Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Suami?


__ADS_3

“Dina, mau kemana kamu?” Kalyan yang penasaran tentu segera menghalangi langkah gadis itu yang hendak melewatinya.


“Aku ada urusan. Pulanglah.” ketus Adina mendorong kasar tubuh kokoh Kalyan.


Melihat kelakuan sang anak dari kejauhan, tentu Candra berlari cepat mendekat. “Ayah tidak pernah mendidikmu seperti itu, Adina.” tuturnya tak habis pikir melihat Kalyan di acuhkan.


“Ayah, maaf. Adina benar-benar buru-buru. Biarkan Adina pergi.” Secepat kilat ia berlari menuju tempat motor miliknya terparkir dengan sempurna.


Semua mata yang berada di pintu utama hanya terdiam menatap kepergian gadis dengan motor besar melaju setelah di bukakan gerbang oleh security.


“Itu motor dari mana sebenarnya? Hari-hari ada saja pria yang mengantar motor, mobil entah apa kerjaan anak kita Ayah?” Maya mengeluh melihat semua orang di lingkungan luar anaknya yang sangat asing menurut wanita paruh baya itu.


“Ibu, Bapak tidak usah khawatir. Saya yakin Dina wanita yang bijak. Dia tahu mana yang baik untuknya. Apalagi jika menyangkut urusan teman kerjanya.” bela Kalyan.

__ADS_1


Maya mendengar itu hanya bisa menghela napasnya kasar. “Masalahnya saya dulu tidak seperti itu, Nak Kalyan. Takutnya nanti kamu akan takut dengan anak kita yang berandalan itu.”


Tak merespon, justru Kalyan hanya tersenyum kecil. Menurutnya mungkin akan sangat sulit membuat mommynya menyukai sang gadis. Sebab ibu Adina sendiri pun memandang anaknya seperti itu dengan menyebut berandalan.


“Oh iya apa sudah sarapan? Kalau belum ayo kita sarapan bersama.” Candra mengajak sang calon menantu masuk ke dalam rumah.


Tak enak hati jika harus menolak. Akhirnya Kalyan pun pasrah.


Mengerti dengan tatapan Kalyan. Maya segera membuka suara. “Oh itu…Ibu siapkan semua keperluan Adina biar dia tidak kesusahan. Kasihan dia pasti kelelahan setelah jarang pulang ke rumah.”


“Justru yang kasihan mereka, Bu. Adina bahkan tak mau menerima pelayanan mereka.” sahut Kalyan terkekeh santai.


Senyumannya begitu menawan. Bahkan beberapa pelayan yang tak sengaja melihat terkesima dengan ketampanan pria tersebut.

__ADS_1


“Yah itu sudah sering di bicarakan dengan Ibu mu ini, Nak. Tapi begitulah dia terlalu ingin menunjukkan sayangnya pada anak gadisnya jadi tidak perduli jika sudah di larang ratusan kali.” sela Candra ikut mengisi perbincangan ringan pagi itu.


Sedang di tempat yang berbeda. Adina sudah bertemu dengan salah satu anggota yang tak lagi bekerja dengannya. Tepatnya di depan gedung perusahaan milik Leonardo yang kini berada di kendali Kalyan.


“Ketua, maafkan kami. Kami tidak bermaksud berkhianat…” pria itu menunduk takut karena Adina akan marah padanya.


“Sudahlah. Aku kesini hanya ingin memastika kalian benar-benar baik-baik saja. Ku pikir dia hanya omong kosong padaku. Kau tidak perlu seperti itu. Semua sudah terlanjur hancur. Lagi pula misi kita sudah di ambil alih oleh yang lain.” terang Adina enggan menatap pria di depannya.


“Ngomong-ngomong kau tampan juga dengan seragam baru itu. Biasanya tidak pernan memakai baju.” celoteh Adina terkekeh.


Pria dengan kepala pelontos itu menunduk takut tanpa berani menatap gadis cantik di depannya. “Sekali lagi maafkan kami Ketua. Karena menerima pekerjaan ini. Kami pikir ini semua perintah anda pada suami anda.”


Seketika Adina mengerutkan kening. “Apa? Suami? Siapa yang menikah?”

__ADS_1


__ADS_2