
Gelombang lautan yang tampak saling berkejaran, membuat salah seorang terkekeh puas seketika.
“Argh!!” Terdengar suara teriakan pria di atas air usai menyugar rambutnya ke belakang.
“Hahaha rasakan itu, Kal.” Adina pun berteriak kala melihat Kalyan yang terengah-engah berusaha mengatur napasnya.
Mata pria tersebut memerah menatap nyalang gadis yang tak jauh darinya.
“Dasar! Beraninya di menarik kakiku di dalam air. Mau rupanya ku tarik juga kakinya.”
Tawa puas di wajah Adina seketika berubah menjadi wajah penuh waspada melihat pria yang baru saja ia tenggelamkan di dalam air laut terus melangkah ke arahnya.
Sontak karena takut, ia pun berlari masuk ke dalam rumah dengan busana basah seluruhnya. Sesampai di rumah, Adina mengunci pintu kamar tersebut.
“Adina, buka pintunya.” Teriak Kalyan tanpa mengetuk pintu kamar.
“Tidak. Kau itu lancang. Aku tidak mau buka pintu sampai kita pulang.” sahut Adina berteriak membalas Kalyan.
__ADS_1
Sementara di luar kamar, Kalyan berjalan melangkah menuju area belakang rumah sederhana itu.
Mata hitam legam miliknya menatap tangga yang begitu tinggi menjulang ke atas. Kedua tangan kekar miliknya segera menggenggam sisi kanan dan kiri tangga lalu menapaki satu persatu anak tangga.
Lama tak berolah raga rupanya membuat keringat yang semula tertutup dengar air segar dari laut perlahan keluar.
Beberapa saat, ia tiba di atas menara. Terdengar banyaknya notifikasi di ponsel miliknya. Namun, ada yang lebih penting saat ini dari urusan bisnis.
“Datang sekarang.” ucap Kalyan kala sambungan telepon tersabung.
“Baik, Tuan.” sahut di seberang sana dan sambungan segera terputus.
Mata tajamnya terus mencari-cari di berbagai sudut yang bisa tertangkap oleh matanya.
“Dimana si Kalyan ini? Kok kakinya tidak ada kelihatan yah? Tidak mungkin kan dia ninggalin perempuan secantik aku? Aduh mana badanku kedinginan lagi.” Tampak wajah Adina yang segar kini berubah mulai pucat dan bibir yang membiru karena dinginnya tubuh.
Kepalanya menoleh ke arah tempat tidur. “Apa ganti dengan selimut itu saja yah? Huh kenapa bisa aku setolol itu sih? Semua bajuku basah gara-gara ngerjai dia saja.” rutuknya kesal mengingat tak ada pakaian apa pun di sana kecuali selimut tebal dan sprei.
__ADS_1
Dengan terpaksa, ia melepas satu persatu pakaian basah di tubuhnya.
Jemari lentik itu bergerak lincah menarik satu sarung bantal, satu seprey kasur. Ia mulai menyimpul dari bagian dada tanpa kain lain menutup pada pundak.
Lebih tepatnya berbentuk bikini di akhir kerja keras wanita itu.
Beberapa saat semua telah usai. Senyuman puas terlihat di wajah Adina.
“Sempurna, Adina. Kau memang cantik.” pujinya pada diri sendiri.
Gerakannya memutar di depan cermin terhenti saat mendengar suara baling-baling helikopter dari kejauhan.
“Itu… iya benar itu suara helikopter. Apa jangan-jangan Kalyan mau pergi meninggalkan aku sendirian. Tidak. Aku harus masuk lebih dulu.” Seketika Adina berlari usai membuka pintu kamar tempat persembunyiannya.
Ia tak sadar jika dari atas ada sepasang mata yang hampir hilang kendali.
“Astagfirullah…” Beberapa kali pria itu beristighfar saat melihat penampakan paling indah yang terguncang di balik balutan kain putih.
__ADS_1
Di sini, Kalyan mengerutkan keningnya kala melihat heli sempat beberapa kalo oleng.
“Ada apa dengan heli itu? Heh…” Menggelengkan kepala dan detik berikutnya matanya menangkap tubuh yang membuat matanya membulat ingin melompat.