
"Aku rindu..." suara lembut gadis itu menyapa indera pendengarannya. Sapuan lembut menyapa pipi kiri sosok Kalyan.
Merasakan hal itu, sontak saja Kalyan tersadar dan menggenggam tangan sang gadis. "Dina...maafkan aku. Maafkan keluargaku." tuturnya penuh permohonan.
Namun, detik berikutnya. Sifat lembut itu berubah bahkan sebelum Adina mengatakan apa pun padanya. "Em...ada apa? kau mengagetkan ku saja?" bertanya dengan wajah begitu angkuh seperti biasanya. Kalyan yang awalnya lepas kendali karena begitu bahagia melihat sang pujaan hati akhirnya kembali datang padanya merasa jika kemarin ia hanya terlalu cemas.
"Aku sudah katakan aku hanya rindu. Bersiaplah, aku sudah menyiapkan sarapan untukmu. Kita sarapan bersama." Adina melepas tangannya yang bertengger di pipi sang pria kemudian berjalan menuju meja makan untuk menuang segelas susu hangat pada dua gelas yang tersedia.
Melihat itu, Kalyan tersenyum dalam hati. Paginya seperti bertaburan bunga-bunga yang bermekaran karena terlalu begitu bahagianya.
Ia melangkah menuju kamar mandi, membersihkan diri berganti pakaian kerja lengkap dengan jas dan langsung menuju meja makan.
Dua orang tampak duduk saling berhadapan menikmati bubur hangat yang baru saja Adina masak sebelum membangunkan sosok pria tergengsi itu. Sangking gengsinya ia bahkan menaruh wajah acuh meski tak sejalan dengan hatinya yang begitu lega mendapati Adina kembali datang padanya. Yang ia pikir sudah tak akan datang padanya lagi.
"Sabar Adina...kau akan berusaha selagi yang kau usahakan tidak merasa terganggu." batin gadis itu sembari menatap Kalyan yang tampak sangat menikmati sarapannya.
Hening. Keduanya makan dengan diam. Seperti banyak yang terjadi. Rindu hanya terasa jika saling berjauhan, namun jika bertemu justru rasa enggan yang lebih mendominasi.
"Bukankah semalam kau menelepon ku? Maaf aku tidak melihat ponselku lagi setelah mandi." terang Adina berusaha mencairkan suasana.
"Aku senang akhirnya kau menghubungi ku berkali-kali. Apa seharusnya memang aku menghilang saja agar kau menghubungiku?" Mendengar penuturan Adina mampu merubah raut wajah tenang Kalyan.
Matanya membola mendengar hal itu. Sekali lagi, secepat kilat Kalyan menenangkan raut wajahnya. "Aku salah pencet. Jangan geer." ucapnya dingin dan menenggak susu yang sudah tersedia di depannya.
Setelah mengatakan itu ia pun sadar akan rasa takut jika apa yang ia ucapkan justru akan menjadi boomerang baginya nanti.
"Aku harus segera ke kantor." tuturnya menghindari kontak wajah dengan Adina yang sedari tadi terus memandang wajahnya dengan senyuman menggemaskan.
__ADS_1
"Kalyan Fin, mengapa bibir mu ini sulit sekali di kontrol. Bagaimana jika dia akan hilang lagi. Apa kau benar sanggup? Ah tidak. Aku rasa aku akan biasa saja. Kemarin pasti hanya karena perasaan ku yang merasa bersalah atas sikap Mommy." elaknya dalam hati.
"Kal, boleh aku membantu merapikan dasimu? aku ingin membantumu bersiap setiap pagi dan sepulang kerja. Ijinkan aku..." Keduanya saling berhadapan di sisi meja makan. Tanpa ada respon dari Kalyan, gadis itu segera melakukan apa yang ingin ia lakukan.
Aroma wangi segar dan wajah tampan benar-benar sangat meneduhkan hati Adina yang semalaman sempat memanas sejak kemarin karena perseteruan dengan sang ibunda.
Setelah usai melaksanakan pekerjaannya. Adina segera meraih tas dan bergegas pergi terlebih dahulu tanpa menunggu Kalyan berucap apa pun padanya. Entah mengapa, Kalyan yang menahan gugup setengah mati justru hanya memandangi kepergian gadis itu hingga benar-benar menjauh dan tak terlihat lagi.
"Setiap pagi dan sepulang kerja?" tuturnya tersenyum begitu lebar mengingat kata terakhir dari gadis sang pujaan. Itu jelas memberitahunya jika tak perlu khawatir lagi akan kehilangan sosok Adina. Karena mereka akan bertemu dalam sehari sebanyak dua kali.
