
"Mau sampai kapan kau berdiri melihatku seperti itu? Apa kedatanganku kesini mengganggumu?" ketus gadis cantik yang berdiri tepat di depan Kalyan saat ini.
Kalyan sontak membenarkan jasnya dan mundur sedikit ke belakang dan menarik pergelangan tangan gadis itu. Untuk apa jual mahal, toh mereka sudah bertunangan, begitu pikir Kalyan.
Keduanya kini berada di dalam lift tanpa ada siapa pun lagi. Sementara di luar sana banyak karyawan yang mendekat ke arah lift yang baru beberapa detik lalu tertutup. Sungguh semua sangat penasaran dengan sosok gadis yang bahkan baru muncul di depan mereka.
"Dari kalangan mana gadis itu?" begitu lah pertanyaan yang muncul di benak beberapa pekerja kantor milik Kalyan. Sebab mereka tahu seorang Aileen tidak akan mudah membiarkan sembarangan orang masuk dalam lingkungan keluarga mereka.
Apa kabar dengan gadis yang bernama Elin Sagita, yah tanpa Kalyan tahu perempuan itu pergi dengan satu amplop besar uang di tangannya. Siapa yang memberinya? Tentu saja Aileen. perempuan yang sudah hampir dua puluh empat jam mematai sang anak ketika berada di luar kantor menuju ke apartemen.
Hanya itu yang ibu itu bisa lakukan, karena mengingat di apartemen wilayah kekuasaan sang ayah, tidak mudah untuknya melawan Leonardo. Bahkan semua anak buah Aileen hanya bisa membantu sebatas jarak jauh.
Dua pasang kaki jenjang yang melangkah beriringan menuju ruangan presdir. Di sana ada pria yang berwajah hampir mirip dengan Kalyan.
"Silahkan masuk, Kakak." ujar pria tampan itu yang jauh lebih muda dari perawakan Kalyan Fin.
Adina tersenyum manis padanya. "Ah kau Clay bukan?" tanyanya dengan suara seakrab mungkin.
"Mengapa kemarin tidak ikut?" tanya Adina lagi saat Clay belum sempat menjawab pertanyaannya.
Clay menggaruk tengkuknya. "Maaf Kakak, kemarin Kakak Kal memberiku banyak pekerjaan. Sebab itu tidak bisa ikut ke rumah Kakak." jawab Clay begitu segan pada sosok Adina.
"Hei tidak perlu memanggilku Kakak, kita seumuran. Ya sudah kami ke dalam dulu yah." Adina pun melangkah lebiih dulu masuk di belakang di susul oleh Kalyan yang hanya terdiam sejak tadi.
__ADS_1
Setelah memastikan Clay menutup pintu ruangannya, Kalyan langsung memberi pertanyaan pada Adina yang sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan kursi kebesarannya. "Dari mana kau mengenal Clay? bahkan kau sepertinya banyak tahu tentang adikku?" serbu Kalyan dengan pertanyaan tanpa jeda.
Wajah tampan yang diam sejak tadi begitu membuat Adina puas. Gadis itu menoleh ke belakang menatap tubuh sang calon suami.
"Mau sampai kapan bicara di belakang ku seperti itu? Kemarilah waktu ku tidak banyak, Kal. Aku sangat sibuk." tutur Adina.
Mendengar sang kekasih mengatakan waktu yang singkat, tentu Kalyan hilang pikiran waras. Tiba-tiba saja ia bertanya dengan penuh penasaran.
"Katakan padaku, Dina. Kau mau kemana? apa yang kau kerjakan di luar sana? Apa yang membuatmu tidak datang menemaniku makan malam kemarin? Apa yang kau lakukan sampai kau bahkan pulang pagi di saat aku dan keluargaku datang ke rumah mu?"
Mendengar banyaknya pertanyaan, Adina tersenyum. Apa inikah sifat asli Kalyan yang begitu cerewet? Padahal sebelumnya pria itu tampak sangat cool di depannya karena sangat pelit kata.
"Aku bukan tidak datang. Aku datang hanya saja tidak sempat menemanimu makan malam." tuturnya mengelak.
"Lalu untuk apa kau mematikan semua akses cctv di apartemenku?" tanya Kalyan semakin penasaran.
"Kal," panggil Adina lirih. Matanya menatap sendu sang pria di depannya kini.
Mata mereka saling beradu pandang ketika Kalyan sudah duduk di kursi kebesarannya.
Posisi Adina yang semula duduk mulai bergerak mendekat pada Kalyan yang berhalangan meja di antara keduanya.
"Apa tidak cukup dengan aku mencintaimu? Ada hal yang perlu kau tahu dan ada hal yang belum boleh kau tahu." suara lemah dan penuh ketulusan dapat Kalyan rasakan.
__ADS_1
Hatinya melemah, penasaran di dalam dada pria itu mulai terkalahkan dengan rasa tidak tega pada Adina. Ia yakin seburuk apa pun penampilan dan tingkah Adina, gadis ini adalah gadis yang tepat untuknya dari sang kakek.
Entah dengan apa Kalyan menjawab pertanyaan Adina, ia tak sanggup bertanya apa pun lagi saat melihat bagaimana tatapan mata Adina padanya. Tatapan dalam, penuh cinta, penuh kelemahan dan rapuh yang sangat terbaca olehnya.
Sungguh Kalyan merasa bersalah telah banyak bertanya pada gadis yang ia kenal sangat misterius itu.
"Dina, maafkan aku..." lirih Kalyan beranjak dari kursinya.
Ia mendekat dan memeluk gadis pujaannya. Ia tahu ada luka mendalam yang Adina sembunyikan di sana entah apa itu.
"Apa semua hal memang harus terlihat dari penampilan, Kal?" tanya Adina.
Kalyan menggelengkan cepat kepalanya. "Aku tidak bermaksud seperti itu, Dina. Aku hanya gelisah karena kau tidak menepati janji yang sudah kau ucapkan padaku sendiri. Kau akan menemaniku makan malam dan pagi. Aku khawatir bahkan aku tidak tahu harus mencarimu dimana?" jelas Kalyan panjang lebar sembari mengusap lembut pucuk kepala Adina.
Kenyamanan yang Adina dapatkan siang itu membuat ia sangat tenang. Semua beban dalam hatinya terasa jatuh seketika dari tubuhnya.
Kehangatan yang tercipta tiba-tiba saja terlerai begitu cepat kala terdengar suara seorang wanita berteriak di luar sana.
"Kalyan! Buka pintunya!" Kalyan dan Adina saling tatap beberapa saat hingga Kalyan pun melerai pelukan mereka.
Pria itu melangkah ke arah pintu yang memang hanya ia bisa membukanya dari dalam jika sudah di tutup dengan kode angka.
Saat pintu berhasil terbuka, muncullah sosok wanita dengan wajah penuh amarah. "Apa yang kau lakukan, Kal? Siapa dia? Kau ingin meninggalkan aku begitu saja setela semua yang terjadi? Apa maksud lamaran minggu lalu itu, Kal?" tangis pecah di depan pintu ruangan Kalyan tentu mengundang Adina untuk berlari mendekat.
__ADS_1
Tidak hanya ia, beberapa pekerja yang berada di sekitar pun mengerubung penasaran dengan apa yang terjadi siang itu.
"Apa-apaan ini?" suara bariton seorang pria terdengar menggema.