasanya tidak sakit kok. Dan cuma sebentarrrr sekali. Rasanya sama seperti di gigit semut, ciiiit. Gitu. Iya kan Papa?" Aku memraktekkan gigitan semut pada tangannya dan meminta pendapat ayah Bella.
"Iya, lebih sakit daripada luka saat Bella jatuh dari sepeda waktu itu." Tambah ayahnya.
"Jadi, mau ya infusnya dipasangkan lagi?" Tanyaku, Bella mengangguk.
"Uhh, Bellaku yang pintar." Pujian kulayangkan, sembari memasangkan kembali infusan di pergelangan tangannya aku sesekali mengajaknya bercerita tentang guru dan teman-teman bermainnya. Dia memang anak yang aktif dalam bercerita.
"Sudah selesai. Dan setelah makan siang jangan lupa diminum obatnya ya?" Aku membelai rambutnya, di posisi duduknya aku merapikan helaian rambut hitam kusutnya. Meraih sisir di hadapan mataku lalu menyisir rambutnya.
"Sudah ya, bu dokter pergi dulu karena harus keliling memeriksa teman-teman Bella yang sedang sakit juga." Pamitku.
"Bella tidak mau disuntik suster itu, Bella mau yang menyuntik bu dokter Dysa saja!" Anak itu kembali cemberut, dan aku hanya mengangguk saja. Kulihat obat-obatan di atas nakas ternyata Bella sedang terserang disentri.
"Oh ya Papa Bella. Apa tadi pagi sudah diminumkan obatnya?" Tanyaku pada Papa Bella.
"Sudah," jawabnya.
"Baiklah, saya permisi dulu." Pamitku,
"Dokter!!" Panggil Bella saat aku di ujung pintu kamarnya.
"Iya, sayang?"
"Nanti malam ke sini lagi ya? Sebelum dokter Dysa pulang." Ujarnya dengan mata yang masih berkaca-kaca.
Uh, anak ini membuatku gemas.
"Iya, dokter akan kemari setiap hari asalkan Bella tidak menangis lagi ya?" Gurauku. Bella mengangguk patuh.
__ADS_1
Benar-benar gadis kecil yang lugu. Hatiku berkata di balik senyumanku padanya.