
Malam itu, bukan malam lamaran untukku. Pria bernama Baihaqi beserta keluarganya itu hanya datang bertamu, tentunya membawa tujuan untuk berkenalan denganku. Kata Mama, nanti mereka akan datang lagi entah kapan. Sedangkan kini tiba saatnya akhir pekan. Pertemuan yang aku janjikan dengan Mas Dika. Di depan halte yang letaknya jauh dari rumahku, aku menunggunnya di tempat itu.
“Mau kemana, nih?” Belum kujawab, masih melihat-lihat di laman internet spot-spot yang menarik untuk dikunjungi. Inginku berkunjung ke kebun binatang atau taman-taman yang dipenuhi bunga bermekaran, tapi ini akhir pekan pasti tempat seperti itu sangat ramai. Keramaian membuatku pusing, bukannya menikmati liburan malah pening kliyengan.
“Semua tempat wisatanya ramai, Mas. Kemana ya?” Merapatkan mulutku, mengetuk-ketukkan ponsel pada pelipisku. Berpikir untuk menentukan tempat yang cocok sebagai tempat ngedate kali ini.
“Kita sudah sampai sejauh ini, lho.”
Iya, benar juga. Sudah puluhan kilo meter terlewati, huh. Aku menggaruk leherku karena kebingungan.
“Kemana nih?” Lagi, ia menanyakan hal yang sama.
“Hem, terserah Mas deh. Aku ikut saja.” Jawabku, terlampau bingung untuk memutuskan tempat lokasi. Akhirnya, kita sama-sama diam.
1,
2,
3,
4,
5, ..... Sekian detik tanpa suara.
“Kemana ya? Dufan?”
“Hemm…Tidak mau.” Macam bocah saja.
“Mall?”
“Huh, nggak mau ah. Ramai.”
“Ragunan?”
Aku menggeleng.
“Pantai?”
“Bosan, panas juga.”
“Terus mau kemana?
“Terserah…” Jawabku.
Sungguh, apakah aku termasuk wanita normal? Mulutku berujar ‘terserah’ saat tidak bisa memutuskan, tapi aku juga tidak setuju dengan usulan yang ia ajukkan. Jangan salahkan wanita atas kata ‘terserah’ yang terucap dari mulutnya. Sesungguhnya, itu respons saat mulut tak mampu lagi menjawab. Daripada nggak jawab sama sekali kan ya? Lebih baik ucap ‘terserah’ wleee.
Pria di sampingku malah terbahak setelah kata terakhir terucap dari mulutku. Sejujurnya, aku menginginkan tempat yang damai, tenang, tanpa ada keributan, atau yang berdesakan. Tujuanku berakhir pekan bukan untuk sekadar bertemu dengan pacar, tapi juga ingin menjernihkan pikiran. Refreshing, you know?
“Kemana ya? Pulang saja?” Tawarnya lagi, kutahu dia sama depresinya denganku yang bingung mencari tempat persinggahan.
“Dih, pulang! Baru aja keluar masa mau pulang?” Tidak bisa, tidak terima jika alur ceritanya begini.
“Ke monas saja yuh?” Usulku, kulihat ia mengangguk.
“Kemanapun kau mau, asalkan jawabannya bukan terserah.” Sambungnya.
Monas, di hari sabtu begini tampak sepi. Memarkirkan mobil, lantas kami masuk dengan berjalan kaki. Berswafoto, dan membeli karcis di slot pembelian. Walau kulihat banyak remaja dan para keluarga berkunjung ke sana, tapi tempat yang luas ini tidak terlihat begitu ramai, pemandangannya berbeda pada saat aku kecil dulu, atau mungkin orang-orang sudah bosan utuk berkunjung ke salah satu situs bersejarah ini.
Di batas teratas tugu monas (Monumen Nasional), tidak lupa lagi-lagi kami berfoto. Ya ya ya, bagi sebagian orang yang ngedate pilihan tempat ke mari adalah hal yang membosankan, bahkan untuk orang sepertiku yang sudah ratusan kali datang kemari maka jangan tanyakan lagi tata letak setiap detail benda-benda di tempat ini. Tapi, tiada bosannya untukku dan pria yang sedang bersamaku, kami menikmati kebersamaan ini. Tak mau kalah dengan asmara para remaja, kami pun bergandengan dan melangkah penuh suka cita.
