Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Pilihan Untuk Adina


__ADS_3

Adina terdiam setelah mendengar ucapan Kalyan yang mengatakan untuk menikah akhir pekan.


"Itu tidak akan mungkin, Kal. Aku tidak akan setuju." tutur Adina dan melanjutkan langkahnya meninggalkan tempat tersebut tanpa menghiraukan Kalyan.


Kalyan marah melihat sikap acuh sang gadis yang seolah Adina benar-benar tidak ingin hubungan mereka berlanjut ke jenjang yang lebih serius lagi.


Kalyan berjalan cepat mengikuti Adina yang sudah hampir sampai di mana motor besar tergeletak begitu saja di sana.


"Adina!" panggilnya setengah berteriak.


Adina sama sekali tidak menggubrisnya. Dan terus melangkah setengah berlari.


"Gadis ini benar-benar," maki Kalyan lirih.


Saat langkahnya hampir menggapai tubuh Adina, secepat kilat Kalyan menarik tangan wanita itu dan menghempaskan tubuh padat tersebut ke atas bahunya.


Semua yang tengah merintih sakit seketika membulatkan mata mereka menatap adegan romantis yang langka.


"Kalyan! Berhenti!" Adina berteriak dengan penuh amarah. Ia sama sekali tidak menunjukkan sifat lembutnya seorang perempuan. Suara baritonnya bahkan nyaris serak karena terlalu kencang berteriak.


Acuh. Kalyan memukul bok*ng Adina agar diam tidak memberontak. Namun percuma, bukan Adina jika ia akan menurut tanpa bersikeras dengan pendiriannya.


"Kita pergi sekarang," ucap Kalyan memerintah melelalui earphone miliknya.


Pukulan tinjuan terus gadis itu layangkan pada punggung dan kepala Kalyan, nyatanya semua tak berhasil membuat tubuhnya turun dari gendongan pria tampan tersebut.

__ADS_1


"Kalyan, ini bukan waktu yang tepat kau melakukan ini." Teriak Adina lagi.


Kalyan melangkah mendekati helikopter yang sudah mendarat tak jauh dari tempatnya. Keduanya masuk ke dalam helikopter yang siap membawa mereka pergi dari sana.


Sebelum itu, Adina berteriak pada semua orang yang menganga menatap kepergian mereka. Tampak yang sakit tak merasakan sakit saat itu, dan yang mengobati juga menghentikan aktifitasnya seketika.


"Awas kalian! Akan ku beri pelajaran sudah membuatku jadi tontonan seperti ini. Cepat tolong aku!" teriak Adina sayang semua terlambat.


"Hah, ketua! Ayo tolong ketua." teriak salah satu dari mereka, sayangnya sudah terlambat.


Helikopter sudah sukses terbang meninggi. Dan tak mungkin jika mereka menembak benda besi berbaling-baling tersebut.


***


Setelah berada di helikopter, Adina terdiam dengan wajah bersungut-sungut tak sudi menoleh pada pria di sampingnya. Kemarahannya benar-benar memuncak karena Kalyan berani ikut campur dengan urusannya.


Setelah perjalanan beberapa menit, mereka sampai di sebuah tempat yang hanya ada satu rumah sederhana. Tak ada tetangga, tak ada kehidupan di tempat itu. Adina memutar tubuhnya usai turun dari helikopter.


"Kalyan, kau bawa kemana aku?" tanya Adina yang belum sempat mendekat ke arah pria tampan justru kembali di kejutkan dengan suara helikopter yang sudah bergerak naik sangat cepat.


"Hei mau kemana kau? Jangan pergi!" Adina meloncat berusaha keras menggapai besi penyangga heli namun sayang tak sampai karena sudah terlambat.


Kalyan yang kini justru acuh tanpa menjawab pertanyaannya melangkah menunuju rumah sederhana di depan sana.


Yah rumah sederhana namun lengkap segala fasilitas dan sangat terawat.

__ADS_1


"Rasakan hukuman ku, gadis nakal." batin Kalyan terkekeh mendengar Adina berteriak memanggil-manggil helikopter bahkan berlari ke sana kemari seperti orang gila.


Belum sempat ia memasuki rumah, Kalyan mendengar lagi.


"Halo!"


"Halo! Kemana sih? Ini ponselku eror yah?" Benda pipih yang tak bersalah pun jadi korban kemarahan Adina saat itu. Ia pukul dan terakhir ia melempar ponselnya ke tanah.


Semua perjuangan tak ada hasil sama sekali. Adina menoleh menatap nyalang Kalyan yang justru tersenyum padanya.


"Ayo masuk." tutur Kalyan tak menggubris wajah kesal sang pujaan.


"Tidak." ketus Adina menolaknya.


Ia tetap berdiri di halaman tanpa mau melangkah mengikuti perintah Kalyan. Akhirnya Kalyan melangkah mendekatinya kembali.


Keduanya berdiri dengan sejajar dan saling memandang. Jika biasanya Adina begitu cinta pada pria tampan di depannya, namun tidak saat ini. Misinya jauh lebih penting kali ini. Adina harus menyelesaikan semua masalahnya di medan perang.


Dalam hitungan detik ketiga, Kalyan membungkuk menggenggam kedua paha Adina dan kembali menaikkan ke atas pundaknya.


Bak menggendong beras, ia berjalan santai tak perduli bagaimana Adina memukul punggungnya dengan keras. Nyatanya tenaga Kalyan jauh lebih kuat darinya.


Sebuah kamar yang tidak begitu luas menjadi tempat terakhir langkah Kalyan mendarat.


"Awh!" Suara rintihan lolos dari mulut Adina kala tubuhnya yang panjang terhempas di atas tempat tidur.

__ADS_1


"Kalyan!" jeritnya ingin bangun dari tidurnya namun Kalyan lebih cepat mengurung tubuh itu dengan kedua tangan di samping kiri dan kanan serta tubuh kekar Kalyan begitu kuat menindihnya.


"Pilihan ada padamu. Menikah akhir pekan, atau kawin detik ini juga?" Mata Adina membulat seperti ingin meloncat mendengar pilihan dari Kalyan.


__ADS_2