Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Kepanikan Adina


__ADS_3

Aileen seperti biasa akan tetap dengan kegigihan keras kepalanya. Melihat kaki sang anak hendak melangkah ke samping untuk menghindarinya, Aileen secepat kilat melangkah ke samping. Ia jelas melihat bagaimana Kalyan membuang kasar napasnya.


"Momm,"


"Kalyan," keduanya sama-sama memanggil nama seolah memberi peringatan.


Jika mungkin di depannya bukanlah wanita yang sudah melahirkan dirinya ke dunia, mungkin Kalyan sudah mencekik leher wanita itu.


Bagaimana caranya ia menyingkirkan sang mommy agar tidak menghalangi waktu makan siangnya bersama dengan Adina. Tentu waktu yang tidak banyak untuk keduanya.


"Kalyan, waktu ku tidak banyak." Adina berucap memperingati sang pria.


Aileen seketika memutar jengah matanya mendengar itu. "Kau pikir kau siapa? Hah! Wanita yang tidak punya pekerjaan yang taunya hanya pergi pagi pulang pagi. Dasar." maki Aileen kembali meremehkan Adina.


Tak merespon, justru Adina melepaskan genggaman tangan Kalyan dan mengangkat tangannya bersedekap dada. Senyuman ganjil ia tunjukkan pada wanita yang tak kalah keras kepala darinya.


"Dina, ayo." Saat melihat lengah sang mommy, Kalyan berjalan cepat menyerempet dan membawa Adina masuk ke dalam mobil miliknya.


"Kalyan," Suara Adina saat mereka sudah berada di dalam mobil.


Kalyan yang berada di sampingnya menoleh cepat. "Iya, Din." sahutnya lemah lembut tak ada nada dingin seperti awal mereka bertemu.


"Syarat untuk bertunangan boleh aku tambah satu dan ajukan saat ini?" tanya Adina lagi.

__ADS_1


Keduanya saling menatap dalam. Sementara di depan sang sopir sudah fokus menyetir mobil membawa dua manusia yang saling berusaha menata hati mereka menuju restoran siang itu.


"Katakanlah," Kalyan.


"Aku tidak ingin ibumu terus seperti itu. Karena aku khawatir di tengah hubungan kita, kau akan mendapatkan pilihan antara aku dan ibumu. Bagaimana pun caranya aku tidak mau tahu." sahut Adina seolah dirinya lah yang benar-benar mencuri hati Kalyan.


Padahal nyatanya, gadis itu yang jauh lebih dulu menginginkan pria tampan tersebut. Dan saat ini semua seolah terbalik. Kalyan harus berjuang keras untuk mendapatkan dirinya.


"Akan segera, tenanglah. Kau hanya harus fokus mempersiapkan diri untuk menjadi istriku. Ingat itu, Dina." tutur Kalyan yang begitu ambigu.


"Persiapkan dirimu menjadi wanitaku, aku juga akan mempersiapkan segalanya untukmu. Sekali pun pada mommy ku."


Keheningan kembali tercipta, hingga mereka tiba dan makan siang pun tak ada perbincangan sama sekali. Selesai dengan makan, Kalyan segera mneyodorkan berkas untuk Adina tanda tangani.


Apartemen. Satu tempat yang paling nyaman untuk keduanya saling melepas rindu.


Sofa panjang yang sangat empuk dengan desain mewah harus rela menjadi alas bagi dua tubuh yang saling berpelukan. Tak ada yang sadar bagaimana awal mulanya. Yang jelas kini dua bibir merah sudah saling menyatu. Sebatas itu, yah Adina memang hanya berani dalam sebatas bibir tanpa ada embel-embel lainnya.


Tatapan mata Kalyan yang semula tampak teduh berubah semakin kecil dan tampak sendu. Ada rasa yang bergejolak dalam tubuhnya saat itu juga.


Tangan besar Kalyan bahkan sudah bergerak menekan tengkuk Adina saat ini untuk memperdalam aksi mereka.


Tring! Tring! Tring! Tiba-tiba saja deringan ponsel terdengar menghentikan kegiatan panas keduanya.

__ADS_1


"Maaf," ucap Adina melepaskan pelukan dan merogoh ponselnya.


"Halo,"


"Ketua, gawat. Barak kita di serang dengan banyak orang. Mereka semua lengkap dengan senjata." suara teriakan dan keributan pun terdengar jelas di telinga Adina.


Manik mata Adina yang berkabut gairah saat itu seketika membulat penuh keterkejutan. "Amankan semuanya, aku kesana sekarang." Adina berteriak tanpa bisa mengendalikan suaranya lagi.


Secepat kilat ia meraih tas ransel dan berlari keluar. Tak perduli bagaimana Kalyan menarik tangannya, Adina menghempas kasar dan menuju tangga darurat apartemen tersebut.


"Dina!" teriak Kalyan di ambang pintu apartemen.


Tak ada lagi sosok gadis yang ia selalu rindukan. Adina pergi tanpa sepatah kata pun.


"Apa yang terjadi?" tanyanya pada diri sendiri.


"Tidak, ini tidak bisa di biarkan. Aku harus membantunya jika sampai terjadi apa-apa padanya." batin Kalyan bermonolog.


Benda pipih yang tergeletak di atas nakas ruangan tengah apartemen menjadi sasaran Kalyan saat ini. Ia menelpon nomor seseorang.


"Siapkan heli sekarang juga." titahnya.


"Siap, Tuan." sahut pria di seberang telepon kala mendapat perintah dari Kalyan, cucu pertama Leonardo Osmon.

__ADS_1


__ADS_2