
Gedung luas berhiaskan bunga-bunga segar tampak memanjakan mata kala itu. Karpet merah di gerai begitu panjang hingga berakhir pada beberapa kursi yang sudah berhiaskan pita dan bunga serba putih.
Riuhnya kendaraan terdengar jelas dari luar, tampak beberapa keamanan mengatur kendaraan yang hendak parkir di halaman yang sangat luas.
Senyuman terukir indah di bibir berwarna soft pink. “Kamu cantik, Nak.” puji seorang wanita yang terlihat berdiri di belakang tubuh gadis berkebaya putih itu. Keduanya saling bertukar pandang di depan cermin besar yang berdiri kokoh.
“Kalo tidak cantik kan dia pasti menolakku, Bun.” tuturnya tersenyum kecut.
Rupanya hingga sampai detik ini pun hubungan keduanya masih tidak baik-baik saja. Lantas senyuman di belakang gadis itu pun memudar.
“Yasudah, ini sarapannya sudah selesai kan? Biar kita langsung turun. Sepertinya semua sudah hadir.” Tanpa menjawab, keduanya bergandengan tangan keluar dari kamar pengantin.
“Bidadari cantik dua-duanya. Ayah sangat bahagia, Sayang melihat hari ini kau sangat anggun.” Candra tersenyum seraya mengusap air mata.
Ia pun melangkah beralih di sisi sang anak bersama sang istri menuntun sang anak menuruni tangga.
Hentakan demi hentakan terdengar menggema di ruangan kala tiga orang menuruni anak tangga menuju ruangan acara.
Diantara banyaknya tatapan mata, satu pasang mata yang paling menatap penuh cinta. “Istriku…” lirih pria itu yang tak lain adalah Kalyan.
“Heh, calon istri. Kamu ini, lagian model begini banyak kok dari teman-teman mommy. Malah anak mereka jauh lebih dari ini, Kal. Ayolah buka mata kamu.” hasut Aileen masih berusaha ingin mengacaukan keteguhan hati sang putra.
__ADS_1
“Mom, please ini hari penting aku. Kacau satu semua kacau.” Kalyan menatap tajam sang mommy.
Aileen seketika tersenyum kikuk. “Ehehehe tidak, Kal. Ayo persiapkan dirimu.”
Penghulu, saksi-saksi serta keluarga kedua belah pihak telah duduk dengan tenang. Kalyan duduk berhadapan dengan pria yaitu sang calon mertua dan di samping tampak gadis yang tertunduk malu-malu.
“Tumben Dina malu-malu begitu.” cibir Kalyan dalam hati. Rasanya berbeda melihat gadis yang selalu petakilan berubah jadi seperti putri malu.
“Bagaimana semua sudah siap?” Penghulu menatap satu persatu yang duduk di sekitarnya.
Semua berseru mengatakan siap. Dan acara sakral pun akan segera di mulai.
Ded deg deg deg deg
“Saya terima…”
“Tidaaaak!!” Teriakan begitu nyaring dari gadis di sampingnya membuat Kalyan dan lainnya sangat terkejut.
“Aku tidak mencintainya. Pernikahan ini tidak bisa di lanjutkan. Pernikahan batal.” Adina berdiri serta melepar kain yang menghubungkan kepalanya dan sang calon.
“Adina apa-apaan ini?” Kalyan ikut berdiri menatap tak percaya.
__ADS_1
“Dina, kita akan menikah. Jangan bercanda lagi. Kali ini bukan waktu yang tepat buat gengsi-gengsian.” Tuturnya sangat syok.
Mengingat bagaimana sifat Adina biasanya. Selalu mau tapi harus di paksa.
“Dina…apa yang terjadi, Nak?” Leo berjalan mendekat usai berdiri dari duduknya.
“Kakek, aku minta maaf.” Adina berjalan meninggalkan ruangan tanpa menoleh ke belakang sedikit pun.
Di belakang, rahang Kalyan mengeras penuh amarah. Tangannya kedua mengepal ingin melampiaskan rasa kesal.
“Mommy sudah bilang itu bukan wanita baik. Kalian saja yang tidak percaya. Sekarang sudah biarkan wanita petakilan itu pergi.” Aileen memanas-manasi sang anak.
“Tidaaaaaaaak!!!” Kalyan berteriak hingga sukses mendatangkan semua keluarga di ruangan yang tidak seluas awalnya ia lihat.
Satu persatu mata menatapnya yang terbaring di tempat tidur.
“Dina? Grandpa? Mommy? Dad?” Ia mengabsen satu persatu sesuai manik mata yang ia gerakkan.
“Kamu mimpi apa?” Leo lebih dulu bertanya pada sang cucu.
“Kamu apakan anak saya?” Aileen tak memandang apa yang ia lihat. Justru beralih menyalahkan gadis yang terduduk di samping sang anak.
__ADS_1
“Kan sudah jelas Kalyan mimpi. Kok malah saya yang di tanya? Mimpi basah kali?” ketus Adina yang enggan berucap panjang lebar dengan wanita yang selalu tidak menyukainya.
“Kamu…benar-benar yah?” geram Aileen.