Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Restu Maya


__ADS_3

Sayang seribu sayang, hal yang paling membahagiakan rupanya harus di hancurkan dengan detak jarum jam dinding yang terpaksa membuatnya bangun dengan keadaan syhock.


“Perempuan macam apa yang tidak pulang ke rumah?” gerutu Aileen menyindir Adina yang masih setia di kamar itu.


“Udah biasa kok, Nyonya.” jawab Adina dengan berani.


“Din, bersiaplah. Aku akan mengantarmu pulang. Maaf semalam sudah membawamu ke rumah. Kau sangat mengantuk.” tutur Kalyan yang berusaha mengumpulkan kekuatan tubuhnya.


Rasanya masih sangat lemas. Ia begitu kaget saat melihat semua keluarga di kamarnya pagi itu.


“Nggak jadi kawin di pulau. Kamu malah mimpi yah?” ledek Adina pergi melangkah menuju kamar mandi demi membersihkan wajah cantiknya.


Tidak mandi karena ia yakin tidak ada pakaian yang bisa ia pakai.


“Kenapa tidak mandi sekalian? Kau bisa pakai baju Mommy.” tutur Kalyan melihat Adina baru keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan rambut setengah basah.


“Kulitku terlalu sayang untuk di kasih obat gatal. Nanti bisa mandi di rumah saja. Cepat antar aku, kalau tidak aku bisa naik ojol aja.”


Segera Kalyan bergegas merapikan diri dan mencuci wajah. Ia tidak ingin jika sang calon istri naik kendaraan dengan padatnya jalanan di pagi hari.


“Tunggu, aku hanya sebentar. Oke?” Ia bergegas tanpa memperdulikan sang mommy yang berdiri di sana bersedekap tangan menatap sinis keduanya.


Sedang semuanya sudah kembali ke meja makan untuk menikmati sarapan roti dan susu hangat yang tersedia.


“Brandon, sebaiknya persiapkan diri kalian. Mungkin dalam waktu dekat mereka akan bersama.” Ujar Leonardo pada sang menantu.

__ADS_1


“Uhuk!” Sontak pria lawan biacaranya tersedak karena kaget.


“A-pa? Papah mau mempercepatnya? Bukankah syarat dari gadis itu…” Ia menggantung ucapannya melihat ada senyuman kecil di wajah sang mertua.


“Mereka akan segera menikah. Ini tidak akan bisa bertahan lama. Mereka sama-sama mencintai.” tutur Leo.


Ia tidak tahu jika menantu wanitanya yang selalu tidak sejalan dengan Aileen, menaikkan sebelah alisanya tampak tidak suka.


“Kek, Dina pulang dulu.” ujarnya saat hendak mendekat menyalim tangan keriput itu.


“Apa sebaiknya tidak sarapan dulu? Jalanan macet. Kau akan kelaparan, Nak?” tutur Leo penuh perhatian. Berbeda dengan sang cucu yang ia cuekin saja.


“Heee Dina belum sikat gigi, Kek. Tidak enak jika sarapan belum sikat gigi.” Gadis itu terkekeh tanpa dosa.


Mendengarnya, Leo pun tertawa tanpa suara sembari menggelengkan kepala. Sementara Aileen yang mengikut dari belakang kembali bersuara.


“Mommy!” Hardik Kalyan.


Tangan kekarnya segera menarik tangan Adina usai bersalim dengan sang kakek.


“Ayo, aku harus segera ke kantor.” tuturnya mempercepat waktu. Karena semakin lama, mereka justru akan semakin lama macet di jalanan.


Keduanya pun masuk ke mobil dan mulai menikmati jalan yang tampak masih basah oleh embun kala itu.


Hanya keheningan yang menemani jalan keduanya. Baik Adina maupun Kalyan tak ada yang berniat buka suara sampai beberap menit akhirnya mobil mewah milik cucu Leonardo telah sampai di kediaman Candra.

__ADS_1


“Ini ponselku. Ponselmu semalam rusak kan?” Kalyan menyerahkan ponsel miliknya pada Adina yang tampak mengerutkan kening.


“Aku bisa membelinya.” sahut Adina tidak terima dan ingin mengembalikan benda persegi panjang di genggamannya.


Ceklek!


Belum sempat mereka kembali bicara, pintu sudah terbuka dan mengejutkan keduanya.


“Nona…” sapa salah satu pelayan di ikuti dengan beberapa pelayan yang juga sudah berdiri menyambutnya dengan segala perlengkapan seperti biasa.


“Adina…” Maya berjalan memecah barisan para pelayan.


Ia menangis pagi itu dengan kedua tangan yang sudah menangkup kedua sisi wajah sang anak.


“Ponselmu tidak bisa di hubungi, Sayang. Bunda cemas…” Ucapan Maya seketika menggantung kala mendapatkan sikap Adina yang menepis tangannya dan melangkah pergi tanpa kata.


Kalyan yang berdiri pun menelan salivanya. Betapa kerasnya sang calon istri yang harus ia tuntun kelak.


“Maafkan saya, kemarin saya mengajak Adina ke pulau. Tapi karena dia kelelehan jadi tidur di rumah Kakek, Bu.” ucap Kalyan begitu sopan.


“Oh jika pergi denganmu Ibu percaya, hanya takut Adina kenapa-kenapa di luar sana.” Maya tersenyum dengan wajah pucatnya.


“Semoga kelak dia bisa bersikap lebih terbuka setelah bersama mu, Nak. Ibu sangat berharap kalian bisa bersama secepatnya.” Maya tampak begitu percaya ketika melihat bagaimana sikap Kalyan yang santun.


“Segera, Ibu. Saya usahakan untuk Adina. Semoga semua berjalan lancar meski pun dia masih sulit di kendalikan.”

__ADS_1


Beberapa saat keduanya berbincang-bincang hingga akhirnya nampak Adina sudah kembali keluar dengan penampilan yang seperti biasa. Tomboy. Helm tabung sudah ia pegang di tangan sebelah kirinya.


Mata semua pelayan, Maya, dan juga Kalyan menatap ke dalam rumah.


__ADS_2