
Waktu terus berputar hingga jam menunjukkan pukul 2 pagi. Dimana seluruh penghuni bumi tengah mengistirahatkan tubuh mereka masing-masing. Berbeda dengan seorang pria tua dengan tongkat satu menemani langkahnya menuruni mobil.
Ia begitu terkejut kala tangan tua nan keriput hendak meneruskan langkah menuju kamar. "Dari mana selarut ini baru pulang? Papah tidak berniat untuk membawa daun muda ke rumah ini kan?" cerca Aileen yang rupanya sangat gelisah mengetahu sang ayah tak ada di rumah malam itu.
"Aileen...kau ingin membuat Papah mu ini mati mendadak yah? Tidak bisakah bertanya dengan sopan? astaga." Leonardo menggelengkan kepala dan kembali ingin melanjutkan langkahnya.
"Papah!" Aileen mendelik dan sukses membuat tubuh pria tua itu menghentikan langkah dan berbalik menghadap sang anak.
"Papah justru harus menghapus perbuatan yang sudah kau lakukan. Sepagi ini Papah baru pulang hanya karena kejahatanmu pada gadis itu. Entah terbuat dari apa darahmu itu? Bahkan istriku dulu tidak pernah sekurang ajar dirimu sampai berani mencelakai orang." tekan Leonardo menatap sengit sang anak yang terdiam seketika.
Aileen semakin kesal lantaran bingung siapa yang memberi tahu aksinya pada Adina kemarin. Apakah sang suami ataukah gadis tengil itu sendiri.
Memikirkan gadis tengil yang sebenarnya sangat cantik menurutnya seketika senyuman remeh Aileen terbit. "CIh...ternyata selain perusak keluarga orang, si tengil itu juga pengadu pada Papah yah? Jauh dari standar menantuku. Dan Papah tidak berhak untuk memaksa anakku menerima tengil itu." tegas Aileen penuh amarah.
__ADS_1
"Tanpa kau suruh putramu itu menerima si Dina, saat ini hatinya pasti yang sudah memohon gadis pilihan ku untuk menerimanya. Jadi, apa kau akan tega menyiksa putramu jauh darinya?" Dengan penuh percaya diri Leonardo pergi meninggalkan sang anak yang terbengong tak percaya.
Syok. Tentu saja Aileen syok, apa yang baru saja di katakan sang ayah rasanya seperti hal yang mustahil mengingat bagaimana sikap dingin dan cueknya Kalyan saat pertemuan pertama di rumah itu.
"Beraninya gadis itu! Apa yang sudah dia berikan pada anakku jika benar yang Papah katakan? Tidak. Aku tidak percaya dengan pelet. Pasti dia sudah menyerahkan tubuhnya saat malam itu." Bayangan buruk pun memenuhi kepala seorang ibu yang sangat cemas saat ini.
Di sini, sang ibunda mencemaskan masa depan sang anak. Berbeda halnya dengan sosok Kalyan yang jauh lebih cemas kala sampai sepagi ini ia tak mendapat kabar dari Adina. Kedua netranya bahkan memerah menahan kantuk yang sama sekali tak bisa ia tidurkan. Tubuh sangat lelah, namun pikiran tak bisa tenang sebelum mendapat kabar dari sang gadis yang menghilang tanpa jejak.
"Adina...Adina. Kau benar-benar gadis aneh. Seharian aku hampir gila." Tanpa henti tangannya beberapa kali mencoba menghubungi nomor sang gadis yang berapa kali pula tak mendapatkan jawaban.
Matanya berbinar melihat layar ponsel yang menunjukkan jika panggilannya telah tersambung. Dengan tangan bergetar dan senyuman begitu lebar Kalyan justru menekan gambar panggilan berwarna merah.
Sontak panggilan pun terputus saat itu juga. "Hah? Astaga...bodohnya aku!" rutuknya memaki diri sendiri karena tanpa sengaja mematikan panggilan tersebut.
__ADS_1
Di seberang sana, Adina yang sudah merasa lelah pun memilih meletakkan ponsel miliknya dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tanpa ia dengar jika benda pipih persegi panjang itu terus berdering kembali.
"Adina...ayolah angkat. Ini benar-benar keterlaluan. Puluhan kali aku menghubungi, hanya sekali aku salah pencet mengapa sudah tidak di angkat lagi. Jangan sampai aku habis kesabaran Adina." makinya terus menelepon kembali.
Keesokan harinya, cerahnya mentari pagi kembali menyapa wajah tampan yang tiba-tiba mengerjap merasakan silau. Tubuh yang tertidur di sofa menghadap jendela membuatnya tak leluasa untuk meregangkan otot tubuhnya.
"Ah...tubuhku sakit semua." ujarnya sembari mengusap mata.
"Morning..." suara lembut nan halus tentu saja mengejutkan sosok Kalyan saat itu juga. Mata pria itu membulat sempurna.
Ia terjingkat kaget dari sofa dan berdiri sikap tegap. Berusaha mempertahankan sikap cool yang selalu ia tunjukkan di depan semua orang.
__ADS_1
"Apakah ini mimpi atau nyata?" batinnya menatap dalam wanita cantik yang sangat segar di depannya pagi itu dengan warna lipstik merah muda.