Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Kemarahan Leonardo


__ADS_3

Melihat banyaknya para karyawan yang berkerumun, amarah pria itu semakin memuncak. "Bubar! Saya tidak pernah memperkerjakan orang yang tidak punya etika."


"Kakek," Adina berlari menghampiri Leo yang tengah berusaha menahan napasnya yang memburu kini jauh lebih tenang mendapat perhatian dari Adina.


Sontak semua berlari tunggang langgang meninggalkan beberapa orang yang berdiri tegang menatap satu wanita dengan bulir air mata di kedua pipinya.


"Dan kau..." tangan keriput Leo menunjuk wanita yang asing bagi Adina.


Kalyan pun terdiam menunggu reaksi sang kakek. Pasalnya ia juga bingung apa yang terjadi sebenarnya. "Pergi atau aku akan menghabisi mu." tunjuk Leo pada wanita yang sudah menggandeng satu anak kecil sangat cantik.


"Tuan, saya ingin meminta pertanggung jawaban dari dia, cucu anda." tutur wanita yang bernama Elin bersama sang anak di sisinya.


Tentu Leo mencebikkan bibirnya. "Cih, kau mau meminta pertanggung jawaban atas apa? Hah!"


Adina, Kalyan dan juga Clay yang berdiri sangat bingung. Apa yang sedang terjadi, mungkinkah Kalyan benar telah memiliki hubungan dengan wanita itu, begitu pikir Clay menatap sang kakak.


"Ah rasanya mustahil. Memang kapan ada waktu Kakak untuk bersama wanita lain?" batinnya berucap bingung.


"Tunggu maksudmu pertanggung jawaban apa? Dan Elin, bagaimana kau bisa datang dengan pakaian seperti ini? Bukankah aku sudah memberimu pekerjaan di kantor cabang?" Kalyan tampak bingung, terlalu sibuk dengan urusan hati membuat ia tidak tahu jika wanita di depannya yang ia bantu beberapa hari lalu tidak sempat masuk bekerja.

__ADS_1


Elin Sagita tertunduk. Berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk melanjutkan ucapannya yang membuat tanda tanya pada semua orang. "Kalyan, aku meminta pertanggung jawaban atas hubungan kita. Nona, tolong bantu saya." Kini Elin beralih mendekat pada Adina yang posisinya berada tepat di samping sang kakek.


"Elin Sagita!" teriak lantang Leo kembali menggema. Dadanya naik turun, sementara Adina terus mengusap lengan sang kakek lantaran khawatir terjadi apa-apa lagi.


"Kek, tenanglah. Dan kau, selesaikan semua dengan pria yang bersangkutan. Karena aku tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan hubungan kalian." tutur Adina tegas menatap penuh amarah pada Kalyan dan juga Elin.


Mereka berdua tampak saling mengenal nama, tentu ada rasa cemburu yang tiba-tiba di hati Adina mengingat ia baru saja saling mengikat dengan Kalyan. Rasa cinta membuat pikirannya jauh tidak stabil seperti biasanya.


"Dasar wanita! Kau pikir aku tidak tahu jika Aileen sudah membayar mu untuk membuat kacau hubungan cucuku? Pergi dari sini!" Habis sudah kesabaran Leo hingga menggerakkan tongkat ajaib miliknya memukul kaki wanita yang tengah mengaku-ngaku memiliki hubungan dengan sang cucu.


"Pergi! Pergi!" Leo terus melangkah cepat mengikuti arah kaki Elin yang sudah berlari tunggang langgan.


"Ibu, kakiku sakit. Ibu!" rintihan seorang anak kecil perempuan tampak membuat Leo berhenti mengusir kasar wantia bernama Elin Sagita itu.


"Ya sebaiknya aku meminta maaf saja. Toh aku sudah menjalankan perintah ibunya Kalyan." batin Elin berpikir untuk mengaku.


Kalyan dan Adina berlari mendekat pada mereka. "Apa benar itu, Grandpa? Jika Mommy yang membayar dia? Apa hanya segitu cara akting yang Mommy bayar?" Elin yang notabennya wanita baik-baik tentu membuat aktingnya sangat kaku.


Sedangkan Adina yang merasa amarahnya di ubun-ubun seketika menghela napas lega mendengar jika semua adalah ulah sang calon mertua.

__ADS_1


"Sudahlahm kalian berdua lanjutkan saja urusan kalian. Adina pergilah bersama Kalyan. Kakek yang akan mengurus Aileen dan juga wanita ini." tutur Leo tersenyum dan menatap sengit kembali pada Elin yang tertunduk.


Kepergian Leo membuat Adina dan Kalyan berdiri saling canggung. Hingga keheningan terpecah saat alarm di jam tangan Kalyan terdengar kala itu.


Adina mengernyit, alarm apa yang berbunyi di sana. "Dina, sudah waktunya makan siang. Maukah makan siang bersama?" tanya pria tampan itu tampak gugup.


Mendengar ucapan formal sang pria, Adina terkekeh dalam hati. Tangan mungil yang terasa kasar itu seketika menjulur. Kalyan tentu mengernyitkan keningnya.


"Hem." pintah Adina menatap tangan seolah memberi perintah pada Kalyan untuk menggandengnya.


Sebelah alis Kalyan ia angkat, "Pegangan?" tanyanya ingin memastikan karena tidak ingin salah paham dan berakhir malu di depan Adina.


Akhirnya keduanya melangkah dengan bergandengan tangan keluar dari perusahaan menuju parkiran mobil.


Dalam hati bahkan Kalyan masih sempat-sempatnya bertanya, "Ini tangan pria atau wanita yang ku genggam? Mengapa kasar sekali?"


Sedangkan Adina jadi merasa hilang percaya dirinya, "Tangannya lembut banget lagi. Haduh sepertinya tanganmu harus perawatan ke klinik Adina. Bikin malu saja." batinnya ingin berteriak.


Rasa penyesalan tentu menyelimuti hati gadis itu kala dengan tingkahnya yang tengil menawarkan diri untuk saling bergandengan tanpa tahu diri dengan tangan yang kasar miliknya bisa saja membuat Kalyan ilfil padanya.

__ADS_1


"Kalyan, mau kemana kalian?" Tatapan wanita paruh baya menghentikan langkah keduanya yang tengah bergandengan dan hendak sampai di mobil.


Mata teduh Kalyan pun berubah seketika melihat kedatangan perempuan itu. "Sudah cukup dengan apa yang Mommy lakukan. Biarkan kami pergi." tuturnya dengan dingin tak menatap dengan baik sama sekali sang ibu yang berdiri di depannya menghalangi jalan mereka.


__ADS_2