
Langit malam tanpa terasa sudah datang menyapa. Namun hingga kini keributan terus terdengar di dalam kamar yang terisi dua manusia.
Banyaknya terbangan busa kain berwarna putih di kamar serta jeritan seorang wanita.
"Kalyan, kau keterlaluan!" bentak Adina memelototkan kedua matanya pada pria yang berdiri menatapnya.
"Aku tidak keterlaluan, Dina. Kita memang perlu latihan untuk itu. Akhir pekan kita akan lakukan yang lebih dari itu." Kalyan berjalan keluar dari kamar setelah mengatakan hal menakutkan di mata Adina.
"Dada virgin ku...kata aunty dada bisa kelihatan jika sudah di sentuh. Aduh bagaimana ini? Bagaimana jika dadaku besar sebelah? Hah tidaaaaak!"
Ingatan Adina terputar kembali kala mengingat bagaimana Selvi yang terus memberinya nasihat untuk menjaga diriya baik-baik dari lelaki mana pun. "Adin, gadis itu harus bisa menjaga diri dengan baik. Kamu tahu, apa pun yang di lakukan pria pada tubuh perempuan akan meninggalkan jejak."
Gadis mungil berseragam biru putih yang tengah menikmati dua lembar roti dengan selai susu putih kesukaannya tersentak kaget.
"Pelan-pelan sayang." tutur Selvi memberikan segelas air dan Adina kecil pun segera menenggaknya.
__ADS_1
"Memang separah itu, aunty? Adin jadi takut bagaimana kalau nanti ada yang nakal ada Adin, aunty? Memang jejak seperi apa itu, aunty?" tanyanya dengan antusias.
"Selvi, sudahlah. Kau ini bisa membuat anak gadisku takut pada pria nanti." tutur Candra yang kala itu juga berada di meja untuk sarapan.
"Aunty tidak menakuti Adin, Ayah." sahut Adina dengan ceria.
"Iya ayah kamu nih, Adin. Nah memang separah itu. Lihat, Ayah Adin saja bisa membuat perut bundanya Adin buncit kan? Seperti itu lah. Kalo Adin di pegang tangannya sama laki-laki, tangan Adin bisa merah-merah, terus kalo pipi Adin yang di pegang sama teman laki-laki bisa jadi nanti pipi Adin bergelembung dan setelahnya mengkerut deh seperti pipi aunty ini." terang Selvi nampak sangat serius memberi tahu segala sesuatu pada sang keponakan kesayangan.
"Dan satu lagi, ini. Lihat, punya aunty ini besar seperti ini juga karena uncle dulu. Makanya, Adin harus pandai menajaga semua yang ada di tubuh Adin sampai waktunya Adina menikah. Okey?"
Dan perkataan itu membuat Adina histeris di kamar seorang diri saat ini. "Bagaiaman ini, Kalyan sudah menyentuh sebelah? Apa iya aku harus menyuruhnya menyentuh sebelah lagi? Hah gila tidak mungkin,Adina. Milikku besar sebelah, huaaa Ayah tolong Adina." ia berteriak menangis memeluk tubuhnya sendiri yang tampak dengan pakaian berantakan.
Sementara di luar rumah sederhana itu, Kalyan tengah berjalan tersenyum-senyum sendiri menuju bibir pantai yang ada di depan halaman rumah tersebut.
"Rasa strowberry," gumamnya tersenyum geli membayangkan apa yang baru saja ia lakukan pada gadis cantik yang sok jual mahal padanya.
__ADS_1
"Kalyan!!" Suara teriakan dari dalam rumah terdengan semakin kencang. Namun pria tampan itu tak menghiraukan.
Kalyan justru melepas seluruh pakaian dan berenang di laut lepas. Ia begitu nampak menikmati segala gaya renang di air biru yang begitu jernih. Tanpa tahu di sudut lain ada sepasang mata yang menatapnya dengan penuh kemarahan.
"Rasakan pembalasanku!"
***
Tak ada yang tahu jika di rumah megah milik Candra, kini Maya begitu gelisah setelah melihat jam di ponsel miliknya.
"Sayang, masuklah istirahat. Besok kau harus ke rumah sakit pagi-pagi. Bagaimana bisa lancar semuanya jika kau tidak memperhatikan tubuhmu?" Candra memeluk tubuh sang istri dari arah belakang.
Keduanya berada di ambang pintu menatap ke halaman yang begitu luas dan indah.
"Ayah, Bunda ingin melihat Adina tidur malam ini..." lirihnya dengan nada lemah.
__ADS_1