***
Di kantor, tampak pria tua tengah menyambangi ruangan yang dulu pernah ia tempati. Dan kini jelas sudah menjadi tempat sosok sang calon pewaris yang melanjutkan usahanya.
Tok Tok Tok
Suara ketukan terdengar begitu jelas.
"Masuk." tuturnya.
Pintu terbuka lebar dan memperlihatkan sosok pria tua dengan tiga kaki melangkah masuk.
"Grandpa..." sapa Kalyan segera mendekat pada sang kakek.
Kalyan menggerakkan kepala memberi isyarat pada sang sekertaris untuk segera keluar dan menutup pintu rapat.
Tanpa basa basi, Leonardo bicara tegas pada Kalyan.
__ADS_1
"Kalyan Fin...kau cucuku seorang pria. Dia gadis yang baik, tegaslah pada ibumu. Keputusanmu saat ini menentukan masa depanmu. Segera nikahi dia atau kau tidak mendapatkan kesempatan berbahagia yang sesungguhnya di kemudian hari!" Penuturan sang kakek membuat Kalyan tergagap.
Menikah? bukankah itu hal yang sangat terlalu cepat saat ini di putuskan? Sungguh Kalyan kaget mendengarnya. Ia berpikir jika sang kakek akan memberinya waktu sedikit lama untuk mengenal gadis cantik misterius itu.
"Grandpa, ibu dan calon istriku kelak adalah dua wanita yang sama-sama berharga untukku. Aku tidak ingin memilih salah satu di antara mereka kelak jika terjadi perselisihan lagi. Lagi pula aku bahkan belum mengenal lebih dalam gadis itu." terangnya dengan alasan yang sangat bijak.
Leo menghela napasnya kasar. "Kakek, aku mohon biarkan aku berusaha mendapatkan cinta cucu kakek. Jangan berikan iming-iming dengan saham yang Kakek janjikan itu. Adina tidak ingin kelak suami Adina hanya mengincar saham hingga rela menikah dengan Adina. Saham itu akan sangat berguna untuk calon penerus kedepannya dan tentu dengan jalan yang benar. Dari awal kita sudah sepakat untuk saham itu, Kakek." Leonardo mengingat kembali perjanjiannya dengan sosok gadis cantik yang saat ini menjadi bayang-bayang sang cucu.
Perbincangan serius antara dua orang berbeda generasi itu terpaksa harus terputus saat kembali suara di pintu terdengar riuh.
"Saya ini Nyonya pemilik perusahaan di sini. Bagaimana saya tidak boleh masuk ke ruangan anak saya sendiri? Hah?" teriakan dan serentak terdengar suara tamparan terdengar jelas di ruangan itu.
Sontak Kalyan dan Leo sama-sama berdiri dan berjalan membuka pintu.
"Mommy!" Kalyan kaget meliat sikap agresif sang mommy yang berani menyakiti salah satu karyawan terbaik di perusahaannya.
Meski tak melihat, Kalyan bisa tahu sebab sang sekertaris memegangi pipi kanannya yang merah. Leonardo yang melihat pun tertawa sinis.
"Ini wanita yang akan kau pilih kedepannya, Kalyan Fin? Grandpa yang tua seperti ini saja masih bisa berpikir. Masa depanmu akan hancur lebur jika menyerahkan semua pada Mommymy ini." tuturnya menggelengkan kepala, terkekeh sembari melangkah pergi meninggalkan kekacauan itu.
"Entah kutukan apa yang ku dapatkan hingga mendapat anak seperti itu?" rutuknya sepanjang jalan keluar dari kantor miliknya yang sudah tak lagi ia tempati karena pria tua itu sudah lama pensiun sejak ada ayah dari Kalyan dan juga Aileen serta Deon sebagai anak kedua dari Leonardo dan sang istri yang telah tiada.
Dan saat ini perusahaan itu telah di pimpin oleh Kalyan, meski seutuhnya masih milik pria tua itu. Ia hanya berhenti ke kantor tidak untuk berhenti mengelola dari kejauhan.
***
Di sisi yang berbeda,
__ADS_1
"Sayang, dengar kata dokter? Keadaanmu sangat lemah. Ini tidak baik untuk kau berpikir terlalu keras. Biarkan semuanya membaik dan selesai." tutur seorang pria dengan mengusap lembut wajah wanita yang sangat pucat itu.
"Tidak, Ayah. Biarkan semuanya berjalan semestinya. Ini memang seharusnya yang ku lalui. Sama sepertinya yang melalui banyak hal dengan tidak mudah." suara lemah dan air mata yang jatuh begitu memilukan.