Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Maya Rapuh


__ADS_3

Hari yang begitu menegangkan kini terdengar suara tepukan tangan yang meriah di kantor Caya Group dan beberapa perusahaan yang juga ikut berinvestasi pada perusahaan tersebut.


“Selamat. Akhirnya perusahaan Caya Group kembali menduduki tempatnya.” ujar salah seorang pria sembari menghela napas lega.


Begitu pun dengan karyawan lainnya. Mereka turut mengusap peluh di keningnya saat merasakan ketegangan beberapa saat lalu.


“Tuan,”


“Tuan,”


Hanya anggukan kepala yang Candra berikan saat melewati para karyawan menuju ruangan sang anak di lantai teratas.


Langkah kakinya begitu tegas mendekat hingga kini tiba di depan pintu ruangan.


Sebelah tangan pun ia ayunkan untuk mengetuk daun pintu yang tertutup rapat.


Tok…


“Maaf, Tuan. Nona sudah pergi baru saja.” ucap sang sekertaris Adina yang menghentikan aksi Candra mengetuk pintu tersebut.


Sontak Candra mengerutkan keningnya. “Pergi? Saya tidak melihatnya.” tanya Candra dengan bingung.


“Barusan Nona melewati tangga darurat, Tuan. Mungkin karena liftnya di rasa begitu lambat makanya Nona lewat pintu darurat.” paparnya panjang lebar dan hal itu mendapat anggukan paham dari sosok Candra.


“Yasudah,” sahutnya menggelengkan kepala.

__ADS_1


Pria paruh baya itu pun kembali menuju lantai dasar untuk pergi ke suatu tempat. Selama menuruni gedung tersebut kepalanya menggeleng.


“Apa aku salah gaya waktu membuat anak itu? Bahkan tenaganya menuruni tangga sangat kuat. Adina…Adina huh.”


Seperti yang di katakan sang sekertaris, kini sosok gadis cantik dengan sepatu boots sudah menginjak gigi motor besar yang melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan raya yang sangat padat.


Lajunya kendaraan roda dua tersebut tak membuat Adina mengurungkan niatnya untuk kembali ke rumah saat merasakan jaket kulit miliknya tertetes dengan rintik hujan.


Satu persatu rintik hujan mulai membasahi jalanan sore itu. Langit yang cerah perlahan pun mulai semakin gelap.


Tarikan gas semakin ia putar lebih ke bawah lagi, tentu tak ada yang bisa menandingi lajunya motor besar kesayangan Adina.


Kiri kanan jalanan terus ia kuasai untuk menyalip beberapa kendaraan yang bergerak tidak begitu laju. Hingga beberapa saat, gadis cantik itu pun tiba di halaman rumah yang lebar.


Sebuah gerbang baru saja tertutup usai di buka untuk sang majikan.


“Minggir!” Adina acuh dan hendak melewati semua yang berdiri di depan pintu.


“Adina…biarkan Bunda-“


“Tolong minggir, saya mau cepat-cepat bersiap.” ucapnya dingin.


Tubuh Adina berusaha melewati posisi sang bunda, namun naas Maya yang sudah lebih cepat mencengkeram lengan sang anak terjatuh karena hempasan kasar dari Adina.


“Ah!” Terdengar suara rintihan.

__ADS_1


“Nyona!” seru beberapa pelayan yang terkejut.


Wajah pucat, mata berair tiba-tiba tertangkap bola mata milik gadis itu. Adina berhenti melangkah. Ia menoleh menatap sang bunda yang tak bergerak lagi di lantai.


“Bunda…” lirih Adina syok melihat apa yang terjadi pada Maya.


“Minggir!” Ia berteriak meraih kepala sang bunda dan memangkunya.


Adina mengecek belakang kepala sang bunda. Tak ada darah atau apapun di sana. Secepat kilat ia menggendong tubuh berisi itu dan menuju salah satu mobil yang ada di garasi.


“Non, biar saya supirin.” Sang supir berlari menghampiri Adina.


Adina berpikir sejenak. “Sudah jangan. Biar saya yang nyetir. Panggil salah satu dari mereka buat pangku bunda.”


“Bunda, sabar Bunda. Kita ke rumah sakit sekarang.” Adina bersuara memberi semangat sembari menyetir mobil dengan setengah panik.


Mobil melaju begitu cepat menuju rumah sakit terdekat.


Sedang di kediaman, Candra baru saja tiba dengan supir pribadinya. Keningnya mengernyit heran melihat beberapa pelayan berhamburan di halaman rumah megahnya.


***


Di sisi yang berbeda tampak sosok pria tampan yang tersenyum puas dengan hasil kerja kerasnya.


Ia mengetik sebuah pesan kembali pada ponsel kesayangannya.

__ADS_1


“Aku harap malam ini janji yang sudah beberapa hari terlupakan bisa di tepati lagi. Makan malam romantis seperti sebelumnya. Jika tidak, pernikahan akan di percepat satu hari dari waktu yang di tetapkan.”


Itulah pesan dari sang Kalyan pada Adina.


__ADS_2