Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Kemarahan Adina


__ADS_3

Wajah tampan yang cerah seketika berubah kaku melihat sosok di ambang pintu yang baru saja terbuka.


"Kalyan, ayo makan siang bersama." ajak seorang pria yang baru saja datang menghampirinya di ruang kerja.


Tanpa di sadari raut wajah masam sang anak mengartikan sebuah kekecewaan. Helaan napas kasar pun ia keluarkan.


"Ternyata Daddy..." tuturnya lemas menyandarkan tubuh pada sandaran kursi kerjanya.


"Hei ada apa dengan wajahmu?" tanya Brandon.


"Em, tidak Dad. Daddy ingin makan siang? ayo kita pergi, Dad." kedua pria itu melangkah keluar dari ruangan menuju lift perusahaan.


Tak lama setelah perjalanan singkat, di sinilah kedua anak dan ayah itu tengah menunggu pesanan makan siang mereka. Tepatnya di sebuah restoran ternama yang tak jauh dari kantor tempat mereka mengabdi.

__ADS_1


Sepasang manik mata milik Kalyan beberapa kali melirik ke sana kemari tak lama melirik ponsel yang ia ambil dari dalam saku celana. Semua nihil, harapan akan bertemu tiba-tiba dengan Adina tidak membuahkan hasil sama sekali.


"Kalyan, apakah kau sudah mendapatkan kabar dari gadis itu?" tanya Brandon tiba-tiba yang membuat kening Kalyan mengkerut bingung.


Siapa gadis yang di maksud sang daddy selain Adina. "Siapa, Dad? memang ada apa? mengapa Daddy menanyakannya?" tanyanya beruntun.


Perasaan Kalyan semakin berantakan. Kini ia akhirnya mendapatkan celah untuk membahas gadis yang mulai pagi, bukan. Lebih tepatnya mulai semalam membuat jantungnya begitu dag dig dug.


"Mommy kamu semalam sudah memberinya pelajaran. Kau tahu kan bagaimana kerasnya wanita tua itu. Daddy bahkan sudah memberinya peringatan." Bohong jika ia berkata seperti itu. Sejak kapan Brandon berani melawan arah pemikiran sang istri.


Besar kemungkinan Adina tidak datang padanya karena ulah sang mommy, begitu pikir pria tampan itu. Sampai sang daddy pun menceritakan semuanya dan membuat Kalyan lega sekaligus tidak percaya mendengar jika gadis cantik yang sempurna di matanya itu bisa ilmu bela diri yang sangat ahli.


"Adina...jika benar kau tidak terluka, mengapa kau tidak datang? Apa kau kecewa dengan sikap penolakan mommy ku? tidak seharusnya aku mempertahankan rasa gengsi ku seperti ini. Yah aku pria, tidak semestinya aku seperti itu padanya." Berbagai pertanyaan menyinggahi pikiran Kalyan saat itu.

__ADS_1


Hingga siang terlewatkan dengan begitu banyaknya prahara yang terjadi, hingga malam pun kembali hadir menyapa sang pria yang baru saja ingin bergegas pulang setelah menyiapkan keperluan yang akan ia bawa kembali ke apartemen. Berniat untuk melanjutkan pekerjaannya di apartemen nanti.


"Tenang, aku yakin malam ini setelah tiba di apartemen aku pasti akan di suguhkan dengan aroma masakan yang lezat-lezat seperti kemarin." Kalyan kembali mencoba berpikiran positif meski pikiran dan keyakinannya tidak sejalan.


Keyakinan pria itu jika Adina tidak akan datang padanya lagi. Namun, pikirannya positifnya mencoba untuk menenangkan diri.


"Jika di apatemen nanti, aku apa harus langsung tersenyum padanya saat melihat masakan yang ia masak? Atau aku masih berpura-pura dingin saja seperti kemarin malam?" Kini di perjalanan pulang, Kalyan sudah mempersiapkan diri untuk bertemu dengan sang pujaan hati.


"Tidak. Itu terlalu biasa. Apa harus lebih romantis dengan memeluknya dari belakang dan bertanya apa saja yang dia lakukan seharian ini hingga bisa tahan tidak merindukan aku? Astaga itu sangat menjijikkan. Dia gadis tengil, tidak akan mengerti sikap romantis seperti itu."


"Tapi...tidak mungkin juga kan setiap bertemu dengannya aku harus mencium bibir gadis itu dengan tiba-tiba. Yang ada dia akan pikir aku pria penggila dua satu plus lagi."


Tanpa ia tahu jika gadis yang ia pikirkan saat di perjalanan itu, kini tengah menikmati setiap keringat yang bercucuran di tubuhnya. Gerakan pukulan yang ia layangkan sangat terlihat penuh emosional kala meninju samsak yang bergelatung di depannya.

__ADS_1


"Pukulan yang bagus itu. Seperti banyak mengandung arti dalam setiap pukulannya." suara seorang pria tentu saja mengejutkan Adina yang hampir melayangkan tinju untuk kesekian kalinya.


Gadis itu pun kembali menoleh dan menaikkan sebelah alisnya menyadari siapa pria yang datang mendekat dari arah belakangnya.


__ADS_2