Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Persyaratan


__ADS_3

Semua mata pagi itu hanya tertuju pada satu titik yang berada di ambang pintu dengan banyaknya pelayan tengah melayani gadis cantil tertutup dengan kotoran di wajahnya.


Bagaimana pun, sama sekali tidak mengurangi kadar kecantikannya.


“Hehehe…apa aku bermimpi melihat kalian di sini?” Adina menampilkan deretan gigi putihnya dengan senyuman tanpa dosa sedikit pun.


Sementara Aileen yang tadinya terdiam bungkam kembali pada sifat aslinya. Mencebikkan sebelah bibirnya dan menghela napas kasar. “Benar-benar aslinya ini mah. Mimpi apa aku bisa dapat menantu seperti itu?” gerutunya kesal menatap tajam pada sosok Adina yang tak memperdulikan sedikit pun kekesalannya.


Justru gadis itu melambaikan tangan, “Hai ibu mertua. Kau datang rupanya, maaf aku tidak sempat bersiap.” sahut Adina tersenyum kekanak-kanakan.


“Cih, bersiap untuk apa? Kau pikir semua akan berubah? Semoga setelah ini anakku bisa membuka matanya yang buta itu.”


Semua yang berada di ruang tamu jelas bisa mendengar dengan baik ucapan Aileen barusan.

__ADS_1


“Adina, cepat mandilah. Ayah ingin bicara penting padamu.” ujar Candra menatap serius pada sang anak.


Sampai detik ini, ia bahkan tak menyangka jika sang anak yang selalu membuatnya pusing tujuh keliling itu sebentar lagi akan pindah tanggung jawab pada keluarga Osmon.


Sedih, tentu saja Candra sangat sedih meski semua belum terjadi. Rasanya baru kemarin ia menggendong, menidurkan bahkan menyuapi Adina kecil. Kini ia harus merelakan sang anak yang begitu ia sayangi harus pergi dari rumah megah yang sunyi itu.


“Okey, Ayah. Apa tidak bisa aku hanya berganti baju saja? Nanti setelah Ayah selesai bicara baru mandi? Bagaimana?” tawar Adina tersenyum ceria meski lelah dalam tubuhnya sangat terasa.


Namun, melihat keberadaan Kalyan di depan matanya sungguh mengobati semua lelah sejak kemarin.


“Mulai kemarin?” batinnya bermonolog. Itu artinya Adina sudah sejak kemarin tidak pulang ke rumah dan tidur dimana dia semalam? Kalyan sungguh pusing di buatnya.


Dan pagi itu semua berjalan dengan lancar. Acara sesi lamaran pun selesai berakhir dengan Adina yang memberikan syarat yang membuat semua bertanya-tanya.

__ADS_1


“Pernikahan akan di langsungkan paling cepat satu tahun lagi. Dan selama belum menikah, saya berhak melakukan apa pun selama tidak membuat nama keluarga maupun keluarga Kakek Leo buruk. Bagaimana?” tawarnya menatap satu persatu keluarga calon suaminya.


Kalyan kaget, pria itu menegakkan tubuhnya yang semula duduk santai. “Dina, apa alasannya? Apa kau tidak ingin menikah?” tanyanya dengan gurat keresahan yang amat mendalam.


Pasalnya, semenjak Kalyan mengajukan lamaran pada sang keluarga, pria itu yakin jika Adina akan langsung menerima tanpa embel-embel persyaratan yang entah apa tujuannya.


Setahun bukanlah waktu yang singkat, itu sangat lama. Apa dia pikir Kalyan akan tahan selalu merasa penasaran dengan gadis yang seperti jelangkung itu. Tiba-tiba hilang, tiba-tiba datang.


Yah, sepertinya kedepan akan banyak gelar yang gadis tengil itu dapatkan dari orang sekitarnya.


“Kal, sedang banyak yang harus ku selesaikan di luar sana. Biarkan aku mempersiapkan semuanya sebelum benar-benar harus mengabdi padamu sebagai istri.” Mengatakan itu ada rasa geli yang menggelitik hati Adina.


Jika saja ia sedang tidak menjaga wibawanya di depan semua orang, tentu Adina ingin sekali berloncat kegirangan melihat betapa Kalyan sangat mengistimewakan dirinya dengan berbagai hantaran lamaran.

__ADS_1


“Dan saya mengajukan persyaratan juga atas hak saya sebagai ibu dari Kalyan.” tutur Aileen berdiri dari duduknya.


__ADS_2