
“Bella!” Terdengar pekikan keras dari ujung lorong lobby tersebut, aku dan Bella sontak terkejut dengan suara keras tersebut.
“Papa!” Bella berujar, papa si anak itu berjalan cepat ke arah kami dan di diikuti oleh wanita yang sejak tadi memangku Bella di dalam ruang pesta.
“Bella, sedang apa kau berada di sini?” Ayahnya itu memasang wajah keras terlihat marah.
“Heum, Papa. Bella tadi diajak bunda dokter…” Lirih Bella menjawab, si kecil Bella yang sudah berdiri di hadapan Papanya, lantas menunduk setelah berucap.
Aku merasa takut melihat ekspresi menyeramkan dari seorang ayah yang sedang marah, apalagi dengan Bella? Dengan mantap aku menghampiri anak dan ayah itu, setengah yakin aku akan mampu menjelaskan semuanya kepada ayah dari Bella tersebut,
“Maaf, Papa Bell….” Belum usai aku berkata, Papa Bella langsung memindahkan tatapan menyeramkannya itu kepadaku,
“Tidak ada hak untuk Anda dekat, apalagi lancang membawa pergi Bella. Ada urusan apa Anda dengan saya dan Bella?! Anda hanya seorang dokter saat anak saya sakit, selain itu Anda tidak ada urusannya dengan kehidupan Bella dan saya. Ingat itu, dokter Dysa!”
“Bella, ayo ikut Papa. Sudah papa katakan, jangan mudah diajak pergi oleh orang lain, itu berbahaya! Mengerti?” Diraihnya sebelah tangan Bella, dia membawa putrinya pergi dari tempat ini. Sedang aku hanya diam melihat keduanya pergi dari hadapanku hingga hilang dari pandanganku.
Sejenak aku yang membeku mendudukan kembali tubuhku pada kursi yang sama, menyangga daguku, memikirkan perkataan ayah dari Bella yang baru saja melontarkan peringatan kepadaku.
Apa benar aku telah lancang masuk ke kehidupan Bella?
Aku hanya berempati saja dengan Bella.
Memandang keluar kaca jendela, membiarkan menit demi menit berlalu begitu saja. Memerhatikan pemandangan luar yang kurasa seolah alam mengerti aku yang tengah gundah, langit yang semula terang berubah petang seakan hari menunjukkan sudah mulai senja walau belum saatnya.
Tidak ingin kembali ke pesta, aku mengirim pesan singkat pada Dena untuk berpamitan pulang. Kutahu Dena tidak akan sempat membalasnya, setidaknya aku sudah memberitahunya. Aku memesan taksi secara online lewat aplikasi di ponselku, memikirkan bentakan yang aku terima dari seorang ayah mantan pasienku itu membuat diriku menciut, merusak good moodku.
“Loh? Kok pakai Taksi? Edwin mana?” Mama menghampiriku yang baru saja turun dari mobil biru yang aku tumpangi.
“Edwin?” Mengerutkan dahi, aku merasa linglung.
Siapa itu Edwin?
“Iya Edwin, dimana dia?” Mama kebingungan,
Ia menepuk lenganku agak keras, barulah aku tersadar. Seketika aku menepuk dahiku,
“Ya allah, Ma! Edwin aku tinggal di pesta itu!”
“Kamu ini bagaimana, Dysa?! Mama kan bilang, jangan bikin dia kerepotan. Pasti sekarang dia sedang kebingungan ngira kamu ilang. Ah, kamu bisa-bisanya ninggalin orang begitu saja… bla,bla,bla…” Mama terus mengomeliku,
“Lah, ternyata Edwin menelponku sejak tadi,” gumamku saat mengecek ponsel dari dalam tasku.
“Ya sudah telepon balik, cepat!” Perintah Mama,
“Iya, Ma. Ini juga sedang tersambung.”
Bunyi tut… terdengar lama, sampai akhirnya ada suara yang berbicara,
__ADS_1
“Halo, Dysa!? Kamu dimana?” Edwin langsung menyambar pertanyaan dengan nada setengah membentak.
“Halo, Mas?” Aku memastikan suaraku jelas atau tidak di sana.
“Iya halo?! Kamu dimana sekarang?” Kudengar dari nada bicaranya, sepertinya dia sedang cemas mencariku.
“Mas Edwin, aku sudah ada di rumah. Aku pulang naik taksi,” ujarku.
“APA!?” pekikan keras menggema di telingaku.
“Iya, maaf. Aku melupakanmu, maaf ya Mas.” Ujarku yang tidak enak hati, aku mengaku salah. Tiada sahutan darinya, aku mengecek layar ponselku, detik panggilan masih berjalan yang artinya telepon masih terhubung.
