
Dokter Andre membawaku ke restauran mewah di dalam hotel bintang lima, sebuah ruangan ekslusif yang dia pesan. Meja makan yang besar dengan beberapa hidangan. Begitu kaki ini melangkah, semburan angin dari ruangan itu manawarkan aroma terapi yang menyenangkan, aku menyukai konsep desainnya. Sangat klasik dan membawa ketenangan.
"Benarkah kita makan malam di tempat ini?" Tanyaku padanya. Hanya untuk makan malam, perlukah sampai menyewa ekslusive room?
"Benar, spesial kupesan untuk mengatasi sedikit kesedihanmu." Jawabnnya. Kurangkul lengannya seperti sepasang kekasih.
"Yakin tidak salah?" Tanyaku sekali lagi.
Dia menggeleng, "Benar dan tidak ada yang salah. Silakan duduk, Nona." Dia menuntunku untuk diduk di atas kursi mewah berlapis permata yang berkilauan pada tepi sandarannya.
Hidangan yang tersaji tersebut bukanlah yang menu utama, datang bergantian para pelayan yang membawakan beberapa menu lainnya untuk kami nikmati. Bukan hanya kemewahan tempatnya, tetapi juga pelayanan, peralatan, dan terutama menu yang disajikan.
Semua rasa ini bahkan sepertinya belum pernah aku rasakan sebelumnya. Dokter Andre meraih sebelah tanganku, mengecupnya.
"Ah?" Itu membuatku tersentak.
"Kamu menyukainya?" Dia bertanya.
"Aku sangat menikmatinya, semua ini sangat lezat dan tempat yang sangat indah." Ujarku apa adanya. Aku masih terpukau dengan apa yang ada di depan mataku. Semua ini sangat istimewa, sejenak aku bisa melupakan apa yang menjadi masalah hidupku.
Datang dua orang pelayang pria yang membawakan sebuah botol dan dua gelas.
"Kamu mau minum?" Tanya dokter Andre.
Aku melirik botol yang dibawakan oleh pria itu, sebuah wine?
Aku tersenyum dan mungkin aku bisa mencobanya. "Sedikit." Ucapku.
"Hahaha, baiklah." Dokter Andre terkekeh.
Pelayan itu menuangkan wine ke gelas kami berdua. Jujur saja ini pertama kalinya aku meminum air ini, rasanya kuat dengan aroma yang menguar menyebar ke seluruh rongga hidungku sampai kurasakan menusuk dan terasa pusing pada kepalaku.
"Auh," rintihku saat kepalaku terasa tertusuk dengan aroma dan rasa yang asing ini.
__ADS_1
"Hei, bukan begitu cara menikmatinya. Sedikit-sedikit dan perlahan." Nasihat dokter Andre.
"Sudah ya?" Ujarnya.
Tapi aku menggeleng, aku ingin merasakannya lagi. Kuketuk-ketuk gelasku pada meja, satu tuangan lagi dari botol itu. Kali ini aku menikmatinya sesuai dengan arahan dokter Andre. Perlahan dan sedikit demi sedikit.
Benar, rasanya berbeda. Aku merasakan sensasi yang berbeda dari tegukan yang pertama tadi. Dua gelas masih kurang, aku menginginkannya lagi.
"Cukup, Dysa. Kamu tidak terbiasa, nanti kamu mabuk." Ujar Dokter Andre dan dia memerintahkan pelayan itu pergi.
"Tidak, aku masih mau lagi. Sekali lagi." Ucapku, meski kurasa tubuhku seperti terasa lebih ringan dari sebelumnya.
"Cukup, ayo kita lihat pemandangan di sana saja." Kata dokter Andre memintaku bangkit dan berjalan ke suatu tempat.
Huh, langkahku sempoyongan. "Kamu terlalu banyak minum." Ucapnya.
"Tidak, anya sedikit kok, itu belum berasa. Seperti minum susu." Ucapku yang mulai mengelantur, tapi aku sadar apa yang kukatakan hanya saja sedikit sulit untuk mengendalikan tubuhku.
"Berjalan dengan benar," Kudengar suara dokter Andre memperingatkanku, ia yang menuntunku dengan tidak benar. Aku seperti dibawa ke sana kemari oleh langkahnya.
"Bagus sekali. Itu lampu apa?" Tunjukku pada salah satu lampu yang menyala sangat terang di antara yang lainnya.
"Itu lampu gedung perusahaan M." Jawab Dokter Andre.
"Bagus, warnanya menyala. Pasti mahal." Ucapku.
"Duduk," perintahku seraya menepuk-nepuk sofa sebelahku yang masih tersisa ruang.
Dokter Andre duduk, aku menyandarkan tubuhku pada dirinya. Sangat nyaman. Kuraih tangan yang berada di atas pahanya, kucium dan kuletakkan di atas dadaku sebelah kiri.
