
"Siapa, Ti?" Tanyaku.
"Pria yang sama seperti saat itu, Bu." Jawab Tati.
Owalah,mas Dika. Pikirku.
"Mas ?" Aku memanggil seorang pria yang tengah berdiri bersandar pada tiang rumah sakit. Mas Dika menoleh, mengembangkan senyumnya padaku. Aku suka itu!
"Mas Dika, ada apa kemari?" Tanyaku mendekat.
"Ingin menemuimu, kau sedang sibuk?" Tanya Mas Dika.
"Hem, tidak. Aku sedang free, habis zuhur baru ada jadwal pemeriksaan."Jelasku, pria di hadapanku itu tersenyum disertai anggukan kepalanya.
"Kita jalan-jalan, yuk? Bisa?" Ajaknya.
"Heuumm, sebentar Dysa bereskan ruangan Dysa dulu. Mas Dika mau ikut?" Ajakku.
"Boleh?"
"Boleh, dong." Aku meraih tangannya supaya mengikuti langkahku.
Di dalam ruanganku yang masih berantakan dan juga jas putih yang kubiarkan teronggok di sisi sofa ruangan ini.
"Ini ruanganku, hehe. Berantakan ya?" Malu sebenarnya. Gadis macam apa kamu? Kamar kok berantakan seperti kandang ayam! Jadi teringat omelan Mama.
"Heuum, wangi sih tapi semrawut. Melihat ini seperti rumah burung, Dys." Pendapat Mas Dika. Nah kan, sama seperti ucapan Mama.
"Ya benar, untung bukan di rumahku. Kalau saja ini kamarku, mama sudah mencak-mencak, Mas." Aku berkata jujur, buku-buku yang tersusun saling terbalik di raknya, lembaran berkas data pasien yang baru saja aku buka dan baca. Semua masih belum rapi pada tempatnya. Tidak terbayangkan saat mama melihat ini, sudah pasti jiwa kerapiannya meronta-ronta.
Hahaha, Mama~
"Mau kemana, Mas?" Tanyaku sembari merapikam jas putihku di sofa.
"Jalan dulu saja, nanti kita cari tempat." Jawabannya.
"Oke, yuk! Ada sisa waktu kurang lebih 3 jam an, Mas."
Kami beranjak pergi, setelah sebelumnya telah aku titipkan ruanganku pada Tati. Di dalam mobil yang dikendarai Mas Dika, hanya alunan instrumen musik yang terdengar. Alunan nada dari pianis Richard, instrumen musik kesukaannya.
Pria yang biasanya selalu ceria saat bertemu denganku, kali ini terlihat muram. Ingin aku bertanya, apakah sedang ada masalah? Atau sesuatu yang membuat hatinya gundah?
Aku membiarkannya saja, mungkin dia sedang sariawan atau hanya ingin diam. Aku membuka galeri fotoku, melihat album foto kenangan masa yang lalu bersamanya.
"Mas, kamu ingat saat kita ke pulau Dewata tiga tahun lalu?" Gesar-geser foto kenangan itu.
"Ini, lihatlah. Lucu sekali, aku juga ingat saat adikmu memotret kita sampai terjungkal. Hihihih..." Aku terkikih mengingatnya.
"Ini juga, saat foto bersama mama dan papamu. Uh, aku ingin mengulangnya." Terus saja aku menggeser puluhan foto-foto lama.
"Yuk, turun. Tinggalkan semua barang bawaanmu di mobil saja." Ucapnya,
"Memangnya kenapa, Mas?" Tanyaku heran.
"Menurut sajalah." Singkatnya, aku menurut.
Berjalan menyusuri tepi lautan, deburan ombak menyapu sepatuku yang sedang berjalan. Terpaan ombak itu mengenai celana bahanku dan terasa hangat menengenai tumit kakiku karena memang pancaran sinar matahari siang yang menyengat. Meskipun sengatan panas terasa berada di puncak kepala, namun sepoi angin yang menerpa di antara pohon bakau yang meninggi menyegarkan suasana.
Kekasihku ini menggenggam jemariku, berjalan beriringan. Tepat di samping sebuah gubuk, aku memintanya untuk beristirahat sejenak. Kakiku bahkan terasa panas meski terbungkus sepatu flat putihku.