“Mas? Mas Edwin? Haloo…?” .
“Iya?” Edwin menjawab.
“Mas Edwin langsung pulang saja, aku baik- baik saja.” Ujarku.
“Iya, syukurlah.” Jawab Edwin di akhir panggilan dan aku mengakhirinya.
“Bagaimana?” Tanya Mama,
“Sudah beres, Ma. Aku menyuruh mas Edwin langsung pulang saja.” Jawabku pada mama.
“Ya, kalau itu mama dengar.” Sahut mama.
...----------------...
“Ma, kok Edwin belum datang juga sih? Ini sudah pukul sepuluh loh. Apa dia marah padaku karena aku tinggal di pesta Dena kemarin?” Aku menduga-duga.
“Ya, mungkin dia marah, tapi sabarlah sebentar. Mama yakin, dia pasti akan datang.” Ujar Mama.
“Mama nggak tahu, Edwin itu nggak cuma sekali-dua kali terlambat, Ma. Kalau gini terus mending Dysa pakai mobil sendiri saja ya Ma?”
Mama yang sedang mengoles selai pada roti panggangku seketika menatapku tajam,
“Dysa!” Ekspresinya seram seperti singa betina yang hendak menerkam.
“Ya Mama, tidak jadi.” Aku mengalah, Mama kembali mengoles kan selai kacang pada rotiku.
Terdengar bunyi klason mobil di halaman depan rumah,
“Nah, itu Edwin datang.” Mama berujar senang.
Aku yang baru saja memasukkan sepotong roti kedalam mulutku lantas beranjak,
“Oh, yasudah ya Ma. Dysa berangkat sekarang saja. Dahh, Mama… muach.”
__ADS_1
“Loh kok piringnya di bawa juga?” teriak Mama.
“Dysa makan di mobil saja rotinya!” Teriakku membalas Mama.
Di gerbang depan, Edwin yang hendak masuk ke dalam rumahku segera aku mencekal lengannya,
“Sudah, ayo kita berangkat sekarang.” Ucapku.
Edwin menurut,
“Jalannya agak cepat ya, Mas.” Pintaku, tapi pria di sebalahku ini hanya diam.
Aku menikmati dua lembar roti sampai habis, tidak ada gangguan sama sekali. Bahkan, pria di sampingku ini hanya fokus pada aktivitas menyetirnya tanpa bertanya dan tidak pula kutanya.
“Mas Edwin marah?”
Dia menoleh disertai gelengan kepala,
“Kenapa diam saja?”
“Memangnya aku harus melakukan apa?” Jawab Edwin padaku.
“Ya, baiasanya kamu selalu punya pertanyaan untukku. Kenapa kali ini berbeda?” Tanyaku, aku yakin pasti dia sedang marah padaku karena kejadian hari lalu.
Dia diam,
“Tuh kan diam lagi, kalau Dysa salah maaf ya Mas. Kemarin ada sedikit masalah, Dysa bingung akhirnya milih pulang aja. Sekali lagi Dysa minta maaf.” Ucapku lagi, tapi dia tetap menatap ke depan,
“Benarkan, emang Mas Edwin lagi marah sama Dysa. Iya kan?”
Hanya embusan napasnya yang aku dengar, lantas membenarkan posisinya seakan ingin berucap kata. Benar saja, ia membuka suara
“Marah itu sudah…”
Sambala-sambala, sambalado…(Bunyi dering ponselku)
“Eh, sebentar Mas. Ada telepon dari temanku.” Aku mengangkat telepon dari bang Andre.
“Halo, iya bang? Ada apa?”
"Hei, Assalamualaikum, Dysa...." Ujar Bang Andre.
“Oh, iya waalaikumsalam. Hehehe, sorry Lupa.” Balasku malu karena terlupa mengucap salam.
"Kebiasaan! Sudahlah, ini ada anak kecil yang menangis di depan ruanganmu. Dia tidak mau diajak pergi, terus saja menangis dari setengah jam yang lalu." Bang Andre memberitahu.
“Hah? Apa?! Sudah sejak setengah jam yang lalu? Oke oke, aku percepat sampai ke sana.”
__ADS_1
Telepon berakhir,
“Mas, bisa tolong dipercepat laju mobilnya? Ada seorang anak kecil menungguku di sana. Dia menangis karena menungguku lama.” Ucapku pada Edwin, tanpa ia menjawab kurasakan mobilnya melaju dengan cepat secara signifikan yang membuatku agak sedikit ketakutam. Tapi tidak masalah karena ini keinginanku dan aku harus segera sampai di tempat tujuan.