Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 9 ~Hari-Hariku Bersama Pacar Bayangan


__ADS_3

Sudah seminggu aku diantar jemput oleh pacar bayanganku maksudku anak kenalan Mama, siapa lagi kalau bukan Edwin.


Jengah aku dengan sikapnya yang terkesan berpura-pura baik demi mendapatkan perhatianku. Muak, dan aku tidak menyukai tipe pria seperti dia. Demi menjadi idaman di mata Mama dan Papa, dia berlaku manis di depan mereka. Ya, walaupun itu hanya aku yang dapat merasakannya.


"Lama banget dandannya, Dys." Celetuk Mama di daun pintu kamarku.


"Sengaja, Ma. Biar dia merasa bosan menungguku." Ujarku dalam hati.


Lantas aku beranjak dari posisi dudukku, tap-tap bedak pada wajahku sengaja aku perlama. Ya, apalagi alasannya jika bukan untuk mengulur waktuku.


Aku juga mengatakan pada Edwin bahwa hari ini jadwalku pukul sepuluh pagi, haha. Padahal tidak secepat itu, bahkan sampai setengah sebelas ini, aku belum keluar dari kamarku.


Maafkan aku, Win.


"Ma, Dysa berangkat ya?" Pamitku pada Mama.


"Iya, hati-hati ya. Edwin sudah menunggu lama di depan." Aku tersenyum miring, mama akhir-akhir ini membuat pagiku yang cerah seakan tidak lagi bergairah.


"Iya, ma." Balasku pelan.


"Senyum, Dysa! Jangan cemberut seperti itu lohhh." -mama.


Benar, di halaman depan rumah tengah berdiri seorang pria berpakaian sangat rapi dari ujung rumbut sampai kakinya. Semua yang ia kenakan terlihat cerlang bersinar seperti baru keluar dari pencucian. Hahaha..


"Oh, sudah siap?" Tanya Edwin padaku, wajahnya yang semula datar menatap ke depan, menjadi semringah melihatku berjalan mendekatinya.


"Yuk, silakan masuk Nona." Pria berkemeja putih bersih berseri itu membukakan pintu mobil untukku.


Ya, aku masuk...


"Ke rumah sakit seperti biasa?" Tanya Edwin yang mulai melajukan mobilnya.


"Iya,"


"Baik, Nona cantik." Edwin.


"Nanti pulang jam berapa?"


"Seperti biasa, sembilan malam." Jawabku, sebisa mungkin aku tetap bersikap baik selama dia berlaku baik padaku.


"Hem, oke. Nanti makan siang dulu ya?" Tawarnya padaku.


"Tidak, belum saatnya." Jawabku, ya karena ini masih pukul sebelas pagi.


Baru saja aku sarapan, sudah diajak makan siang. Oh mama, tolonglah aku.


"Nona Dysa yang cantik, berapa banyak pasien yang biasanya ditangani tiap harinya?" Kembali dia mengajukan pertanyaan.


UHHHH! MALAS AKU MENJAWABNYA.


Kenapa sih topik pembicaraannya tidak menyenangkan sama sekali?!!

__ADS_1


"Hem, tidak tentu. Oh ya, jangan panggil aku nona cantik. Cukup panggil 'Dysa' saja." Wahh, kalimat panjang pertamaku padanya.


Maaf, aku agak kesal padamu, Win.


"Baiklah,lalu..." Ia hendak melontarkan pertanyaan berikutnya.


"Maaf, Mas. Aku sedang tidak ingin banyak bicara kali ini."Ucapku terpaksa menghentikan pertanyaan-pertanyaan konyolnya.


"Ohh, Okey..." Dia mengangguk-angguk.


"Sudah sampai." Menarik rem tangannya, sedangkan alu bergegas membuka seatbelt ku dan turun dari mobil itu.


"Dysa...." Panggilan itu membuatku menoleh, dan mengingatkan bahwa aku lupa untuk berpamitan dengan pria yang mengantarkanku kemari.


"Semangat ya kerjanya, bu dokter." Edwin mengepalkan tangan kanannya, dia yang berdiri di samping pintu kemudi berkata demikian padaku.


"Ya, Mas. Terima kasih sudah mengantar." Balasku tanpa mendekat, lantas berputar balik melanjutkan langkahku.


"Dysa...!" Belum genap tigapuluh langkah, terdengar seseorang memanggil namaku untuk yang kedua kalinya. Bukan Edwin, melainkan dokter Andre.


Dokter Andre melangkah mendekatiku,


"Ya, pak dokter. Ada yang bisa saya bantu?" Formal aku bertanya layaknya seseorang yang tidak pernah berjumpa.