"Pantainya cantik ya dilihat dari sini, ini pertama kalinya aku ke pantai di siang bolong begini. Tapi kok pantainya sepi ya?" Aku membuka topik pembicaraan.
"Ya, karena ini memang kita datang ke pantai ini di waktu yang salah, di siang terik seperti ini." Jawabnya.
__ADS_1
"Iya benar, aku saja heran kenapa kamu berpikir untuk datang kemari di siang panas begini." Ucapku.
"Iyaa," orang di sampingku ini bercuap singkat, lantas menunduk.
"Iya, apa? Hahaha. Aneh!" Aku terkekeh geli dengan jawaban nyeleneh darinya.
"Iya, kamu benar. Padahal pantainya indah, hanya saja kita kemari di waktu yang tidak tepat." -mas Dika.
"He em, harusnya cari waktu yang menguntungkan. Misalnya, di waktu pagi supaya bisa melihat indahnya sunrise, atau lebih di sore hari dan kita bisa menikmati sunset. So, kita bisa menikmati keindahan pantai berlipat ganda." Ujarku seraya memejamkan mata, membayangkan melihat sunrise dan sunset di seberang laut.
"Sama seperti diriku." Ucapnya.
"Hah? Maksud, Mas?" Apanya yang sepertimu? Kan jadi ngawur dia.
"Sama sepertiku yang datang di hati seseorang di waktu yang belum tepat. Seakan aku menunggu sunrise atau sunset di waktu siang seperti ini. Masih lama sedangkan waktu kita hanya sedikit, cuma sampai jam dua. Iya kan?" Ujar Mas Dika.
Mendengarkan setiap perkataan yang keluar dari mulutnya, aku rasa ada yang aneh di sana. Tapi apa?
"Oh ya, jam dua! Aku harus kembali ke rumah sakit. Jam berapa sekarang, Mas?" Sedangkan ponsel dan barang-barangku ditinggal dalam mobil mas Dika.
"Hufttt..." Mas Dika hanya mendengus saat kutanya pukul berapa.
"Mas? Jam berapa sekarang?"
"Heum, mungkin jam sebelas lebih. Nanti kalau sudah tiba waktu zuhur, maka akan terdengar kumandang azan dari surau di sana." Dia menunjuk surau di dekat pantai.
Oh iya, benar juga. Kenapa aku baru lihat ada mushola di dekat sini. Hehehe...
Aku beranjak dari dudukku,
"Oke, makan yuk mas. Aku lapar."
Tiada jawaban darinya, dia bangkit dan mengajakku kesebuah tempat. Di depan halaman yang luas tampak menjalar antrean para nelayan menjinjing hasil melaut mereka.
"Kita makan ikan saja ya?" Aku mengangguk mau.
Lama tidak memakan ikan segar langsung dari sumbernya. Pasti akan lebih terasa ada manis-manisnya, uhh lezat. Membayangkan daging ikan yang padat, lembut, dan terasa manis karena saking segarnya.
Duduk berlesehan di atas tikar di bawah pohon kelapa yang rindang dengan atap tenda terbuka, suasananya menenangkan, bahkan semilir angin laut yang sepoi-sepoi membawa tubuhku hilang rasa dan lambat laun inginku berbaring dengan santainya.
Datang seorang ibu membawa beberapa hidangan olahan ikan laut, salah satunya olahan ikan bakar dengan aroma wangi khas bara tungku, kemangi, dan mentega membuat perut laparku yang merana kian meronta.
Memindahkan sebagian daging ikan bakar bumbu asam manis ke dalam piringku, lalu melahapnya perlahan. Lezat tiada tara, rasa surga kali ya?
"Wah, rasanya nikmat sekali, Mas."
"Hehe, nikmat atau emang lagi lapar?" Mas Dika terkekeh.
"Heu, keduanya sih. Tapi memang lezat rasanya, sungguh. Cobain saja!" Ucapku.
Porsi makanku sebagai seorang wanita dapat dikatakan kelewat batas, beberapa hidangan bersih ludas karena ulahku. Bahkan, pria di hadapanku ini hanya makan beberapa suap saja.
