Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Pertemuan Di Kantor


__ADS_3

"Momm,-" Kalyan yang ingin bicara seketika terhenti saat melihat arahan dari Adina seolah memberi isyarat untuk pria itu tidak bicara apa pun.


"Silahkan calon mommy mertua." ucap Adina dengan senyuman yang terukir indah di wajah cantik itu.


"Selama bersama dan sebelum bersama anakku, hentikan kegilaan yang sering kau lakukan itu. Aku tidak ingin kau menjadi bahan bibir para teman-temanku di luar sana." jelas Aileen kesal.


"Tapi, sayang untuk itu jujur aku tidak bisa, Momm. Kalyan memang pria yang aku cintai, tapi aku jauh lebih mencintai kewajibanku di luar sana." Adina berucap dengan jujur.


Bagaimana pun gadis cantik itu memilik banyak hal yang harus ia selesaikan dan mungkin tidak dalam waktu yang sebentar. Tentu mendengarnya Kalyan penasaran apa hal yang membuat istrinya sebegitu merahasiakan.


"Jika Kalyan mencintaiku menerimaku apa adanya, dia tidak perlu tahu dan tidak perlu ku jelaskan apa pun. Cukup percaya padaku." tambah Adina lagi.


Semua hening di dalam ruangan itu. Candra bahkan menggelengkan kepalanya pusing melihat tingkah sang anak. Sedang Maya berusaha mengusap kedua bahu sang suami. Sampai detik ini mereka bahkan tidak banyak tahu tentang sang anak.


"Adina..." suara lemah Maya mencoba membuat sang anak berucap lembut, namun Adina justru menatapnya dengan tajam.


Sungguh sedih Maya melihat tatapan permusuhan dari sang anak padanya saat ini. Tatapan itu jelas menunjukkan betapa Adina membencinya.


"Aku sanggup." ucap Kalyan dengan tegas setelah mempertimbangkan semuanya.

__ADS_1


Leo mengangguk tersenyum bahagia. Ia sangat senang mendengar sang cucu akhirnya menyanggupi apa yang Adina ucapkan barusan. Berbeda dengan sang mommy yang naik pitam mendengar keputusan sang putra.


Ia sampai menarik napasnya begitu dalam untuk meredam emosinya saat itu.


Wanita paruh baya itu tanpa kata langsung bangkit dari duduk setelah beberapa detik lalu kembali duduk, Ia pun melangkah pergi tanpa menghiraukan semua tatapan yang tertuju padanya.


Di dalam mansion keluarga Candra, Kalyan kembali bersuara setelah mendengar Adina mengatakan, "Dan satu lagi, maaf aku bukan wanita yang bisa memakai cincin seperti itu. Sebaiknya lamaran ini tidak ada acara tukar cincin." ujarnya.


Kalyan terdiam mendengar begitu banyaknya ucapan sang calon istrinya saat ini. Adina benar-benar seperti menguji kesabaran pria itu. Ada seulas senyuman tipis di tunjukkan Adina padanya.


"Baik. 25 % saham dari yang ku miliki akan ku berikan atas nama mu, Adina. Besok datanglah ke kantor untuk tanda tangan pengalihan saham itu. Atau jika kau ingin aku yang menjemputmu." Sang Kakek yang mendengar ucapan cucunya mengangguk takjub. Begitu seriusnya Kalyan hingga tanpa berpikir apa pun untuk memberikan saham pada wanita yang bahkan baru menjadi tunangannya saat ini.


Mendengar percakapan dua orang yang saling menyelami hati pasangan masing-masing, tentu saja sebagai seorang ibu dari pihak wanita, Maya tidak ingin sang anak menjadi buruk di depan orang atau pun calon suaminya kelak.


"Nak Kalyan tidak usah seperti itu, Adina tidak perlu semua itu. Kami sanggup memberikan anak kami apa pun yang dia butuhkan. Adina tanggung jawab kami sepenuhnya." ucap Maya dengan sangat sopan.


"Iya kan Ayah?" tanyanya pada sang suami meminta persetujuan untuk mendukung.


"Iya, Tuan Leo cucu anda sangat bermurah hati. Kami sangat tidak ragu memberikan anak kami untuk cucu anda. Adina pasti sangat bahagia memiliki suami yang begitu mencintainya tanpa memandang apa pun. Tapi sungguh kami tidak ingin hanya lamaran seperti ini justru cucu anda harus memberikan saham pada putri kami." papar Candra panjang lebar.

__ADS_1


"Tidak perlu seperti itu, Tuan. Semua sudah saya persiapkan untuk Adina." sahut Kalyan.


Dan tentu perbincangan mengenai saham membuat mata seseorang membulat penuh kemarahan. "Apa dia pikir semurah itu saham 25 %. Dasar ini tidak bisa di biarkan. Anakku yang bekerja banting tulang di belakang ini semua justru hanya mendapat jabatan sebagai kepala direktur di anak perusahaan. Tidak, tidak akan ku biarkan." batin Elvisa geram.


***


Setelah kemarin perbincangan lamaran dan beberapa syarat, hari ini tepat seperti yang di ucapkan Kalyan. Sebuah mobil mewah milik pria tampan cucu pertama Leonardo telah terparkir di depan loby perusahaan. Sang supir telah mempersilahkan gadis untuk keluar dengan menunjukkan arah jalan yang harus ia lewati menuju lift.


"Silahkan, Nona. Tuan sedang turun untuk menjemput Anda." ucap sang sopir pada Adina.


Siang yang menunjukkan waktu makan siang seolah membuat semua mata menatap lapar penampilan Adina yang begitu cantik dan menggoda.


Celana legging latex berwarna hitam mengkilat dan jaket kesayangannya yaitu jaket kulit hitam serta tangtop ketat membalut di dalam tubuh langsingnya. Sungguh tak dapat mengendalikan mata siapa pun yang melihat. Gadis cantik itu berdiri sembari bersedekap dada menunggu pintu lift terbuka.


Ting!


Dua pasang mata saling tatap menyelami bola mata yang penuh arti di sana.


"Adina..." sapa Kalyan yang tergugu melihat betapa cantiknya sang pujaan di kala siang hari bertemu dengan cahaya mentari yang membantu menyinari wajah cantik itu.

__ADS_1


Biasa mereka hanya bertemu dalam waktu pagi yang belum begitu cerah dan malam yang sudah temaram.


__ADS_2