Di Antara Sejuta Cinta

Di Antara Sejuta Cinta
Bab 11 ~Sapaan Baru Untuk Dokter Andre


__ADS_3

Malam tiba, sesungguhnya aku sudah sangat letih tapi janji adalah janji. Untung saja hari ini bukan jadwalku jaga, hanya ada pemeriksaan dan itu pun ditunda. Jadi, hari ini semesta bersahabat denganku sehingga aku mempunyai cukup waktu untuk memersiapkan diri demi acara pesta malam nanti.


Pintu kamarku berbunyi, tanda diketuk.


"Mama?" Ucapku kala Mama membuka pintu kamarku.


"Dysa, cantik sekali anak Mama! Mau kemana?" Tanya mama.


Mama memang tidak tahu acaraku hari ini, sengaja tidak memberi tahu mama. Untuk apa?


"Di depan ada seorang pria mencarimu." Ucap Mama.


"Hah? Siapa Ma?" Aku berujar kaget.


Apa dokter Andre sudah datang? Ini 'kan baru jam tujuh petang.


"Katanya sih pacar kamu, benar begitu?" Ucap Mama.


"Hah?? Siapa?" Aku mendelik, segera aku menyimpan pouch make up ku.


"Apa Mas Dika?! Mas Dika nekad datang kemari? Wah gawat!" Batinku gelisah.


Aduh, Mas. Aku belum siap...


"Namanya Andre." Ungkap Mamaku.


"Oh dokter Andre? Hahaha."Lega, sudah jadi kebiasaannya untuk melawak.


"Dia pacarmu?" Tanya Mama.


"Hahaha... Bukan, tapi dia yang mengajakku untuk menemaninya ke pesta. Pesta pernikahan saudaranya." Ujarku lengkap.


"Ohh, tampan loh Dys. Apa kau yakin, kalian bukan sepasang kekasih?"


"Yakin, Ma. Dia hanya rekan kerja Dysa di rumah sakit, jangan buat Dysa malu Ma. Mama jangan serba promosikan Dysa dong, nanti semua orang berpikiran kalau Dysa emang nggak laku, lagi." Ucapku kesal, pasalnya setiap kali datang tamu pria entah itu tetangga atau teman yang ada keperluan denganku, mama selalu menyambut mereka dengan berbahagia. Seakan salah satu dari mereka adalah calon menantunya.


Duh, Mama~


"Tampan lho, Dys." Ucap Mama lagi.


"Lah, kalau iya Dysa sama pria lain. Terus Edwin mau mama apakan?" Yap, aku punya senjata.


"Ya kan belum kamu terima lamarannya, jadi itu perkara mudah." Ujar Mama dengan santainya.


"Bener ya? Kalau gitu, Mama kasih tahu Edwin sekarang juga, gimana?" Aku menantang Mama.


"Ya nggak bisa sekarang juga dong, ada prosedurnya." Elak Mama.


"Tuh kan, jadi susah sendiri. Lain kali Dysa kabur aja deh kalau rumit gini." Cuapku.

__ADS_1


Aku cukupkan untuk berdandan, saatnya keluar dan menemui seseorang yang mengaku-aku sebagai pacarku.


"Dokter Andre? Maaf, lama menungguku ya?" Aku berucap saat sudah berada di sampingnya.


Dokter Andre yang sedang duduk langsung terperanjak,


"Wah, my pretty angel!" Pujinya.


"Cantik 'kan anak tante?" Mama memasang mode promo.


"Ma..." hem, Mama nih selalu saja. Hatiku bergumam.


"Emang iya kok, kamu aja yang nggak percaya diri. Iyakan dokter Andre?"


"Hahaha, benar tante. Kalau begitu saya izin membawa anak tante yang cantik ini untuk menemaniku ke pesta ya?" Ujar dokter Andre.


"Iya, tapi tolong dijaga ya." Pinta mama.


Kami berlalu, sebenarnya aku merasa tidak nyaman bila datang ke pesta. Selama ini hal yang paling aku hindari adalah gemerlap meriah pesta, memang dasar aku yang tidak suka dengan keramaian.


Di dalam mobil dokter Andre, aku terus saja becermin karena sedikit risih dengan model rambutku yang hanya dijepit asal dan terkesan berantakan dengan semprotan hairspray supaya kaku dan tidak berubah bentuk.


