Di Balik Sang Pewaris

Di Balik Sang Pewaris
Makan Malam Romantis kedua


__ADS_3

Malam begitu cepat menyapa, seperti janji yang ia katakan bahwa pagi dan malam akan datang menemui sang kekasih di apartemen miliknya.


Masakan kesukaan Adina justru yang ia hidangkan malam ini. Kepiting saos lada hitam serta tempe mendoan telah tersaji sempurna di meja makan.


"Oke, semua sudah siap. Makan malam romantis yang kedua kita mulai, Sayang." tuturnya mengukir senyuman indah di wajah cantik miliknya.


Usai memastikan semua siap terhidang, ia tak sengaja mengendus aroma bagian tubuhnya yang terasa bau masakan. "Em...bau acem. Duh dimana-mana makan romantis pasti cantik dan tampan. Ini malah bau asem."


Manik mata hitam miliknya berotasi tanpa sengaja tertuju pada kamar sang pujaan yang tampaknya tidak tertutup.


Di sisi yang berbeda seorang pria bertubuh semampai baru saja menekan remot kunci mobil mewah miliknya yang terparkir sempurna. Senyuman tak henti-hentinya ia tebar sejak ingin pulang dari kantor. Jelas, ia sangat menanti waktu pulang malam dan pagi sebelum berangkat.


"Permisi, Tuan." sapa salah seorang security menghampirinya.


"Dimana perlengkapan ku?" tanya Kalyan menengadahkan tangannya pada pria itu.


"Ini, Tuan." pria tersebut menyerahkan satu koper mini semua yang berisi perlengkapan mandi dan ganti Kalyan yang ia titipkan tadi pagi sebelum berangkat bekerja.

__ADS_1


Sungguh gila, begitu batin sang security melihat tingkah pria tampan yang melangkah menjauh darinya. Bahkan security itu sampai menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Punya apartemen tapi kok malah tinggal di apartemen lain lagi sih? heran memang seperti itu yah orang kaya bebas." ujarnya melangkah pergi setelah melakukan apa yang di perintah Kalyan. Tentu saja ada bonus yang sudah ia berikan saat bertemu tadi.


Jika Kalyan baru saja bersiap dengan setelan barunya, tak ada yang tahu jika sepasang mata tengah memata-matainya.


"Lapor, Nyonya. Tuan saat ini pindah di apartemen sebelah. Sedangkan gadis itu berada di apartemen Tuan." ujar pria yang tak lain adalah mata-mata dari Aileen.


Senyuman mengembang di wajah Aileen. "Bagus, sepertinya anakku memang sangat penurut. Dia bahkan menghindari gadis tengil itu. Bisa-bisanya mendatangi pria terus. Cih menjijikkan." gerutunya dan kembali menghubungi sang anak buah.


Tanpan ia tahu di dalam kamar salah satu unit apartemen baru ini, Kalyan tengah menata serapi mungkin rambut bahkan menyemprotkan parfum yang sudah ia beli melalui sekertarisnya tadi siang. Wajah tampan semakin terpancar dari wajahnya. Tak ada terlihat wajah lelah sama sekali.


"Diner yang sempurna ini. Bukan seperti malam itu."


Tangannya merapikan kemeja hitam dan segera membawa ponsel dan tas kerja yang ia bawa dari kantor. Selama mandi ia terus membayangkan akan pujian-pujian Adina padanya.


"Kal, kau sangat tampan."

__ADS_1


"Wah wangi juga, aku pikir hanya nabi yang keringatnya tidak berbau. Ternyata calon suamiku juga hehehe." Begitulah ucapan-ucapan yang receh Kalyan bayangkan dari sang pujaan.


"Apa-apaan aku ini? Sadarlah Kalyan gadis itu sangat kekanakan. Tapi...ah sudahlah."


Kaki panjang itu kini telah mendaratkan langkah terakhirnya di depan pintu apartemen miliknya yang lama. Tanpa mengetuk pintu ia langsung membuka seperti berpura-pura tidak tahu. Pertama yang ia dapatkan saat membuka pintu, aroma sedap masakan yang baru saja selesai di masak. Sungguh mengoyak perutnya yang sangat lapar.


"Dimana dia?" batinnya bertanya sembari menelisik setiap sudut kamar. Tak ada sosok yang ia dapati. Seketika suara gemericik air terdengar begitu jelas dari arah dalam kamar mandi.


Perlahan perlahan namun pasti, Kalyan melangkah masuk ke dalam kamar dan menuju ke kamar mandi.


Ingin membuka pintu kamar mandi, namun urung ia lakukan. Tiba-tiba suara memekik terdengar,  "Astaga!"


Teriakan Adina tak membuat tubuh Kalyan terperanjat sedikitpun dari duduknya di sisi tempat tidur.


Mata keduanya saling bertemu pandang.


Tampak jelas, tubuh putih mulus, berisi hanya berbalut handuk mini warna putih. "Mati aku!" jeritan batin begitu memilukan. Bukan Adina, melainkan Kalyan yang berusaha menormalkan hatinya yang tiba-tiba saja ada yang memberontak tak karuan.

__ADS_1


__ADS_2