Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 37 ~Semua Orang Menjadi Jahat


__ADS_3

Semua orang seakan menjauh dariku, Dena, Dokter Andre, Mas Dika, Edwin, Baihaqi, orang-orang ini hilang kontak denganku. Dan sekarang yang terjadi, keluargaku sendiri malah menjauh dariku. Mama yang tidak ingin berbicara denganku sejak beberapa hari lalu, Papa dan kakak-kakakku yang seakan mendukung penuh keinginan mama untuk segera menjodohkanku dengan salah satu laki-laki pilihan Mama.


Setelah itu, ponselku terasa sepi. Tidak ada yang mengganggu atau barangkali satu dua orang yang mengingatkanku untuk makan. Ya, hariku menjadi sepi. Ditambah lagi, di tempat kerjaku pun sebenarnya aku tidak dekat dengan rekan kerja yang lainnya karena (mungkin) aku yang merasa tidak nyaman saat mereka membahas pasangan masing-masing. Parahnya lagi, mereka yang suka menyindirku dengan bertanya, "Kapan nikah, Dokter Dysa?"


Bukan maksudku iri atau dengki, tetapi menurutku perihal pasangan entah suamikah, kekasihkah, bukan sesuatu yang harus dipamerkan atau diceritakan apalagi untuk menyindirku secara lugas yang sudah jelas belum ingin menikah.


Satu-satunya orang yang dekat denganku, dan tidak pernah bertanya kepadaku "kapan nikah" hanya Bang Andre, tetapi kemana dia? Heum, sama saja menghilangnya seperti yang lain.


Di kafe dekat rumah sakit tempatku bekerja, di siang ini aku duduk di sini seorang diri. Menikmati segelas cokelat hangat dan kudapan cinnamon rolls, nikmat dimakan saat cuaca dingin seperti ini. Di luar gerimis, cucanya sendu seperti suasana hatiku saat ini.


Drtt drtt.


Getaran ponselku mengejutkanku, seperti hampir membunuhku karena membuatku tersedak sampai terbatuk-batuk. Panggilan masuk yang bertulis nama "Papa Bella" di layar ponselku. Segera aku mengangkat beberapa saat setelah kejadian tersedakku.


"Halo, selamat siang. Ada yang bisa saya bantu..."


"Bundaaaa Aaaaa!" Yang terdengar hanya suara teriakan Bella dengan suara samar bergemuruh di belakang suara Bella.


"Bella. Ada apa, sayang?"


"Bundaaa!"


Aku bergegas menuju toilet untuk menghindari suara berisik pengunjung dan suara hujan yang riuh, kudengar suara Bella sepertinya tengah menangis.

__ADS_1


"Ada apa, Bella? Apa yang terjadi?" Tanyaku ikut was-was, barangkali anak itu sedang diculik atau mungkin ayahnya tenggelam dan dia sedang meminta pertolongan. Ah, pikiranku aneh-aneh saja.


"Bunda dokter... Tolong Bella, tante itu,"


"Kenapa?" Tante siapa yang Bella maksud? Tante itu, apakah maksudnya Dena? Ibu sambungnya?


"BELLA! APA YANG KAMU LAKUKAN?! UNTUK APA MENELPON WANITA SIALAN ITU, HAH?! MASUK KE KAMAR!"


Aku terlonjak, suara yang keluar dari ponselku begitu memekik keras. Ya Allah, apakah yang kudengar itu merupakan suara Dena? Garang sekali dia, teganya membentak anak seusia Bella.


Telepon dimatikan, tidak mungkin aku mendial ulang sambungan yang sudah diputus secara sepihak. Sekarang pikiranku berkelana, membayangkan sesuatu buruk sedang terjadi di sana. Sejauh apapin aku berpikir, tetapi akan menjadi sia-sia karena pada kenyataannya aku tidak tahu dimana kediaman mereka, Bella dan keluarganya. Dan satu hal lainnya, jika aku memcari tahu sejauh itu, aku akan berususan dengan Dena dan Papa Bella terkait rumah tangga mereka, sedangkan yang kutahu mereka tidak suka diusik dalam perihal privasinya.


"Baiklah, Dysa. Cobalah untuk tetap tenang dan berpikir positif, mungkin Bella sedang nakal-nakalnya sehingga membuat Dena marah. Marah kecil, bukan Dena sepertinya sedang marah besar. Ya Allah, bagaimana ini?"