"Aku seperti merasakan getaran di sini saat bersamamu, dokter." Ucapku.
"Sungguh, getaran yang seperti apa?" ia bertanya dengan nada bicara yang menggelikan.
__ADS_1
"Tidak tahu, aneh." Jawabku dengan mengerutkan otot-oto wajahku.
"Kamu malam ini tampan sekali, boleh aku memelukmu?" Tanpa persetujuan darinya, aku beranjak dan duduk di pangkuannya. Memeluknya dengan erat, sangat erat. Antara sadar atau tidak, masih bisa kurasakan dia membalas pelukanku. Mengelus punggungku naik turus secara teratur.
"Kalau aku memelukmu, getarannya hilang di sini." Tunjukku pada dada sebelah kiriku.
Dia tersenyum, entah mengapa aku sangat terpesona dengan senyumannya itu. "Benarkah?" Aku mengangguk membenarkan ucapanku.
Kususuri wajah itu, jika boleh kukatakan dokter Andre sangat tampan dan baik hati padaku sejak awal perjumpaan. Dia selalu ada untukku, meski baru kini aku menyadarinya. Aku menatapnya lekat-lekat, sorot mata itu sering aku dapatkan darinya setiap saat. Namun, mengapa saat ini kurasa ada yang berbeda? Bukan pada sorot matanya, tapi pada diriku. Aku merasakan keanehan pada diriku, saat ini yang kuinginkan hanya berdua dengannya dan memeluknya sepanjang malam.
Kembali aku memeluknya, menggerakkan kepalaku pada bahunya. Teramat nyaman kurasakan. Aku menarik mundur kepalaku, menatapnya dengan sangat dekat. Lantas seperti ada yang mendorongku untuk melakukan sesuatu. Kupandangi bibirnya yang berwarna pink segar itu, sejenak aku merapatkan bibirku sendiri. Ingin menyentuh bibir miliknya dengan jemariku, tapi aku risih.
Kembali bergetar di dalam dadaku saat bibir itu bergerak dan bertanya, "Ada apa?"
Aku menggeleng, sepertinya memang harus kukatakan ini secepatnya. "Dokter, Anda tampan sekali. Maukah kamu jadi suamiku?"
Dia menggeleng, tapi dengan kekehan di bibirnya. Tangannya masih memegangi punggungku, "bisakah kita berciuman?" Tanyaku padanya.
Dia mengerutkan dahinya, matanya menyipit menatapku. Aku mengangguk-angguk, aku berkata serius untuk kali ini.
Namun, aku tidak mau memulainya terlebih dulu. Benar, dengan tangan kanannya, dia menarik rahangku untuk mendekat. Dengan perlahan dan semakin dekat sampai dapat kurasakan angin yang berembus di dekat bibirku.
Cup.
Sekilas aku merasakannya, bibir kami menempel. Namun, hanya sesaat. Aku merasa ada yang kurang, kini aku menggeleng. Membuatnya tersenyum lebar dan mengulanginya. Dengan tangan kanannya yang ia gunakan untuk menarik daguku, ia kembali mendekatkan bibirku pada miliknya. Mencium bibirku dengan perlahan, tapi sangat dalam dan semakin menuntut, rasanya sangat dahsyat. Membuat jantungku berpacu sangat kencang.
Tidak cukup sampai di situ, kini tangan yang semula berada di punggung bergeser ke pinggangku. Menekan pinggangku secara perlahan, ada sesuatu yang membuatku mengingkan lebih dan lebih. Kini tangannya bergerak pada pangkal pahaku, bergerak menyusuri area perut bagian bawahku. Kembali ke pinggang dan menyusuri tubuhku bagian belakang. Kini tangannya dengan bebas bergerak di setiap jengkal tubuhku bagian atas dan berhenti pada kedua bahuku lalu meremasnya, kini turun sampai pada lengan atasku. Mememgangnya dengan kuat, lalu menarikku mundur.
Cuahm! Ciuman itu terhenti seketia saat ia memaksaku menarik mundur tubuhku. Menghentikan secara paksa sesuatu yang semula membuatku melayang-layang di udara. Napas kami terengah-engah, dadaku kembang kempis begitu pun dirinya.
"Cukup, aku tidak bisa." Ucapnya meski dirinya masih berusaha menguasai diri dan napasnya.
Aku menunduk, ya kami tidak bisa melanjutkan ini sampai pada puncaknya. "Jika dilanjutkan, aku akan menyakitimu. Kamu mengerti 'kan?" Ujarnya seraya merapikan anak rambutku dan menyelipkannya ke belakang telinga.
__ADS_1
"Aku mengerti, terima kasih. Terima kasih untuk segalanya, dokter Andre. " Kini aku hanya bisa memeluknya.