Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Restu Mommy


__ADS_3

"Mom," Kalyan berdiri mendapati keberadaan sang mommy yang baru saja tiba. Sedangkan Leo hanya tertawa sinis melihat sang anak perempuan yang sudah jelas akan melakukan segala cara demi meluluhkan hati sang putra.


Tiba-tiba saja, tubuh kekar nan tegap milik Kalyan bergerak turun saat berada di hadapan sang mommy. Ia menekuk kedua kakinya dan berlutut di sana. "Beri restu kami, Kalyan sudah benar-benar yakin dengan gadis itu. Tolong kali ini untuk Mommy beri kesempatan kami membuktikan jika semua akan baik-baik saja." tuturnya penuh permohonan.


Tentu saja sebagai ibu, Aileen sangat syok mendapati perlakuan sang anak yang tidak masuk akal menurutnya. Seorang Kalyan Fin Osmon rela berlutut demi gadis tengil seperti Adina yang hanya kotoran ujung kuku menurut Aileen.


Di belakang sana, Leo menganggukkan kepalanya. Patut ia percaya jika cinta begitu memiliki kuasa yang besar atas diri seseorang. "Ahahaha...kau benar-benar ajaib Adina. Tidak sia-sia Kakek mempertemukan kalian. Bahkan sepertinya usahamu hanya sedikit namun mampu menggetarkan perasaan Kalyan." batin pria tua yang terkekeh dalam hati sembari memperhatikan pertunjukan sedih di depan sana.


Bibir Aileen seolah membeku. Ia terharu sekaligus sangat kesal. Terharu karena bagaimana pun cintanya sang putra, Kalyan masih mengharapkan restu darinya. Sedangkan rasa kesal yang membuncah dalam dadanya kala membayangkan jika ia akan memiliki menantu yang sangat menjengkelkan kelak.


"Oh...Tidak!" seketika Kalyan terkejut mendengar teriakan sang mommy.


Rupanya Aileen tengah melamun, ia membayangkan saat membawa Adina pergi arisan bertemu dengan teman-temannya. Dan tingkah Adina yang bar-bar serta penampilan yang tidak bisa berubah membuatnya bergidik ngeri.


"Kalyan, mommy mohon Nak...jangan dengan dia. Banyak yang lain, banyak yang lebih darinya. Gadis itu serba kekurangan. Hanya wajah saja yang menjadi lebihnya. Apa kau tidak memikirkan nasib Mommy, Kal?" pertanyaan Aileen seketika itu juga mendapat pertanyaan balik dari Kalyan.

__ADS_1


"Apa mommy tidak memikirkan nasib Kalyan? Selama ini selalu saja merasa tidak pernah cocok pada wanita yang mommy sodorkan. Tapi ketika Grandpa sekali memberikan, Kalyan langsung yakin Mom, jika Dina gadis yang tepat untuk Kalyan. Bagaimana jika setelah ini, Kalyan memilih untuk tidak menikah dengan siapa pun? Apa mommy rela?"


Bak terkena serangan jantung. Aileen seketika terdiam membisu. Ia sangat takut jika benar hal itu terjadi pada anaknya.


Beberapa saat bungkam, Leo akhirnya bergerak mendekati dua manusia di depannya.


"Aileen, Papah mohon restumu adalah hal yang paling di tunggu Kalyan. Kasihan dia, teman-temannya sudah banyak yang menikah, apa kau tidak malu jika nanti teman-teman Kalyan memiliki cucu, justru anakmu masih mencari istri? Atau...kau ingin memiliki cucu dari panti asuhan? Kalau benar begitu, Papah punya beberapa calon anak yatim piatu yang bisa kita adopsi."


Mata Aileen semakin membola. "Papah, bicara apaan sih?" sentaknya marah mendengar penuturan panjang lebar dari sang papah yang membuatnya benar-benar tidak habis pikir.


Ada senyuman bahagia di wajah tampan pria itu. Tanpa perduli kemarahan di wajah sang mommy.


Leo pun juga ikut tersenyum di sana. Sebentar lagi akan memilik calon cucu menantu seperti Adina.


Di tempat yang berbeda, sudah sering terjadi meja makan di kediaman Candra lagi dan lagi kosong tempat duduk yang selalu menjadi posisi tetap seorang gadis cantik satu-satunya.

__ADS_1


"Sudah, jangan khawatir. Anak kita sedang ada pekerjaan. Rod sudah memberi tahu pada Ayah." terang Candra tak ingin membuat sang istri terus mengkhawatirkan sang anak yang sering tidak pulang.


Ia sendiri juga tidak mengerti apa yang di kerjakan sang anak di luaran sana. Meski di rumah itu Candra sebagai pemimpin keluarga, namun Adina tidak pernah patuh akan perintahnya. Besar tanpa sosok seorang ibu membuatnya menjadi gadis pemberontak dan liar.


Sekali lagi, seluruh pergerakan perusahaan di bawah kendali Adina, perusahaan yang hampir terjebak beberapa kali dan berkat pertolongan Adina, membuat Candra benar-benar berada di bawah kedudukan sang putri yang sangat cerdas.


"Tapi, Ayah...Bagaimana jika di luar sana ada yang berbuat buruk dengan anak kita? Adina seorang gadis tidak akan mampu melindungi dirinya jika seorang lelaki berbuat nekat, Ayah." tuturnya lemah lembut dengan wajah sedih.


Selvi yang mendengar begitu Maya mencemaskan sang keponakan tersenyum dan menggenggam tangannya erat. "Anakmu gadis yang kuat. Adina tidak akan mampu tertandingi oleh siapa pun, May. Kecuali..." ucapan Selvi menggantung mengingat satu orang yang begitu mampu mengalahkan sosok Adina.


"Kecuali apa, Selvi? Katakan! jangan membuatku cemas lagi." sahut Maya menatap dalam sang kakak.


"Pria yang tidak mungkin melukainya, ia adalah guru bela diri Adina." terang Selvi mengingat curhatan sang keponakan mengenai sisi lemahnya dari seorang pria.


Malam yang semakin larut, kini terasa begitu dingin. Ketika angka di jam telah menunjukkan pukul 23.40. Hening, semua sudah mulai mengistirahatkan diri di dalam barak yang terbagi beberapa puluh orang dalam satu ruangan tanpa alas apa pun. Hanya papan yang sangat terasa menyentuh tulang tubuh.

__ADS_1


Tanpa ada yang tahu jika di sela papan yang tidak begitu tertata rapat ada empat pasang mata yang tengah menikmati tubuh seorang gadis.


__ADS_2