Aku menoleh, dia seorang wanita yang berdiri agak di belakangku. Dari tatapannya sedikit membuatku takut, apa artinya tatapan datar seperti itu? Tidak ada ekspresi jelas yang tergambar di wajah wanita itu, hanya menatap dengan tubuh yang mematung.


"Maaf," ujarku asal. Tidak perlu bertanya "ada apa atau kenapa kamu menatapku?" karena menurutku dia orang asing bagiku. Mungkin hanya kebetulan saja bertatapan tanpa tujuan apapun.


Saat tanganku sudah menyentuk engsel pintu keluar, wanita itu berujar, "Tunggu. Apakah Anda yang bernama dokter Dysa itu?"


Aku mengernyit, wanita itu mengenalku. Kuputar badanku kembali berhadapan dengannya yang kini sudah berada di balik tubuhku. Aku tersenyum, "Ya, benar. Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"


Mungkin saja dia orang tua dari salah satu pasien kecilku. Ternyata bukan, wanita itu menggeleng. "Baik, ada yang bisa saya bantu?" Tanyaku dengan formal.

__ADS_1


"Kamu simpanan Mas Dika." Ucapnya.


Sungguh, aku tidak mengerti apa yang terjadi di sini. Mas Dika? Mas Dika siapa? Mas Dika yang mana? Mas Dika kekasihku, mantan maksudku.


Sebelum aku mengorek banyak informasi yang ingin kutanyakan, aku menghentikan wanita itu. Karena pekerjaan dan waktu makan siang sudah berakhir, aku harus kembali.


"Kita bertemu lagi malam nanti ditempat ini pukul 7 malam." Ucapku memutuskan. Dia menyetujuinya.


Saat bekerja, aku tidak tenang. Siapa wanita yang tadi kutemui di kafe seberang jalan? Mengapa dia menyebut nama Mas Dika? Dan ya, aku mengingat satu hal dari wanita itu. Dia tengah berbadan dua. Ya, perutnya besar. Wanita itu sedang hamil.


Jam 7 malam, sesuai perjanjianku dengan wanita itu siang tadi. Kini aku kembali ke kafe depan rumah sakit, mencari ke segala penjuru kafe. Sosok wanita yang berbadan kecil tetapi perutnya buncit tengah mengandung. Samar-samar aku mencoba mengingat wajahnya, tidak juga kutemukan jelas mana orangnya dari sekian banyaknya pengunjung.


Namun, ada satu hal yang membuatku harus mengucek mengedipkan mata berulang kali untuk memastikan satu orang. Aku melihat seorang pria berkemeja biru muda sedang duduk di salah satu kursi pada meja bertuliskan nomor 14. Pria yang kukenal dan pernah dekat denganku selama 8 tahun lamanya. Pria yang kucintai yang rela mengorbankan waktunya untukku demi menunggu kesiapanku untuk menjadi pendamping hidupnya.


"Mas Dika."


Dia tengah menyuapkan sesendok makanan kepada seorang wanita yang kerepotan dalam posisi duduknya, terlihat seorang wanita berperut besar yang tidak nyaman duduk di kursi berbahan kayu di sudut kafe ini.


Mas Dika, benarkah dia sudah berbahagia dengan wanita lain? Wanita yang bahkan tengah mengandung anaknya? Jadi, kesetiaannya kepadaku bukan main-main, dia bahkan rela menungguku sampai dua bulan lalu saat resmi kita memutuskan hubungan sebagai seorang kekasih yang sering kuucap "kekasih semu"


Bagaimana perasaan ustrinya saat itu? Dan apakah wanita itu tahu jika suaminya mempunyai seorang kekasih yang tidak lain adalah aku? Yang pasti dia orang yang sabar atau mungkin tidak mau mengalah melepaskan Mas Dika untuk orang lain, termasuk diriku.


Mengapa baru kurasakan pedih melihat kebersamaan mereka, keromantisan yang mereka nikmati tanpa disadari ada aku yang terluka di sini. Barangkali mereka sengaja menyetujui pertemuan yang kujanjikan malam ini supaya membuatku panas hati dengan hubungan dan keromantisan mereka sebagai suami istri?

__ADS_1


Kejam sekali mereka kepadaku.


__ADS_2