Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Spot Jantung


__ADS_3

Dinginnya malam serta derasnya hujan yang mengguyur kota besar tersebut menambah kesan romantis pada dua makhluk bumi yang saling mencuri-curi kehangatan. Mungkin di situasi yang berbeda, kebanyakan wanita akan menolak jika sampai tahu tubuhnya telah dalam dekapan pria. Namun, kali ini kasusnya berbeda.


Tangan besar berbulu tampak bergerak mengeratkan pelukannya saat terasa begitu sangat nyaman. "Maafkan aku," lirihnya sembari memejamkan mata.


Suara pelan tersebut jelas terdengar pada gadis yang tersenyum malu-malu di depannya kini. "Aku sudah memaafkan mu, calon suamiku." ungkapnya dalam hati dan ikut memejamkan mata.


Sedangkan di tempat yang berbeda, sepasang suami istri serta satu wanita tampak mencemaskan kepulangan gadis mereka.


"Bun, ayo kita istirahat. Ini sudah sangat larut. Gadis kita pasti baik-baik saja, setelah ini Ayah yang akan keluar mencarinya." Candra untuk kesekian kalinya membujuk sang istri yang mondar mandir di depan pintu rumah mereka.


Jam bahkan sudah menunjukkan pukul setengah satu malam. Namun, ketiga orang itu masih belum mendapat kabar sama sekali dari gadis yang kini tengah merasakan untuk pertama kalinya hangatnya pelukan dari pria tampan pujaan hatinya.


"Iya, benar kata Candra. Pergilah istirahat, Maya." sahut Selvi lemah lembut.


Mereka begitu sangat mengkhawatirkan keadaan Adina, namun jauh lebih khawatir pada keadaan wanita yang tengah berusaha berjuang melawan penyakitnya kini.


"Bagaimana kalau terjadi apa-apa dengannya, Ayah. Bunda orang yang paling bersalah atas ini. Bahkan Adina tidak tahu kebenarannya sampai begitu membenci Bunda. Bagaimana kalau gadis itu pergi demi menjauhi Bunda?" Suara lemah Maya kini meninggi kala menyesali semua yang terjadi padanya.


"Tidak. Kamu salah. Adina bukan gadis yang labil seperti itu, May. Anakmu tumbuh jadi gadis yang begitu bijak. Dia begitu cerdas, tidak akan pernah salah mengambil keputusan. Percayalah." bujuk sang kakak yang melangkah mendekat padanya dan memegang pundaknya lalu menuntun penuh bujuk menuju kamar utama di mansion megah tersebut.


Malam pun kini terlewatkan dengan cepat hingga mentari yang baru saja berganti bulan, kembali menyapa pagi itu. Embun serta sisa air hujan tampak jelas membasahi jalanan dan bangunan-bangunan tinggi. Tentu saja suasana yang dingin masih jelas di rasakan pada tubuh manusia.

__ADS_1


Di salah satu kamar yang baru terisi penghuni, kini tampak sepasang mata hitam indah begitu terbuka lebar. Ia hampir lupa dengan apa yang ia sepakati dengan dirinya sendiri semalam.


Tubuhnya hampir berjingkat kaget kala melihat tangan melingkar menindih tubuhnya, "Astaga..." batinnya berteriak kaget.


"Apa yang harus ku lakukan yah? ayolah Adina kau harus tahu permainan yang cerdas." ia berpikir keras sembari berpura-pura menggeser tubuhnya semakin dalam pada dekapan pria itu.


Sepersekian detik, wajah polos itu tersenyum geli. "Aaaaaaa!!!" Suara teriakan sukses memekik indera pendengaran Kalyan.


Pria yang sebelumnya begitu lelap menikmati indahnya mimpi pun terbangun lantas mendudukkan dirinya. Matanya merah karena masih sangat mengantuk.


"Apa yang kau lakukan? Tubuhku?" suara cempreng Adina begitu riuh sembari tangannya memeriksa setiap sisi tubuhnya dan mengangkat sebagian kaos yang menutupi perut langsingnya.


"Dasar mesum. Apa yang sudah kau sentuh? Katakan, Kal?" serbunya dengan pertanyaan tanpa memberi waktu untuk Kalyan menjawab satu pun.


Namun ia tak sadar jika Adina sampai saat ini masih tetap dalam pelukannya tak berniat pergi menjauh sedikit pun. Rasa nyaman ternyata tak membuat wanita itu sadar jika tindakan dan tubuhnya saling bertolak belakang. Tindakan yang sudah ia tata sewaras mungkin justru tidak membuat tubuhnya menyingkir dari pelukan sang pujaan. Begitu hangat dan nyaman tentu.


"Lagi pula aku tidak tahu jika kau ternyata tidak pulang. Sudahlah aku ingin segera bersiap ke kantor." Kalyan dengan wajah setenang mungkin beranjak dari tempat tidur lalu menghentikan langkahnya saat berada di ambang pintu kamar.


Ia menoleh sesaat, "Pulanglah, pasti orangtuamu panik mencarimu. Berhenti bermain-main keluyuran tidak jelas. Jika butuh pekerjaan, datanglah ke perusahaan. Grandpa mengenalmu bukan? pasti dia akan membantu mu."


Tercengang bukan main Adina kala mendengar kata keluyuran tidak jelas. "What? Apa seberandal itu aku di matanya? Baiklah akan ku tunjukkan brandal yang sebenarnya padamu, Kalyan Fin Osmon." bantah Adina dalam hati.

__ADS_1


Wajah kesal gadis itu tak membuatnya lupa akan kewajiban yang sudah ia sepakati sendiri untuk melayani sang pujaan pagi hari.


"Aku tunjukkan yang lebih gila lagi, Kal." senyuman smirk tampak di wajah cantik nan manis milik gadis itu.


Ia turunkan kedua kakinya yang tengah memakai sandal rumah, menuju kamar sebelah. Pintu tertutup ia buka dengan tanpa dosanya.


"Dina," begitu terkejutnya Kalyan melihat kehadiran Adina yang masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dulu.


Di tatapnya sekilas lalu menggelengkan kepala tak habis pikir. Entah sumpah serapah apa yang Kalyan ucapkan kala itu, yang jelas ia terus menggeleng pusing melihat tingkah Adina yang sangat bar-bar menurutnya.


Kalyan melangkah menuju kamar mandi dan meletakkan jubah mandinya lalu merendam tubuh setelah memastikan suhu air sudah pas untuknya.


Lagi-lagi pria itu hanya menutup pintu. Ia memejamkan mata sejenak sembari menghirup aroma sabun yang menyentuh kulit putihnya.


Kedua kalinya, pria itu terkejut bukan main melihat pintu terbuka lebar. "Dina!" teriaknya dengan suara berat hingga banyak air yang tumpah dari bthup yang ia gunakan.


Sepasang mata milik cucu Leonardo membulat mendapati dua kaki jenjang putih melangkah dengan ringan menuju shower yang dimana ada skat kaca transparan.


"Aku numpang mandi, di sebelah tidak ada sabunnya dan sampo." tutur Adina santai tersenyum dan menarik gorden yang menjadi penutup dinding kaca tersebut.


Ia tak peduli dengan raut wajah Kalyan yang begitu memerah gugup melihat penampilan seksi untuk kedua kalinya.

__ADS_1


"Jantungku..." ucapnya lirih sembari meraba dada yang tak terlapisi sehelai kain pun.


__ADS_2