Aku sudah paham dengannya, setiap kali kita makan bersama hanya aku yang makan paling lahap dari semua menu yang dipesannya. Sebagai seorang wanita, aku bukanlah tipe orang yang serba membatasi porsi makanku. Semua asupan nutrisi aku hadapi karena memang sudah menjadi kebutuhan nutrisi harianku.
"Mau eskrim itu?" Lagi-lagi mas Dika menawarkan jajanan yang melintas di hadapanku. Aku bisa apa selain mengangguk mau. Lantas cup eskrim berada di genggamanku dalam sekejap berpindah ke dalam perutku.
"Mas, kembali yuk." Bisa-bisa aku obesitas jika kelamaan duduk di sini.
"Mau langsung atau salat dulu di surau itu?" Tanyaku.
"Salat dulu saja." Jawabnya.
Saat di halaman surau tersebut, jamaah salat zuhur sudah usai. Kami berpisah di antara tempat wudu pria dan wanita. Dari balik tirai pembatas, terdengar suara mas Dika menjadi imam salat. Segera aku menyesuaikan gerakan salat untuk menjadi makmumnya.
__ADS_1
Di dalam perjalanan pulang, aku memandangi wajah pria di sampingku yang bersinar terang karena siraman air wudu yang memancar segar. Bahkan, rambutnya yang basah dan acak-acakan membuatnya terlihat semakin tampan.
"Ada apa memandangiku seperti itu?" Ternyata sadar dia.
"Hihihi, malu aku. Duh, ketahuan 'kan."
"Nggak." Mulutku memungkir.
Hening.....
"Dys?"
Panggilan itu berhasil membuat leherku menoleh,
"Ya?"
"Mungkin kita akan jarang ketemu lagi." Ucapnya tiba-tiba dan tanpa ekspresi yang pasti.
"Heumm, kenapa?"
Diam...
"Kenapa, Mas?"
"Mas akan pergi." Jawabnya.
"Kemana memangnya?" Tanyaku.
"Jauh." Jawabnya singkat.
"Alahhh, paling-paling tugas luar kota aja. Itu sih nggak jadi masalah buatku." Jawabku, sudah pernah aku diprank seperti ini dulu.
"Aku nggak takut kali, lagian kan memang kita jarang ketemu. Nih, paling seperti ini dua minggu sekali. Oh ya, Mas. Kalau mau datang ke rumah sakit bilang aku dulu ya. Takutnya, kamu datang pas aku ada jadwal memeriksa, kan jadi ribet." Ucapku.
"Ehhh, stop! Sudah sampai, sudah di sini saja. Oh ya, ingat! Perginya jangan kejauhan, lho. Nanti lupa jalan pulang lagi. Hahahaha." Ya, aku jadi si rumil sekarang.
"Nggak ding becanda. Ya sudah, ya. Kerjanya semangat, Mas." Belum sepenuhnya pintu mobil terbuka, gerakanku terhenti saat dia memanggil namaku.
"Pinjam ponselmu." Aku menyerahkannya, dia tampak menekan dan menggesar-geser layar ponselku.
"Kita selfie, yuk?" Ajaknya bersemangat, mengangkat tinggi ponselku dengan tangan kanannya. Sedangkan aku mendekatkan tubuhku dan merangkul bahunya,
Cekrekk! Satu momen berhasil diabadikan.
"Nih, ponselnya." Aku meraihnya.
"Oke, sudah ya mas." Belum sepenuhnya kaki kiriku keluar dari mobil ini, lagi-lagi Mas Dika menghentikanku.
"Apa lagu?" Tanyaku
"Peluk aku dong." Rengeknya manja.
"Ih, ngeselin!" Aku mengurungkan membuka pintu mobilnya lantas mendekat dan memeluk tubuhnya. Terasa pelukan hangatnya mengerat pada tubuhku,
"Sudah?" Lantas dia melonggarkan pelukannya.
"Sudah." Dan melepaskan pelukannya.
"Oke, ingat jangan terlalu jauh perginya. Nanti aku nangis, lho. Ngosek di dalam kamar, hahaha." Gurauku padanya.
Kita lihat saja, sejauh mana yang kau bilang 'jauh' Mas? Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk 'pergi jauh' yang kamu katakan, Mas. Hahaha....
Satu pertanyaan lagi, *memangnya ka*pan agendamu untuk pergi jauh itu?
__ADS_1
Hatiku geli menggelitik.