"Tolong bantu aku, dokter Dysa."


Ihh, pria ini menangkupkan tangannya padaku? Yang benar saja.


"Oh, tolonglah... Tolong obati hatiku yang pilu ini karena menahan rindu." Lawaknya, dia memegang sebelah dada bagian kirinya.


"Ah hah, asam basa garam kelakuanmu, Pak dokter. Uh, perutku kok jadi mual ya mendengar lawakan Anda." Kekehku.


"Hahaha, dokter Dysa. Jangan lupakan acara besok malam, okey?" Dia mengedipkan sebelah matanya.


"Hah? Ada apa memangnya besok malam?"


"Ya Tuhanku, Ya Robbi. Kau melupakan janjimu padaku, hah? Tega sekali kau melupakan janji kita." Dokter Andre mendelik-delikan matanya padaku.


Waduh, dokter Andre melotot padaku. Serem juga jika benar ia marah.


"Ada apa memangnya besok malam?"


Duh, aku melupakan sesuatu ya? Janji Apa memangnya?


"Ya sudah lah, lupakan saja. Tidak jadi." Cemberutnya.


Dih, kok malah ngambek gitu?


Wadidau! Dia bisa ngambek juga ternyata, xixixi...


Aku membuka jadwal di notes ponselku, besok tanggal 28. Ada apa di tanggal itu?

__ADS_1


"Ohh, ya Allah. Besok adalah tiba hariku untuk menemaninya ke pesta." Gumamku.


"Dokter Andre, tunggu! Dokter! Aku sudah mengingatnya, dokter Andre!" Ya, aku berteriak dan mengejarnya.


"Dokter, tunggu." Mencekal tangannya.


"Maaf, maaf. Aku hampir lupa, selarang aku sudah mengingatnya. Besok kita datang ke pesta pernikahan sepupumu itu kan?" Di siang terik ini aku sudah dibuat ngos-ngosan olehnya.


"Hem." Gumamnya singkat.


"Marah, dok? Ya sudah kalau tidak jadi mengajakku ya tidak masalah." Ujarku kemudian.


Dokter Andre diam dalam langkanya.


"Bagaimana? Benar nih? Kalau tidak jadi, aku mau ke festival pasar malam saja." Lanjutku.


Ya, aku ada ide. Mengambil ponselku dan kunyalakan kamera videoku. And.....


Rekam ahhh....


"Wuih, ada yang ngambek nih? Aku viralin ah di tik-tok 'seorang dokter Andre ternyata bisa marah juga guys' hati-hati untuk para pasien, jangan membuat singa putih ini marah karena lama sembuhnya. Kikikikkkk..."


"Ahhh, aku tidak marah. Hentikan, dokter Dysa." Akhirnya dia kalah juga 'kan.


"Hentikan, aku bilang." Merebut ponselku.


"Oke oke. Aku minta maaf, tenyata bisa marah juga, dok? Terus, jadi tidak besok malam?" Tanyaku, aku meraih kembali ponselku dari genggamannya.


"Jadi. Aku hanya tidak suka dengan orang yang mengingkari janjinya. Padahal kan aku sudah memberitahukannya dua minggu yang lalu. Mudah sekali Anda melupakan itu?" Cerucusnya.


"Hihihi... Tidak bermaksud mengingkari. Biasalah, manusia 'kan tempatnya salah dan lupa. Betul?" Balasku.


"Hem, betul-betul-betul..." Tutur katanya menirukan kartun si dou botak.


What? Seriously? I found another side of him.


"Asyikkkk, saya suka, saya suka." Tidak mau kalah aku menirukan gaya comel si bocah Tionghoa.


"Saya suka dokter Andre ceria lagi ooooo." Oke, aku bertransformasi menjadi si Mei-Mei.


Pletak, (dia menjitak dahiku)


"Auuuu! Dasar Pak dokter rese!!"


Waduh, dia berlalu pergi. Apa ada orang yang mendengarku berteriak????


Ahhh, bisa gila aku. Gila, gila, gila!


Aku menelisik ke sekelilingku. Ke kanan, kiri, depan, dan belakang. Ternyata rupanya, mobil Edwin masih terparkir di sana, kulihat samar dia masih duduk di kursi kemudinya. Benda berwarna putih itu sama sekali belum bergerak daritempatnya, kurapatkan bibirku rasanya tidak enak hati jika dia melihat semua gurauanku dengan dokter Andre.


"Edwin? Dia memerhatikanku sejak tadi?"

__ADS_1


__ADS_2