
"Kamu!" Adina begitu sangat terkejut melihat kehadiran pemilik kamar yang ia pakai untuk membersihkan tubuhnya kala itu.
"Kenapa cepat banget pulangnya?" pertanyaan Adina pun membuyarkan lamunan Kalyan yang menatap tubuhnya begitu intens.
Pria tampan itu menggelengkan kecil kepalanya kemudian berdiri dari duduknya. "Justru aku yang bertanya kamu mengapa di kamar ku? Dan apa itu menggunakan handuk milikku. Bagaimana jika ada penyakit kulit di tubuh kerempeng itu?"
Perdebatan absurd dari keduanya terus berlanjut meski Kalyan beberapa kali menatap bagian dada yang tertutup handuk wanita cantik di depannya.
"Tutup mulutmu! Dan keluar dari sini!" Hardik Adina mendorong tubuh tinggi Kalyan serta menutup kasar pintu.
Wajah yang biasanya terus tersenyum receh kini tampak begitu galak. Di depan pintu kamar, Kalyan mengerjap tak menyangka.
"Ini apa tidak terbalik? Siapa pemilik kamar itu sebenarnya?" gerutunya menyadari jika ia yang pemilik kamar justru terusir dari orang asing.
Usai dengan aktifitas berganti pakaian, Adina membuka pintu dengan wajah segar dan cantik natural. Malam yang temaram itu kini membuatnya sangat menggoda sosok pria yang hampir terlelap di depan meja makan menunggunya.
"Maafkan aku. Ayo kita makan. Kau pasti lelah bekerja." Adina tersenyum menyendokkan nasi dan lauk pada piring sang pujaan yang menatapnya setengah geram.
__ADS_1
Dalam batin Kalyan bergumam kesal, "Untung cinta." begitu katanya.
Suasana pun hening kala keduanya menikmati makan malam dengan tenang. Tanpa terasa waktu sudah begitu larut menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Apartemen pun kembali bersih dengan piring yang sudah tertata bersih kembali. Adina tak meninggalkan jejak kotor di dapur maupun di meja makan.
Berharap pria yang ia layani makan barusan tidak lagi dingin padanya.
"Aduh semua sudah selesai. Mengapa aku bingung selanjutnya?" batin Kalyan menatap punggung yang membelakanginya di dapur tersebut.
"Aku..." Adina membalikkan tubuhnya dan melihat tak ada sosok pria yang bicara padanya barusan.
Mata gadis itu mencari-cari namun nihil. Bibirnya maju ke depan sebal. "Sebenarnya dia itu niat atau tidak sih menyuruhku di sini? Bicara lalu pergi, dasar." gerutunya menghempaskan kain lap dapur yang baru saja ia gunakan untuk membersihkan sisa percikan air.
Dua kamar yang bersampingan sama-sama menampakkan mata yang masih belum juga terlelap. Adina mau pun Kalyan begitu gelisah malam itu.
Di kamar sebelah, tampak gadis itu berbalas pesan dengan seorang Leonardo dimana merupakan sponsor yang mendukung hubungannya dengan sang cucu tampannya.
__ADS_1
"Kakek, malam ini aku menginap di apartemen cucu tampanmu. Tidak apa-apakan?" begitu pesan yang ia kirim pertama kali.
Tanpa menunggu lama, pesan Adina pun terbalas. "Adina, kau tidak meminta ijin dulu pada Kakek. Bagaimana jika cucu laknatku itu mengganggumu tengah malam?" emoticon terkekeh di akhirnya.
Adina membalasnya kembali. "Bukankah itu justru bagus Kek? Eh bercanda. Kakek lupa kalau aku tidur dengan keadaan siap siaga. Mana berani dia." ujarnya hingga beberapa kali pesan mereka terus berbalas dengan penuh candaan.
Sungguh kedekatan keduanya begitu terlihat sangat akrab. Berbeda halnya dengan Kalyan dan sang Kakek yang begitu canggung.
Tak sadar, hingga Adina mulai meletakkan ponsel di bawah bantalnya seperti kebiasaan sebelum-sebelumnya. Mata yang semula cerah pun kian meredup. Dan suara dengkuran halus mulai berubah menjadi suara ngorok yang sangat merdu memenuhi kamar yang luas.
Di sini, mata tajam pria berubah haluan menatap pintu kamarnya. "Apa gadis itu sudah tidur yah? Hah rasanya aku sangat sulit tidur jika ada dia di dekatku. Bernapas pun rasanya begitu sulit. Bahkan..." Tangannya meraba bagian dada.
"Jantungku berdebar seperti ini, bagaimana aku bisa tidur?"
Secepat kilat. tampak tangan kekar melingkar sempurna di pinggang ramping bak pinggang pasca operasi yang sangat sempurna lekukannya. Tenang, sungguh begitu meneduhkan jiwa dan raga memeluk tubuh sosok gadis yang selalu membuat harinya gelisah.
Tak ada yang tahu jika wajah cantik yang mengorok tengah menahan senyuman smirk. "Hangatnya tiada tara." ucapnya dalam hati.
__ADS_1