Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 4 ~Sebuah Janji Bersama Dokter Andre


__ADS_3

Hari ini jadwalku free sampai jam dua siang nanti. Aku menyibukkan diri dengan mengutak-atik berkas di layar komputerku, mengamati satu per satu nama pasien kecilku. Tanggal dan tempat mereka lahir, ya tidak penting tapi cukup mengisi waktu luangku.


Tiba-tiba pintu ruanganku diketuk,


"Masuk." Seruku,


"Oh, dokter Andre? Ada apa, dok?" Aku menegakkan posisi dudukku, sedangkan dokter Andre memutar kursi dan duduk di depanku.


"Benarkah kamu yang mendiagnosis pasien bernama Ivan?" Tanya dokter Andre.


Aku mencoba mengingat,


"Ivan? Hemm... Anak kecil itu?"


"Iya."


"Iya, menurut diagnosisku dia mengidap kelainan darah, leukemia. Apa mereka sudah menemuimu? Aku yang menyarankan mereka untuk datang menemuimu." Ucapku.


"Iya mereka menemuiku minggu lalu." Jawab dokter Andre. Akhir-akhir ini, dialah dokter yang sering berkunjung ke ruanganku. Dokter spesialis kanker yang masih single, entah single parent atau single jones (jomlo ngenes, rek! Hahaha)


"Terus bagaimana hasilnya? Apakah diagnosisku tidak terbukti?" Aku bertanya pada seorang dokter pria di hadapanku. Bukan tidak yakin atas kemampuanku, hanya saja masih ada kemungkinan bahwa diagnosis dokter terkadang tidak sepenuhnya benar sebelum ada pembuktian konkret secara medis melalui tes lab. Harap maklum karena dokter juga manusia punya hati, punya rasa, dan logika.


"Diagnosismu benar, Ivan memang mengidap leukemia sejak tahun lalu dan saat ini sudah stadium 3." Tutur dokter Andre.


"Aku turut prihatin, dok. Bagaimanapun, ini sudah menjadi kehendak Allah, penyakit tidak terduga menimpa seorang anak yang begitu ceria dan belum berdosa."


"Iya, kau benar. Aku juga pernah merasakan kesedihan orang sekelilingnya." Ucap dokter Andre.


"Maksudnya, dok?" Mengeryit bingung dengan jawabannya.


"Ya, sedikit kisah tentang hidupku. Aku memiliki saudara kembar, tapi dia perempuan dan namanya Andriya. Pada saat usia kami dua tahun, Andriya divonis mengidap penyakit serupa. Dan dalam waktu singkat Allah mengambilnya, jadi kini aku menjadi satu-satunya anak lelaki tunggal di keluargaku." Cerita dokter Andre.


"Oh, aku turut prihatin mendengarnya. Memang penyakit bisa menyerang siapa saja tanpa pandang usia ya, dok." Ucapku, sejujurnya bingung harus menanggapinya seperti apa. Sedih, sudah pasti. Tapi, tidak ingin aku menjadi menyebab luka hatinya kembali terbuka mengenang saudaranya.

__ADS_1


"Ya, seperti itulah kehendak-Nya." Jawab Andre.


Hening....


"Oh ya? Dokter Andre ada kepentingan apa ke ruangan saya?" Mengganti topik pembicaraan akan menjadi menyenangkan, mungkin.


"Tidak boleh ya?" Tanya dokter Andre. Dia cemberut, aku takut.


"Tidak-tidak, bukan seperti itu cuma tidak biasanya saja. Hehehe," aku berkilah.


"Saya mau minta tolong padamu, dokter Dysa." Tuturnya dengan nada mendayu.


"Tolong? Apa yang bisa saya bantu?" Tanyaku, antusiasmeku bangkit untuk membantu selagi aku bisa.


"Dua minggu lagi, saudara jauhku melangsungkan pernikahan dan ada pesta tentunya. So, kamu tahu kan apa maksudku, dok?"


Aku mengernyit, pura-pura mencari jawaban.


Tuk, tuk, tuk (aku mengetukkan jari kuku pada mejaku) alias tidak mau menjawab.


"Temani aku ke pesta itu ya?" Ujar dokter Andre.


"Hem, apa imbalannya?" Aku tergugu sendiri dengan ucapanku barusan.


'Imbalan?' Hahaha, gila ya aku ini?


"Imbalannya apapun yang Anda mau dokter," balas dokter Andre.


"Apapun yang aku mau? Hem, baiklah aku minta bayaran satu miliar untuk satu malam jalan. Bagaimana? Hah?" Tawarku.


"Bahkan gajiku selama setahun tidak mencapai angka itu. Apa aku harus menjual ginjalku dulu?" -Dokter Andre.


"Hahaha, tidak-tidak. Kenapa dokter meminta bantuanku?" Tanyaku.

__ADS_1


"Ya, karena dokter Dysa adalah wanita single. Jadi, aku tidak punya masalah apapun dengan pria lain untuk mengajakmu. Ya 'kan?" -Dokter Andre mengangkat-turunkan kedua alisnya.


"Hihihi, dia tidak tahu kalau aku punya kekasih. Apa dia tidak tahu atau tidak pernah melihat, siapa pria yang sering datang menemuiku kemari?"


"Hah? Iya 'kan apa?" Aku bertanya, menyangga daguku menanggapi setiap ucapannya yang seperti lawakan bagiku.


"Iyakan masih single?" Alisnya naik-turun.


"Double kok." Jawabku.


"Apanya?"


"Lemaknya. Lemak di perutku doubel dok." Kekehku sambil manyun-manyun.


"Hahahaha, bisa saja Anda. So, dokter Dysa tidak boleh memiliki janji lain ya?" Dokter Andre berucap seraya menudingkan telunjuknya padaku.


"Okee.." Aku mengangguk.


"Thank you. My patient is waiting, sorry. Saya permisi dulu dokter Dysa. Catat tanggalnya dan jangan lupakan janji kita." Ucapnya sembari menudingku lalu menutup pintu ruanganku.


"Huhh! Dalam dua hari, aku sudah mendengar dua kabar pernikahan. Ya, setiap harinya ada saja orang yang menikah." Gumamku sendiri.


"Bu, maaf, permisi." Tati datang.


"Oh ya, ada apa Ti?"


"Ada yang mencari ibu di depan." -Tati.


Mencariku? Siapa?


Aku penasaran, hari ini tidak ada jadwal menemui pasien khusus dan aku rasa tidak memiliki temu janji. Siapa ya?


"Siapa, Ti?"

__ADS_1


__ADS_2