
Pukul sebelas siang, aku sudah stand by di ruanganku. Menunggu pergantian jadwal kerjaku, lebih baik berdiam diri di sini dari pada di rumah yang sepi dan bila ramai pun tidak lain karena omelan Mama yang menasihatiku untuk segera menikah.
Bosan, Ma.
Pintu ruanganku diketuk,
Tukk...tukk...
(Ketukan pintu berhenti berbunyi)
Tuk tukk tukkk..tuk tukk...
Tuktuktuk... tukk tuk tuk...
Irama ketukan pintu terdengar lucu, tidak teratur. Aku tersenyum saat mendengar ketukan pintu itu.
"Siapa yang mengetuk pintu itu?"
"Coba Ti, kamu bukakan pintunya." Perintahku saat Tati berada di dekat pintu itu.
Setelah Tati membukanya, terlihat seorang anak kecil celingukan di depan pintu.
"Siapa Ti?" Aku yang tidak jelas melihat siapa di sana bertanya pada Tati.
"Bella, bu." Jawab Tati.
Aku bangkit dari kursiku, bersamaan dengan Bella berlari ke arahku.
"Dokter Dysa!!" Pekiknya lalu berlari memeluk pinggangku.
"Ohh, Bella. Sudah boleh pulang?" Kuelus rambutnya.
Bella mengangguk,
__ADS_1
"Cepat sekali ya, benar sudah sembuh?"
"Sudah, dokter. Bella ingin berangkat dan bertemu dengan teman-teman Bella di sekolah." Jawab Bella riang, ia melepas pelukannya.
"Ohh, benar nih ingin ketemu teman-teman atau karena takut sama jarum suntik, huh??" Aku menggodanya.
"Hehehe, Bella tidak takut lagi kok sama jarum suntik. Tapi, kalau Bella terlalu lama di sini kasihan Papa. Tidurnya di sofa terus... Hihihi." Bella berbisik dan cekikikan di sebelah telingaku.
"Bella..." Oh, sang Papa mendengarnya.
"No, Bella." Papanya menegurnya.
"Hihihi... Maaf, Papa." Bella berdamai dengan Papanya, mengacungkan dua jarinya.
"Dokter Dysa, terima kasih ya. Sudah mau merawat Bella." Ujar Bella.
"Iya sama-sama, sayang. Jaga kesehatan ya, jangan sakit lagi." Pintaku.
"Iyaa Bella akan menuruti apa kata Papa. Tapi kalau Bella rindu dokter Dysa, Bella boleh ke sini? Boleh tidak, dokter? Hah? Boleh kan?" Tanya Bella, mata bulatnya melotot-lotot gemas di depanku.
"Ohh, seperti itu ya? Ini untuk Dokter Dysa." Tangan imutnya menyodorkan secarik kertas kecil, sebuah kartu nama entah milik siapa.
"Di situ ada nomor telepon Papa. Kalau dokter Dysa rindu Bella, telepon Papa Bella ya?" Ujar si cantik Bella.
"Loh??" Aku mengernyit.
"Tidak terbalik, nih? Bukanya Bella yang akan rindu sama dokter Dysa yang baik hati ini?" Tanyaku menggoda dan menoel pipi bakpaonya.
"Hehehe. Dokter, coba ditelepon nomornya dong." Pinta Bella.
"Kan dokter Bella lagi nggak kangen Bella, untuk apa menelpon sekarang? Uh uhhh." Lagi-lagi aku meledeknya.
Gemassss!
__ADS_1
"Ahhh haaaahh ah. Coba saja, nomor Papa bisa tersambung tidak. Coba, bunda dokter." Rengek Bell yang kemudian ia langsung membekap mulutnya sendiri.
"Hah? Apa tadi? Bunda apa?" Aku memastikan.
"Bunda dokter. Maaf dokter Dysa." Ucap lirih Bella malu-malu.
"Heumm, tapi bunda dokter suka dengan panggilan itu. Okey juga 'bunda dokter'." Aku mengangguk-angguk.
"Soalnya di sekolah Bella setiap ada imunisasi, dokter yang menyuntik dipanggil bunda dokter, dokter." Terang Bella.
"Owalah, oke. Bunda dokter menyukai itu." Hahaha, dapat panggilan bunda ternyata asyik juga didengar.
"Sudah, Bella? Ayo pulang." Ajak papa si anak ini.
"Sebentar Papa. Bunda cepat dicoba dulu nomor itu. Handphone papa bunyi atau tidak." Bella semakin beringas memintaku mendial nomor yang tertera.
Mendengar Bella memanggilku bunda tanpa tambahan 'dokter' seakan aku merasa seorang anak yang tengah memanggil ibu kandungnya.
Duhh, Bella. Aku masih gadis lho, dah dipanggil bunda saja, ya....
Mengetikan dua belas digit angka lalu mendialnya, dari dalam saku celana milik Papa Bella terdengar suara. Ya, benar tersambung secara langsung.
"Oke bunda, terima kasih. Bella pulang dulu, ya. Dadahhhh." Gadis kecil itu memeluk kemudian mencium keningku,
"Sebentar, bunda dokter cium dulu pipi menggemas ini." Aku membalasnya.
"Muaacchh." Aku menciumnya.
"Kalau digigit boleh tidak?" Gurauku.
"Akhhh, tidak boleh!!!" Bella memekik.
"Hahaha.. tidak-tidak. Ya sudah, hati-hati ya di jalan. Ingat, jangan banyak makan permen." Tuturku.
__ADS_1
"Oke bunda!" Dia mengacungkan jari jempolnya padaku.
Siapa yang mengajarkannya untuk bertingkah sepintar dan selucu itu, hah?