Berakhir kami mampir di warung bakso dan soto ‘Ibunda’. Memesan menu andalan yakni bakso lava kuah kari spesial, percaya tidak? Baksonya sebesar kepala bocah usia tiga bulan, belum lagi bonus bakso kecil-kecilnya, dan tambahan tetelan, sayur, dan lain-lain. Parahnya, harga seporsi bakso ini hanya lima puluh dua ribu lima ratus rupiah, jelas lebih murah ketimbang bakso biasa seharga lima belas ribu di warung bakso lain. Jika dibandingkan, memang setimpal. Baksonya ukuran jumbo, dan jangan lupakan isian cabai rawit yang hargamya pasang-surut.
Seporsi bakso untuk kami makan berdua, tidak habis (Maafkan ya). Di luar hujan, menunggu reda kami hanya diam tak berkata. Berbicara pun tidak guna, karena suaranya bertabrakan dengan suara hujan yang deras menetes ke atap dan jalan raya.
Menikmati senja di warung bakso, bahkan tidak terhitung berapa gelas teh hangat yang sudah kami habiskan. Sungguh dingin, hanya menikmati derasnya hujan di dalam sepetak kedai ini, aku rasa inilah waktu terlama ngedate kita selama delapan tahun ini. Semakin sore, mamaku sudah berkali menelpon menanyakan keberadaanku.
“Mas, sepertinya aku harus pulang. Sudah terlalu lama aku di luar.”
__ADS_1
“Hem, okey. Ayo.” jawabnya.
Di depan tempat itu langkahku terhenti.
“Kenapa?”
“Kita mau hujan-hujanan?” Melihat mobilnya yang terparkir di seberang jalan sana. Apa iya harus lari ke sana? Membayangkan dinginnya tetesan deras air hujannya saja sudah membuatku merinding kedinginan.
“Hem, ya biar aku saja.” Ujarnya, dia lebih cerdas dariku. Meminjam payung dari pemilik kedai lantas mendekat ke mobilnya. Mobil itu keluar dari area parker lalu mendekat di hadapan mataku, turun dengan payung yang sama. Bodohnya lagi, aku malah berlari untuk masuk ke mobil itu. Kenapa tidak menunggu payung saja jika takut kena hujan? Bodoh!
“Dingin tidak?” Ujarnya saat kami sudah berada di dalam tempat yang sama.
“Lumayan, hihihi.” Menggigil.
“Pulang langsung basuh kepala pake air hangat ya? Minum air jahe juga.” Ucapnya sembari mengelus kepalaku.
Entah kenapa, bibir dan gigiku terus saja bergetar tanpa kendali. Padahalkan perut sudah terisi? Sepanjang perjalanan hanya diam tanpa berkata, rasanya susah untuk berbicara. Tidak enak juga jika ketahuan kalau aku tengah menggigil kedinginan.
“Sudah sampai.” Ucapnya, ia mengantarku ditempat yang sama di pemberhentian bus.
“Dys, Dysa langsung pulang ya Mas.” Bibirku terus saja bergetar.
“Kamu kedinginan?”
“Tidak,”
“Kok bibirku membiru begitu?” Langsung aku merapatkan bibirku.
“Ayo, masa antar masuk ke rumahmu.” Dia menggeledah isi mobilnya mencari sesuatu, tidak tahu apa itu.
“Ca… ca.. cari apa?”
“Jas hujan.”
“Oh ini dia. Pakai lah.” Lampitan kecil berwarna biru muda. Padahal hanya tersisa gerimis saja.
“Dysa pulang sendiri saja, Mas.”
“Ada Papaku, mas tidak usah turun ya?”
“Kalau Mas pergi gitu aja, bukankah itu namanya pria tidak bertanggung jawab?” Ujarnya.
Aku semakin menggigil, antara dingin dan takut bila mama melihat aku pulang diantar ‘seseorang’ pasti akan jadi tambah panjang urusannya. Ketakutanku terjadi, Mama ternyata ada juga di sana. Memakai payung yag berbeda, Mama dan Papa menghampiriku yang tengah digandeng oleh Mas Dika.
“Dysa? Kemana saja kamu?”
“Ini siapa? Pacarnya Dysa?” Langsung saja mama menyimpulkan walaupun ya benar.
“Bukan, Ma.” Kebohonganku yang pertama untuk hari ini.
“Ayo, ayo cepat masuk.” Sampai di depan pintu rumahku.
“Masuk dulu, nak. Biar tante buatkan minuman hangat.” Ya kan jadi panjang masalahnya. Mama pasti akan melontarkan banyak pertanyaan pada mas Dika.
