Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Kegilaan Kalyan


__ADS_3

Saat ini jalanan begitu padat dengan berbagai macam kendaraan yang memenuhi. Mentari yang begitu terik beberapa jam lalu kini terlihat mulai memerah berganti seiring awan yang putih mulai tampak gelap. Sepertinya kilatan menandakan badai petir akan segera datang sebentar lagi.


Sebelum bergegas meninggalkan ruang kerja, Kalyan memastikan semua telah selesai dengan baik pasalnya besok adalah hari yang penting. Mengingat ada beberapa klien yang ingin bertemu dengannya mengenai investasi sosok Kalyan di beberapa perusahaan yang ingin ia lebarkan lebih banyak lagi.


"Oke semua sudah sempurna. Huh," keringat kecil timbul satu persatu pada keningnya mengingat jam sudah sangat dekat dengan waktunya untuk bertemu dengan sang pujaan yang sudah pasti ia yakini tengah menunggu di apartemen.


Senyuman bahkan terus saja tak ia hilangkan dari wajah tampan itu. Sampai detik ini jika di pikirkan rasanya sungguh tak habis pikir, pria setampan dan sesempurna dirinya bisa menambatkan hatinya pada sosok gadis yang setengil Adina itu.


Sungguh ini gila menurutnya. Namun, itulah kenyataan, hati yang kosong bahkan belum pernah terisi nama siapa pun disana kini telah terisi dengan sosok Adina Auristela.


Di sisi yang berbeda, pria tampan juga tengah begitu sibuk di dalam dapur. Tak main-main dua koki handal pun ia ikut sertakan untuk memastikan makanan yang sehat dan sempurna rasanya.


"Bagaimana? Semua sudah sempurna?" tanya Rod pada dua pria yang memakai clemek di dadanya.


"Sudah, Tuan. Semua sudah selesai dan pas." jawab kedua koki tersebut.


Rod menatap hidangan makanan di atas meja sungguh sangat berlebihan menurutnya. Tapi itulah yang ia terima dari sang Nona muda cantiknya.


"Siapkan dengan sempurna tanpa kurang satu apa pun untuk calon suamiku." Ingatannya tertuju pada ucapan sang nona muda sebelum ia pergi meninggalkannya.


"Beruntung sekali dia mendapatkanmu, Nona." decak kagum sosok Rod memandangi  isi apartemen yang tampak sepi hanya figura foto seorang pria tampan terpajang di sana tanpa ada wajah siapa pun yang mengisi.


Setelah memastikan keadaan selesai di meja makan, Rod beralih menuju kamar di mana tempat yang pernah menjadi saksi pertemuan dua manusia yaitu Adina dan Kalyan.

__ADS_1


Dua pelayan juga tersedia di dalam sana yang merapikan tempat tidur dan satu membersihkan kamar mandi. Tak lupa Ron memastikan keadaan air yang hangat saat pukul 18.30 nanti. Ia atur sedemikian rupa dengan aroma yang telah di siapkan Adina.


Handuk, pakaian dan jubah mandi sudah terletak di tempat masing-masing.


Rod segera merogoh ponsel dan melakukan panggilan video. Sebelum tersambung beberapa detik terdengar nada panggilan yang sedang menghubungi dan akhirnya muncul wajah cantik memenuhi layar ponsel Rod.


Mata Rod bahkan meneliti banyaknya keringat yang mengucur deras di wajah cantik Adina.


"Nona, anda pasti kelelahan..." tutur Rod cemas melihat wajah letih Adina.


"Tunjukkan padaku, Rod. Bagaimana semuanya?" pintah Adina dan Rod segera memutar layar video ke arah kamar mandi berlanjut ke tempat tidur dan kamar.


Di seberang sana, Adina mengangguk puas melihat kerja sang sekertaris. "Ini menu makan seperti yang anda minta, Nona." ucap Ron mengarahkan ke meja makan. Tak lupa pria itu menyalakan beberapa lilin dan meletakkan gelas yang sudah berisi wine.


"Baiklah, Nona. Hati-hati di sana." ucap Rod namun tak mendapatkan balasan dari seberang.


Matanya hanya menatap tanpa ekspresi dan menghela napas ketika panggilan sudah terputus sepihak.


"Ayo, sudah waktunya kita pergi." ajak Rod pada dua koki dan dua pelayan yang membantunya tadi.


Lima orang berjalan beriringan, dan Rod berada paling depan tentu mengejutkan sosok Rod yang berpapasan dengan pria tak asing lagi baginya.


Berbeda dengan Kalyan yang tampak acuh melewatinya begitu saja.

__ADS_1


Ada satu hal yang menjadi fokus Rod sekilas ia melihat senyuman mengembang di wajah seorang Kalyan. "Yang ku dengar pria itu adalah pria mahal senyuman. Tapi barusan?" batinnya menerka-nerka.


Tak ingin sibuk memikirkan yang lain, Ron melangkah pergi menuju mobil dengan acuh.


Di loby apartemen, seorang wanita begitu ragu untuk memasuki lift apartemen.


***


Kalyan dengan penuh percaya dirinya menekan kode akses pintu apartemennya. Seperti malam sebelumnya, senyuman yang ia kembangkan sejak siang tadi kini berusaha ia tahan.


Di rapikan penampilannya sebelum melangkah masuk ke dalam apartemen dengan semakin dalam. Berusaha terlihat biasa saja, begitulah sosok menyebalkan Kalyan. Bahkan ia bisa menahan gengsi untuk memperlihatkan betapa senangnya kala bertemu dengan sang pujaan kembali.


Langkah lebar semakin menuntunnya mendekat pada ruang yang terdekat dengan dapur. Aroma makan yang begitu menggiurkan dan suasana yang begitu rapi dan bersih tentu semakin menyentuh hati sosok Kalyan.


Hatinya yang dingin membeku kini hangat dan ia akui itu. "Dia wanitamu, Kalyan Fin." tuturnya dalam hati meyakinkan hati sendiri.


Melihat tidak ada sosok gadis tengil yang ia temu, Kalyan semakin yakin kini gadis itu kembali ingin menguji ketahanannya sebagai seorang pria.


Mata yang semula tertuju pada makanan lezat, justru beralih ke arah kamar yang tentu ada makanan lebih lezat dan menggiurkan hasratnya pikir pria itu.


"Huh...Dina." tangannya memijat pelipis yang seketika itu juga terasa berdenyut bagai ingin membelah dua kepala cerdas itu.


Senyuman terindah pun tidak bisa ia sembunyikan lagi saat ini. Gadis yang cerdik itu selalu berhasil mengubahnya setiap kali mereka bersama. Bahkan jiwa lelaki Kalyan selalu berada di luar kendali pikiran pria tersebut.

__ADS_1


Tangannya kini sudah mendarat pada handle pintu bersiap untuk membukanya.


__ADS_2