
Kini kembali cerita pada sosok gadis yang tengah berpakaian rapi di dalam kamar yang sangat luas. Berbagai macam pakaian sudah bergantungan di beberapa tangan pelayan pagi itu. Namun, sesuai dengan keinginannya untuk tetap memakai kaus oblong polos dengan jaket hitam miliknya. seperti biasa, rutinitas yang tak terlewatkan untuk seorang Adina Auristela.
Satu-satunya anak dari pasangan Candra Klay Dharmendra dan Maya Caroline yang sangat sulit di atur. Jika di luar sana kebanyakan anak gadis akan dengan senang hati memimpin perusahaan dengan segala gaya elegannya. Berbeda dengan Adina, yang memilih menyembunyikan jati dirinya.
"Nona, ini pakaian terbaru yang baru selesai di desain oleh sekertaris Nyonya." tunjuk salah seorang pelayan di antara enam pelayan yang sama berdiri menunjukkan banyaknya model dress bergantung di hanger.
Manik mata Adina memutar malas kala melihatnya. "Maaf aku telah menyusahkan pekerjaan kalian. Biarkan aku sendiri yang bicara dengan Bunda untuk tidak mendesainkan aku pakaian lagi." tuturnya memilih melangkah pergi dari dalam kamarnya.
Kepala pelayan pun menganggukkan kepala pada pelayan lainnya seolah memberi perintah jika mereka semua harus keluar setelah meletakkan pakaian baru bermerk itu di dalam lemari pakaian yang sudah sesak dengan gantungan baju baru.
Tak ada satu pun yang di pakai Adina dari sang Bunda. Ia selalu memakai pakaian yang ia beli di mall.
"Huh...membosankan setiap pagi selalu di hadapkan dengan desain baju yang membosankan. Bunda sangat boros sekali." gerutu Adina yang mengingat sudah berapa lama ia mengabaikan perhatian sang Bunda padanya hingga membuang berapa banyak uang untuk membuat baju yang sama sekali tidak ingin ia pakai.
__ADS_1
Kini rumah yang sangat megah itu memperlihatkan beberapa orang tengah menikmati sarapan di meja makan. Adina tampak acuh melangkah dengan tas ransel di pundaknya yang ia pegang sebelah tali dan satu talinya ia biarkan teronggok begitu saja di belakang.
Langkah gadis itu terhenti. "Adina!" panggil sang Ayah dengan tegas.
Adina memutar tumit dan menatap wajah sang ayah. Saat ini gadis itu sudah berdiri hampir melewati meja makan. "Iya, Yah." sahutnya singkat.
"Sarapan bersama. Kau akan bekerja seharian lagi. Tubuhmu bisa sakit, Nak. Kemarilah." Intonasi suara Candra Clay Dharmendra ia keluarkan selembut mungkin demi menyentuh sang putri yang super keras kepala.
"Apa tidak sebaiknya sarapan di sini dulu, Adina? Nanti siang Aunty bisa antarkan makan siang untukmu..." belum sempat Selvi Horase melanjutkan ucapannya, Adina menyela terlebih dahulu.
"Baiklah. Jika Aunty keberatan tak masalah." ketus Adina tanpa memandang wajah sang bunda yang menatapnya dengan tatapan tak bisa di artikan.
"Bisa. Aunty bisa. Nanti segera Aunty antarkan yah?" senyuman lembut terukir di wajah Selvi. Ia sudah sangat hapal watak sang keponakan selama ini.
__ADS_1
Hanya kesabarannya dan sikap keibuannya yang mampu membuat Adina cocok dengannya.
"Oh yah, Bunda. Ini terakhir kali Adina minta. Jangan membuang-buang uang untuk mendesain baju. Adina sama sekali tidak akan memakainya." ujarnya tegas menatap dalam sang bunda yang hanya terdiam.
"Nak, bundamu berniat baik padamu." bela sang ayah yang sangat paham akan jarak antar istri dan anaknya.
Mendengar penuturan sang ayah, entah mengapa darah Adina seketika mendidih. "Berniat baik? apa Bunda tahu risiko jika Adina berpenampilan seperti itu ke kantor? Adina tidak ingin menonjol Bunda. Adina nyaman seperti ini. Jika kalian terus memaksa seluruh hidup Adina, perusahaan itu terpaksa Adina lepas."
Suasana pagi yang cerah merubah suasana hati seisi rumah megah itu. Tatapan nanar dari kedua netra seorang Maya hanya bisa bergerak memandangi punggung sang putri yang sudah bergerak keluar rumah dengan langkah panjangnya.
"May...anakmu butuh sentuhan di hatinya. Cobalah bicara lembut padanya. Bukan hanya dengan sikap perduli saja. Cepat atau lambat dia akan menerima mu kembali. Aku yakin itu." ujar Selvi yang tidak sampai hati melihat kesedihan di wajah sang adik.
"Iya, benar kata Selvi. Semua butuh proses. Adina besar tanpa sosokmu, Sayang. Ayolah beranikan diri mendekat pada anak kita. Dia akan sangat lembut jika sudah menerimamu." Candra pun ikut membujuk sang istri yang tidak memiliki keberanian dekat dengan sang anak.
__ADS_1