“Tidak, ma. Mas Dika banyak pekerjaan, dia tidak bisa berlama-lama. Tadi cuma mau nganterin Dysa aja.” Aku mengerlingkan mata pada Mas Dika supaya dia berpendapat sama denganku.
“Tante…”
“Hus, jangan dengarkan Dysa. Memangnya pekerjaan apa yang dilakukan saat hujan deras begini? Bukankah lebih baik dihabiskan di rumah dan menghangatkan diri bersama keluarga? Yuk, nak. Masuk.” Oke, ini pertama kalinya Mas Dika bertamu ke rumahku.
Mampus aku….
“Dysa, cepat keringkan badanmu dulu. Basuh pakai air hangat, habis itu minum vitaminnya.”
“Iya, ma.”
...***...
__ADS_1
Di bawah, mama papa terlihat asyik dengan berbincangan mereka. Walau mas Dika terlihat biasa saja, tapi berbeda dengan mama yang terlihat bahagia. Sorot kebahagiaan yang mama pancarkan sungguh kontras, mungkin mama seperti itu karena tidak menyangka jika aku ternyata memiliki teman setampan dia.
“Ma, Pa.”
“Hei, ini diminum dulu susu jahenya.” Ujar Mama. Susu jahe dengan campuran kapulaga dan bubuk kayu manis, minuman andalan buatan mama sarana menghangatkan badan.
Hening….
“Tante, om, kalau begitu Dika pamit dulu.” Ucap Mas Dika setelah menyesap susu jahe miliknya.
“Oh, nanti saja. Masih gerimis, Nak.” Sergah mama.
“Hem, hehehe. Mama saya pasti sedang menunggu, sudah sore juga tante.” Mas Dika sudah menegapkan badannya, mengemas kemeja yang mulai kusut yang melekat di tubuhnya.
“Yah, sayang sekali mampirnya cuma sebentar ya? Tante makasih banget ya, Dysa sudah diantarkan pulang. Maaf merepotkan. Sebentar, Nak. Sebentar.” Mama pergi ke dalam.
“Hati-hati di jalan ya? Jangan ngebut, langsung pulang dan istirahat mas Dika.” Tutur papa dengan menepuk bahu mas Dika.
“Iya, om.”
“Ini, nak. Oleh-oleh buat keluarga ya. Salamkan untuk orangtua kamu ya?” Mama menyerahkan bingkisan besar.
“Maaf Tante, apa ini? Tidak perlu repot-repot.”
“Hus.. Ini beberapa kue saja, jangan sungkan ya Nak. Tante sedih jika kau menolaknya.” Bujuk Mama. Mas Dika menatapku, tanpa suara aku mengucapkan terima kasih dan di balas senyum olehnya.
“Terima kasih, Tante, Om. Mari…” Sungguh santun sikapnya.
“Iya, hati-hati Nak.”
Aku dan mama mengantarkannya sampai di depan rumah hingga mobilnya tidak terlihat dan meninggalkan jalan depan rumahku.
“Huft.. Menyenangkan hati ya, Dys? Sudah tampan, sopan, berpendidikan pula. Tapi sayang…” Mama menggeleng pelan.
“Sayang kenapa, Ma?”
“Dia sudah punya tunangan.”
Jeder!
Apa?
Tunangan?
Siapa?
Dengan siapa?
“Maksud Mama?” Mama membelokkan kepalanya menghadapku.
“Kamu tidak tahu? Dia sudah bertunangan dua bulan lalu.” Ujar mama.
Apa benar?
Apa maksudnya ini?
Dia yang mengaku sebagai pacarku, tapi kenapa mengatakan pada mama punya tunangan?
Apa ini caranya untuk menghindar dari pertanyaan Mama?
“Kamu cemburu atau nyimpan rasa sama dia?” Tanya mama. Gelagat gusar, aku berusaha menutupinya.
“Hem, nggak kok ma. Kenapa juga harus cemburu, kita nggak ada hubungan.” Bohong yang kedua.
“Oh, ya sudah. Sebab tadi sudah mama katakan juga bahwa kamu juga akan dilamar.”
“Apa?!!!!!”
__ADS_1
“Apa, Ma? Kenapa mama bilang seperti itu? Siapa yang akan melamar Dysa? Tega sekali mama berbicara sepert itu.” Luap sudah amarahku, pantas saja dia mengatakan sudah punya tunangan. Aku tahu kenapa sejak tadi dia hanya diam, sedangkan mama tertawa dan terlihat bahagia.
“Tega? Kenapa kamu bilang mama tega?” Tanpa menjawab, aku menghentakkan kakiku lantas berlalu meninggalkan tempat itu.