
Kalyan benar-benar membuat gadis cantik di bawah tindihannya sangat syok saat itu, belum usai Adina menyadarkan lamunannya mendengar pilihan konyol dari pria tersebut.
"Emh!" Ia meronta setelah reflek beberapa detik terdiam merasakan sentuhan tiba-tiba bibir keduanya.
Tak hanya sentuhan, pergerakan indera perasa yang semakin masuk ke dalam terus Kalyan lakukan. "Kalyan kau menyakiti ku," pekik Adina saat memberontak karena kesulitan bernapas.
Hilang sudah kesabaran, ia bergerak sekuat tenaga menggulingkan tubuhnya serta tubuh pria yang berada di atas. Kalyan bukannya marah, ia justru tersenyum kala posisi mereka berputar dan Adina lah yang berada di atas.
"Kalyan!" Adina mengamuk lantaran malu dengan posisi menggelikkan itu.
Tadinya ia berusaha untuk melepaskan pelukan Kalyan dengan mengguling tubuhnya, namun sayang Kalyan justru semakin mengertakan pelukannya.
"Ternyata kau lebih bergairah yah?" tutur Kalyan tersenyum mengejek.
Tak tahan dengan ejekan tersebut, "Hem, rasakan ini. Adina memutar tangan Kalyan yang memeluknya dan menendang kedua paha pria tampan itu.
Sekuat apa pun Kalyan, ternyata ia bisa merasakan sakit yang luar biasa dari tendangan Adina. "Adina, mau kemana kau?" tanya Kalyan seraya meringis menahan sakit.
Matanya menatap gadis yang berlari keluar dari kamar mereka kini.
__ADS_1
Setibanya di halaman depan rumah tersebut, manik mata Adina mengedar melihat sekeliling. "Tempat apa ini? Kemana Kalyan membawaku? Astaga jangan sampai di benar-benar nekat dengan pilihan gila itu. Aku belum bisa menikah dengan ibunya yang seperti itu menolak menantu cantik ini?"
Yah, salah satu pertimbangan Adina yaitu sikap Aileen yang menurutnya terlalu berlebihan dalam mengatasi segala hal yang tidak ia sukai.
"Dina!" Kalyan berlari menyusul sang calon istrinya.
Adina berdiri memunggungi pria tersebut. "Aku ingin pulang, Kal." tuturnya tanpa menatap wajah Kalyan.
"Sayang, apa bersamaku kau tidak betah? Untuk apa pulang. Pokoknya aku mau kita menikah akhir pekan kalau tidak kita buat anak banyak di sini baru aku mengijinkan mu untuk pulang."
Sontak Adina membuka lebar mulutnya tercengang mendengar penuturan Kalyan. "Muka malaikat, pikiran seperti kucing garong. Dasar. Untung cinta." batin Adina memutar posisi tubuhnya.
"Semua sudah ku selesaikan, Din. Mereka semua sudah ku pekerjakan di perusahaanku. Jadi kau tidak perlu memikirkan mereka semua. Seluruh anak buahmu jadi tanggung jawabku. Saat ini tinggal tanggung jawabmu. Menikah dengan ku. Tidak ada alasan menunda apa pun lagi." Setelah mengatakan hal tersebut, Kalyan justru berhenti mendekat pada Adina. Ia justru melangkah masuk kembali ke dalam rumah meninggalkan gadis yang tercengang dengan wajah syok.
"Kena kan kau." batin Kalyan tertawa dalam hati.
"Kalyan, kenapa kemarin pas di rumah aku bulang setahun lagi tidak masalah. Kamu diam saja loh waktu itu." serbu Adina mengejar ke dalam kamar.
Kalyan tersenyum padanya sembari melepas sepatu serta kaus kaki. Lalu ia membaringkan tubuhnya dan mengambil selimut. Sangat nyaman, Kalyan menutup tubuhnya dengan selimut usai mengatur suhu pendingin ruangan sedingin mungkin.
__ADS_1
Keduanya kembali berada di dalam kamar. Adina berdiri depan pintu menatapnya penuh rasa kesal. Bagaimana bisa, Kalyan dengan mudahnya membubarkan seluruh anak didiknya yang susah payah ia bangun selama ini.
"Itu karena aku sebagai pria harus tetap terima keputusan mu." jawabnya santai.
"Terima keputusan ku? Lalu ini apa? Kau bahkan bukan menerima tapi meminta menikah dalam waktu yang sangat gila loh, Kal. Itu tidak mungkin." cecar Adina terus bersungut.
"Itulah wibawa yang harus ku jaga, Din. Aku pria tidak mungkin mengemis di depan mereka. Sebab itu aku bawa kau ke sini. Aku sudah berbaik hati memohon dengan mu, bukan?"
Melihat sikap siap siaga Adina, Kalyan urung membaringkan tubuhnya. Ia bangun dan menutup pintu dan menguncinya. Lalu tangannya dengan lancang kembali menggendong Adina seperti sebelumnya. Begitu pun dengan Adina yang selalu memberontak.
Suasana kamar kembali riuh kala terdengar Adina berteriak meminta di lepaskan. Sungguh lucu, Kalya bahkan terkekeh di sela aksinya yang membungkus Adina dengan selimut tebal serta tubuhnya yang ikut masuk ke dalam.
"Kalyan!" teriak Adina yang kewalahan menghadapi tingkah prianya tersebut.
Mau tapi malu. Mungkin itulah yang Kalyan lihat di wajah Adina.
"Aku belum mau menikah. Lepaskan! Kau ingin ku habisi yah?" teriak Adina lagi mengancam.
Di detik berikutnya, justru tak ada suara lagi di dalam selimut tersebut.
__ADS_1