Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Kejutan Dari Adina


__ADS_3

Kini langkah jenjang beberapa orang tersebut telah berakhir di tanggan terakhir paling atas, Kalyan tengah menatap sejenak lalu membungkukkan sediti kepalanya pada sepasang suami istri di depan pintu yang sama sekali tidak bersuara.


Mata bungkam, sedang Candra bergetar bibirnya kala berusaha ingin bertanya ada apa sebenarnya.


“Selamat pagi, Tuan.” Begitu sapa Kalyan terdengar pada Candra.


Beralih, mata pria tampan itu menatap manik mata Maya. “Nyonya, saya Kalyan Fin Osmon cucu pertama dari Tuan Leonardo Osmon.” terangnya memperkenalkan diri.


Leo pun ikut melangkah bersiri tegap di samping sang cucu. “Tuan Candra,” sapanya hangat sembari tersenyum. Sontak Candra menyadarkan dirinya dan menyodorkan tangan untuk berjabat tangan.


Di balik keterkejutannya, ada yang jauh lebih terkejut. Yaitu Aileen dan seluruh keluarganya termasuk Kalyan, kecuali Leo.


“Rumah siapa ini? Tidak mungkin gadis tengil itu kan? Atau ini rumah majikannya?” Isi pikiran Aileen sama seperti sang ipar saat mobil yang membawa mereka berhenti di depan halaman yang tampak indah dan megah.


Beberapa pelayan yang hilir mudik semakin membuat dua mulut wanita itu menganga tidak percaya. “Cih, menantumu seorang pelayan di sini ternyata. Tapi setidaknya walau pun hanya pelayan, pasti mereka akan di didik dalam berucap dan berperilaku. Tidak seperti gadis pilihan Putramu.” cibir sang ipar yang membuat emosi Aileen naik pitam seketika.


Semua keluarga Leo di persilahkan masuk ke dalam oleh Selvi yang tentu tahu maksud tujuan keluarga tersebut saat melihat hantaran ajaib. Yah tentu ajaib, dalam satu malam seluruh pekerja di kediaman Leo terpaksa di bangunkan demi memenuhi perintah sang tuan muda.


“Bangun, dan hubungi seluruh store untuk mempersiapkan kebutuhan gadisku. Semuanya tanpa ada yang terlewatkan.” Begitu perintah Kalyan kepada kepala pelayan malam tadi.

__ADS_1


Sebagai pria, ia tidak tahu apa saja kebutuhan wanita. Oleh sebab itu ia meminta sang pelayan untuk membantunya.


Di ruangan keluarga, semua duduk dengan posisi tegap. Leo sebagai pria yang paling tertua di keluarganya menyatakan maksud kedatangannya pagi itu.


“Tuan Candra, kami meminta maaf jika datang di pagi-pagi seperti ini tanpa membuat janji terlebih dulu dengan kalian. Saya harap kedatangan kami tidak mengganggu anda dan keluarga.” ujar Leo pada Candra, Maya, dan juga Selvi.


Candra tersenyum. “Tidak. Tidak mengganggu sama sekali, Tuan Leo. Namun, kami sangat kaget tapi itu bukan suatu masalah hehe…” Candra berusaha berucap sesantai mungkin meski sebenarnya ia sangat kaget dan bingung.


Tak lama setelah mereka berbasa-basi, tiba-tiba saja terdengar kembali suara dari ambang pintu. “Permisi,” ucap salah satu pria diantara beberapa pria yang datang.


Semua barang kosmetik pakaian dan seluruh kebutuhan dunia perwanitaan lengkap tertata di kotak kaca itu.


“Kami berniat melamar Adina untuk Kalyan, cucu pertama kami, Tuan.” Ucapan Leo membulatkan semua mata yang mendengar.


“Apa? Melamar Adina dengan Tuan Candra? Siapa mereka? Dan siapa Adina?” Pertanyaan Kalyan yang begitu membuatnya penasaran.


“Melamar Adina, anak kami?” Candra gugup sedang Maya sangat kaget mendengar hal itu. Pasalnya ia tidak tahu jika ada pria yang mau seserius ini dengan anak gadis yang sangat sulit di kendalikan itu.


“Anak kalian?” Sontak Aileen dan sang ipar bersuara tidak kalah terkejut mendengar gadis bentuk Adina ternyata anak dari seorang konglomerat.

__ADS_1


Banyak yang tidak tahu tentang siapa Candra dan bagaimana profil pria itu serta keluarganya. Menjadi pembisnis kelas atas membuat ia memutuskan untuk merahasiakan segala hal yang berkaitan dengan keluarganya.


“Aileen, kendalikan dirimu.” Tegur Leo bersuara pelan namun penuh penekanan.


Aileen terdiam kembali. Sungguh ia sepertinya akan mendapatkan banyak kejutan di hari-hari berikutnya.


“Adina dan Kalyan sudah berkenalan. Dan hanya menunggu keputusan dari Kalyan. Oleh sebab itu kami datang ke sini, Tuan Candra. Niat kami ingin melanjutkan hubungan cucu kami dengan anak anda lebih ke jalan serius.” ujar Leo namun ia justru salah fokus kala melihat arah mata Kalyan yang bergerak kesana kemari.


“Dimana gadis itu? Bahkan pagi buta seperti ini aku datang agar bisa melihatnya. Semalam ia bahkan tidak bertemu denganku.” batin Kalyan mencari sosok sang pujaan.


“Terimakasih. Pergilah, aku ingin istirahat.” Teriakan suara gadis yang jelas siapa pemiliknya membuat seluruh keluarga yang berada di ruang tamu menatap ke arah pintu utama mansion tersebut.


Punggung seorang gadis tampak jelas berbalut dengan baju kaos yang ia gantung di kedua pundaknya.


Sepatu boots tali selutut serta celana berhiaskan banyak saku sangat pas di kaki jenjang gadis cantik yang berwajah penuh keringat serta beberapa kotoran di kening dan pipinya.


Adina menoleh saat semua mata tengah sibuk memandangi punggung tubuhnya yang tegap.


“Nona, biar kami bawakan semuanya.” Beberapa pelayan yang menyadari kehadiran Adina seketika berlari mendekat. Sudah tak kaget lagi jika melihat penampilan sang nona seperti ini. Bagi mereka ini hal yang biasa.

__ADS_1


Satu pelayan membawakan kursi, satu pelayan membawakan jubah, satu pelayan melepaskan sepatu, satu pelayan membawakan beberapa pembersih wajah. Semua mereka lakukan di depan pintu sebelum Adina berjalan masuk.


“Jangan terkejut. Seperti itulah istrimu, Kalyan.” ujar Leo menepuk pelan pundak sang cucu yang memperhatikan sang gadis di depan sana. Sungguh tak pernah ia duga jika ternyata Adina tidak berada di rumah juga semalam.


__ADS_2