"Dok, apa aku sudah terlihat cantik?" Aku meminta pendapat orang di sebelahku ini.


"Hem, tidak cantik sih." Jawabnya.


What? Baru kali ini ada orang yang mengatakan bahwa aku tidak cantik walaupun itu memang benar adanya, tapi ternyata sakit rasanya. Huhuhu:(


"Baiklah, memang benar begitu adanya." Ucapku, entah aku yang terlihat sedih karena dikatakan tidak cantik atau sedih karena membuat dokter Andre kecewa dengan penampilanku.


"Karena cantik tidak menggambarkan dirimu yang sesungguhnya, kau ini lebih pantas mendapat sebutan lebih dari itu." Ujar pria di sebelahku. Bahkan aku tidak bisa mencerna perkataan yang keluar dari mulutnya.


"Maksudnya?" Tanyaku.


"Haha, kau lebih pantas disebut angel yang memesona, menawan, dan memukau." Ucapnya.


"Hah? Apa kau bilang, dokter? Kau menggodaku ya?! Tadi mengatakan kalau aku tidak cantik." Sergahku.


"Terus, kenapa tadi cemberut saat aku mengatakan kau tidak cantik?" Tanya dokter Andre dengan tawanya.


"Ya, aku sedih jika membuatmu kecewa atau menyesal telah mengajakku pergi." Ucap bibir ini.


"Hahaha, tidak akan seperti itu."-dokter Andre.


"Oh ya, jangan panggil aku dokter Andre kalau kita tidak di rumah sakit." Lanjut pria itu.


"Kenapa memangnya?"


"Ya karena kau selalu saja memanggilku dengan embel-embel dokter. Semua orang juga sudah tahu kalau aku itu seorang dokter, tidak perlu diperjelas lagi." Ucap dokter Andre.

__ADS_1


"Oke, jadi aku bisa memanggilmu apa? Mas Andre, bang Andre, atau Mang Andre?"


"Hem, Andre saja." Jawabnya.


"Iuhhh, bahkan usiamu jauh diatasku. Bang Andre saja supaya terkesan lebih akrab. Okey?" Tawarku,


"Its okey." Dia mengangguk setuju.


"Jika begitu, kau juga harus memanggilku dengan 'Dysa' saja." Ucapku.


"Oke, Dysa." Ucapnya langsung.


"Dok, sebenarnya aku tidak terlalu menyukai pesta. Jika boleh, nanti jangan terlalu lama ya?" Lanjutku


"Kenapa?"


"Ya karena aku tidak suka keramaian. Bagiku semakin ramai semakin membosankan." Dipenuhi paradoks ya memang diriku ini.


"Oke, baiklah. Apa kau pernah minum?" Tanya bang Andre.


"Hem, maksudnya minum alkohol dan sejenisnya? Kalau minum itu aku tidak pernah dan tidak akan pernah." Jawabku mantap.


"Apa bang Andre seorang pemabuk?" Tanyaku padanya.


"Hahaha, pemabuk? Bukan, tapi pernah meminumnya. Sedikit." Jawab bang Andre.


"Sedikit atau banyak sama saja tidak boleh, itu 'kan membawa dampak buruk bagi tubuh."Tuturku.


"Iya, tidak lagi. Hanya sekali dan aku tidak akan mengulangi." Cuapnya.


"Nah, gitu dong. Kan lumayan, ada yang bisa dibanggakan dari dirimu." Ucapku.


"Hah??? Maksudmu?" Bang Andre menatapku jeli.


"Ya, biarpun abang nggak tampan setidaknya beriman. Hahaha, peace bang. Peace!"


"Dasar kamu!" Ucapnya dengan menoyor pelan kepalaku.


Tidak lama kemudian mobil terparkir di sebuah halaman gedung.


"Sudah sampai?" Aku bertanya.


"Sudah, yuk turun." Ajak bang Andre seraya menarik rem tangannya.


Saat beberapa langkah menuju pintu masuk aku mencekal terlebih dahulu tangannya, hendak bertanya.


"Apa?" Bang Andre sudah menoleh.


"Bang, di dalam sana aku berperan jadi apa? Pacarmu atau selingkuhanmu?" Tanyaku dengan kekehan.

__ADS_1


"Asemm, kau berperan jadi istriku!" Jawab bang Andre.


"Ahhh, tidak!!"


__ADS_2