
Sudah pukul sepuluh malam, artinya aku sudah duduk dan menunggu Edwin sejam lamanya. Ini bukan kali pertamanya dia tidak tepat waktu saat menjemputku. Aku hanya bisa bersedekap dada dengan ditemani setia oleh lampu neon pada halte rumah sakit ini, gardu lampu jalan di ujung persimpangan jalan padam karena sedang perbaikan, hujan rintik tipis semakin melemparkan dinginnya malam kelam.
Saat sendiri seperti ini aku bisa apa? Hanya bisa sabar menunggu, kemudian memaafkan, dan memberikan toleransi. Kalau pun aku bisa memilih, akan kupilih memakai angkutan umum atau ojek online. Tapi sudah pasti sesampainya di rumah, mama akan berkacak pinggang dan mengomeliku habis-habisan. Kembali lagi, kalau saja bukan karena permintaan Mama aku sudah jelas pulang sendiri walaupun harus berjalan kaki.
Pucuk dicinta ulam pun tiba, sorot lampu sen mobil Edwin sudah terlihat dan tepat berhenti di depanku. Tanpa basa-basi, aku segera masuk ke dalamnya tanpa menunggu Edwin membukakan pintu seperti biasanya.
“Maaf ya, lama.” Ucapnya.
“Tidak masalah, mau sampai jam berapa pun aku akan tetap menunggu di sana.” Jawabku,
“Please, Dysa. Jangan marah, aku janji ini untuk yang terakhir kali, right?” Edwin menangkupkan kedua telapak tangannya.
“Jangan mudah berucap janji, aku tahu kau mungkin sibuk dengan para klienmu.” Ujarku, kali ini tanpa embel-embel “mas”.
“Yaa, I am so sorry. Kita makan dulu ya? Aku lapar belum makan,” aku hanya mengangguk.
Di perjalanan dengan laju mobil yang pelan, aku berujar,
“Mas, apa untungnya buatmu mengantar jemput aku? Sedangkan kamu sendiri tahu bahwa dari kantor tempatmu bekerja dengan rumah sakit jaraknya tidak dekat.”
Pria di sampingku itu hanya tersenyum simpul, aku tahu mungkin otaknya sedang merangkai kata untuk menanggapi ucapanku,
“Seberapa jauh itu, tidak akan jadi penghalang untukku. Bukankah kebahagiaan itu mestilah ada pengorbannya?” Jawabnya.
__ADS_1
“Pengorbanan apa maksud mas Edwin? Dan kebahagiaan apa yang mas harapkan dari sekadar mengantar jemputku setiap hari?” Mas Edwin menoleh ke arahku sejenak, dia mengangguk-angguk sambil memutar setir di perempatan jalan.
“Kebahagiaanku dan kebahagianmu tidak ada yang tahu, masa depan kita tidak ada yang tahu. Tapi, bukankah dengan cara ini menunjukkan bahwa aku seorang lelaki sejati dan serius denganmu? Cara ini adalah salah satu usahaku untuk meraih masa depan yang kuharapkan akan mendatangkan kebahagiaan.” Ujar pria yang pandai merangkai kata itu.
“Bagaimana kalau ternyata aku bukanlah kebahagiaan di masa depanmu? Bagaimana jika kita ternyata tidak disatukan oleh takdir?” Tanyaku, lagi-lagi Mas Edwin menggeleng pelan seraya tersenyum seakan pertanyaanku tidak ada bobot untuknya.
“Kalaupun kita tidak bersatu, setidaknya aku tidak akan pernah menyesal menyia-nyiakanmu, tidak menyesal karena tidak pernah mengecewakanmu dan membuatku sakit hati, dan aku sudah berusaha menggapai kebahagiaan itu walau nantinya bukan kamulah orangnya. Apa aku salah?” Edwin menjawab dengan kalimat yang rapi dan dengan tutur kata yang lembut, aku sontak menggeleng membenarkan ucapannya. Memang apa yang dikatakannya semua benar dan menjadi pembelajaran juga untukku.
“Mas, pasti para klienmu sangat puas dengan kerjamu.” Aku melontarkan pujian padanya.
“Kenapa kamu sok tahu begitu?”
“Ya, karena kalimatmu sungguh rapi dan mudah mengelabuhi pikiran para pendengarnya. Aku langsung dibuat setuju dengan setiap ucapanmu itu.” Jawabku.
“Hahahah, asyik juga kamu Mas. Bisa saja kamu ya Mas! Tapi aku harus berterima kasih padamu, Mas. Kamu sudah bersedia mengantar jemputku siang dan malam hanya karena permintaan mamaku.”
“Hem, sudah kujelaskan alasannya tadi. Yuk turun, sudah sampai.” Dia turun terlebih dahulu, menghampiri satpam dan berbincang dengan pegawai restaurant di sana.
Aku dibuat kagum dengan solah bawanya, namun aku bisa apa? Bahkan hati dan pikiranku menolak untuk mengatakan bahwa aku menyukainya walau hanya penampilannya saja.
Cinta memang tidak bisa dipaksakan, egoku lebih kuat daripada harus memilih meneguk manisnya cinta yang kurasa belum saatnya hatiku terbuka dan menerima siapa pun orangnya.
Dia kembali masuk ke dalam mobil, duduk dan memasang sabuk pengamannya lagi.
__ADS_1
“Kenapa, Mas? Nggak jadi?” Tanyaku,
“Tempatnya sudah dipesan orang,” jawabnya.
“Terus kita mau kemana?”
“Pulang saja, sudah malam. Nanti kamu dicari mama papamu,” jawabnya sambil memutar-mutar setir mobilnya melaju dan meninggalkan tempat itu.
“Terus kamu makan apa dong? Katanya belum makan?” Aku berempati.
“Gampang, nanti beli nasi goreng di kaki lima Pancoran saja.” Jawabnya dengan kekehan.
Aku menahan tawaku yang menggeliat menggelitik pada sisi perutku, dia mengatakan dengan mudahnya akan membeli nasi goreng setelah menghabiskan waktu sejam perjalanan menuju restaurant ini.
“Sialan ya memang pemilik restaurant China itu, nggak tahu orang lagi lapar apa ya?!” Aku berujar kesal,
“Iya, tahu gitu tadi kita beli aja mi tek-tek di pinggir jalan dekat kantor pos perempatan jalan itu.” Dia terpancing dan ikut emosi juga,
“Hahahha!” Aku kembali tertawa.
Kruyukkkk….
“Bunyi apaan tuh?” Aku mendengar sesuatu,
__ADS_1
“Dasar perut kurang ajar.” Jawabnya santai.