
Dari kejauhan terlihat seorang pria berlari dengan peluh di keringat yang mengucur deras.
Memasuki gedung perkantoran yang menjulang tinggi.
“Ini gawat. Ini benar-benar gawat.” gumamnya sembari terus berlari.
Tentu gerakan tubuh pria itu menarik perhatian beberapa orang yang ia lewati di loby perusahaan hingga masuk ke dalam lift.
Sedang di dalam ruangan, Kalyan juga terus terlihat gusar memperhatikan kembali monitor di depannya.
Grafik merah sudah menduduki perusahaan Caya Group. Dimana artinya perusahaan sang mertua sudah berada di dasar.
Tok Tok Tok
Pandangan Kalyan teralihkan dengan suara ketukan di pintu.
“Masuk!”
“Tuan?” Suara pria saat pintu terbuka.
“Ini Tuan. Bukti jika beberapa pabrik kita sama sekali tidak ada memproduksi barang itu. Bagaimana ink bisa terjadi, Tuan?”
Kalyan berpikir beberapa saat setelah mendengarkan laporan serta bukti-bukti yang ia baca. Semua terdata dengan jelas tentang jam operasional dan barang apa saja yang di produksi. Semua tampak sesuai tak ada yang terlewatkan dari pandangannya.
__ADS_1
“Baik. Semua sudah bagus. Pergilah. Biarkan saya yang mengatur semuanya di sini.” Wajah tegang berubah tenang saat ini.
Tentu hal itu membuat sosok pria di depannya tercengang. Bagaimana mungkin ia hanya di suruh pergi sedang keadaan sedang darurat saat ini.
Bahkan kini beberapa perusahaan mulai goyah untuk menanam saham mereka pada perusahaan Caya Group.
“Ba-baik, Tuan.” Pria itu bergegas meninggalkan ruangan setelah melihat tatapan sang Tuan yang mengisyaratkan untuk pergi.
Usai memastikan ruangan sunyi, Kalyan mulai fokus dengan laptop dan jemari tangannya menari lincah.
“Tidak, aku butuh waktu satu jam untuk ini. Rasanya tidak akan sempat.” tuturnya pada diri sendiri.
“Oke, aku butuh seseorang saat ini.” Tangannya segera merogoh ponsel di atas meja.
“Tuan, Hari ini sedang ada pemberi-“
“Aku tidak mau tahu.” Tekan Kalyan mematikan sambungannya.
Tampak di layar begitu banyak kode yang berhasil ia baca. Beberapa menit berlalu, senyuman pun terukir di wajahnya kala berhasil menekan satu tombol yaitu enter.
Semua data berubah saat itu juga. Sontak di beberapa perusahaan dalam waktu yang sama terkejut mendapati jaringan semua tak bisa di akses.
“Ada apa ini?”
__ADS_1
“Wah bagaimana kasus perushaaan Caya Group? Hah ini tidak bisa di biarkan. Bisa rugi saya.”
Keluhan terdengar dari beberapa perusahaan kala itu.
Dan satu jam berlalu usai jaringan eror, kini kembali sempurna seperti semula.
“Apa-apaan ini?” Kening gadis cantik di dalam ruangan kerja tampak mengernyit heran.
Adina yang tengah pusing dan emosi kini berubah bingung.
“Nona grafiknya berubah.” sahut sang bawahan merasa tak percaya.
Justru di sana terlihat tinggal perusahaan Adina yang terus naik grafiknya, sedang perusahaan sang calon suami tak bergerak sama sekali. Menandakan tak ada barang penjualan yang ia perjual belikan.
“Apa dia mau mempermainkan perusahaanku?” batin Adina bertanya-tanya.
Secepatnya ia mengirim pesan pada seseorang.
“Jangan bercanda terlalu gila. Ini bukan ranah untuk bercanda!” Pesan yang baru saja Kalyan baca saat ini.
Ia tak bingung lagi, sepertinya sudah tahu apa yang di maksud sang calon istri. Semua adalah kesalah pahaman.
Helaan napas ia keluarkan saat itu. “Huh…kau wanita yang keras, Dina. Aku tidak sabar untuk menikahimu dan membuat kau jadi gadis yang lemah lembut.”
__ADS_1
“Aku sudah bekerja keras untuk calon istriku. Jangan marah lagi yah?” Balasan segera ia kirim saat itu juga.